ora et labora

mencari dengan hati . asa . doa

Sketsa hitam-putih November 9, 2010

Filed under: -asa-asa-keciLku- — askar @ 7:42 pm

 

Hanya ingin menulis, apa yang ingin kutulis

Tanpa berpikir

Hanya ingin menulis, apa yang mengganjal di pikiran, hati, dan perasaan

Tanpa berpikir

Membiarkannya terus berjalan

Tanpa berpikir

Tanpa peduli

Orang bilang, betapa sulitnya menuliskan apa yang diucapkan

Dan aku bilang betapa sulitnya mengucap apa yang kutuliskan

 

 

Sketsa satu

Buntu.

Aku butuh bahan lebih, referensi yang banyak. Arrgh sepertinya salah mengambil 25 sks semester ini. Tidak, tidak, tidak salah. Semuanya akan berjalan baik-baik saja Lit, percayalah. Sebentar lagi, dua minggu lagi UAS, dan itu artinya semua tugas yang seabrek-abrek ini akan berakhir.

Mengeluarkan vario-ku dan membawanya menuju warnet terdekat. Mulai membuka google, dan mengetikkan mekanisme percepatan fluida, di halaman lainnya mengetikkan konservasi aliran air sungai, peran pemerintah, dampak. Aku mulai membuka banyak tab, membukanya bergantian dengan akun twitterku.

Semuanya, selalu ..

Menuju pada satu nama

Dan aku benci.

Meminta bantuannya adalah alternatif terakhir setelah melihat referensi teman, jalan-jalan ke perpustakaan, dan bertanya mbah guru google.

Tiga jam tak terasa, mengintip akun pembayaran sembari mengintip dompetku ..

Uuuu, sudahlah aku menyerah.

Jam 9 malam, dan aku segera meninggalkan warnet.

Membuka, membaca, menimbang satu per satu hasil googling. Mengarang, menganalisis.. Satu tugas besar, usai sudah, segera mengirimnya ke email dosen sebelum jam 12 malam.

23.56 message send, yang penting sebelum 00.00 kan ..

Kopi hangat di tangan kanan, mie gelas di tangan kiri, dan mata ini masih memandang lesu tugas besar lainnya yang masih 50%. Bingung memulai, butuh pencerahan. Tugas individu, dan ga bisa diskusi, ga bisa tanya-tanya.

02.02

Matikan saja. Matikan saja. Stand by .. Si mata berteriak-teriak minta dikasihani

Anak-anak juga pada belum ngerjain. Si tangan menimpali.

No time! now or never! Sebuah bisikan yang entah darimana

Besok Rabu dikumpul paling telat jam 9 pagi. Mengayunkan tangan menuju buku kecil yang selalu setia mengorganisir aku yang berantakan

Selasa, 27

Pagià rapat

Pagi jam 10à kuliah (ga bisa bolos, karena kelas tetangga kemarin quis lisan)

Siang-soreà praktikum

Sore abis ashar à rapat, (ga bisa ijin, sapa yang mau tanggung jawab acara coba ..)

Sore abis maghrib à harusnya deadline modul 3, tapi ini bab 4 aja belum acc.. Kejar…!!

Sore abis jam 8 à sudah harus nyampe rumah, karena besok ada pre test modul 4, quiz Teknologi hidrogen dan fuel cell, quiz Termodinamika.

Dan itu berarti tak ada waktu seharian nanti buat ngerjain 50% tugas ini. So poor.

Mau ga mau, sepertinya aku harus sedikit minta bantuan. Pekewuh ga bikin maju. Biarlah ..

Melirik jam dinding, setengah tiga dini hari. Sopan ga ya, sms segini pagi ..

Assalamualaikum, maaf ganggu..

Pernah dapat materi tentang pengujian aerobic biofilter pada BOD dan COD ga,,

aku liat sepertinya ini masuk disiplin ilmu yang kamu pelajari.

Trimakasih banyak ya, aku butuh banget.

 

Send to : Alif

 

Lima menit, sepuluh menit tak ada satupun sms yang muncul di layar HPku. Humm, awas ya kalau sampai ga dibalas.. Aku tau banget kamu pasti ngerti. Aku mulai menggumam tak jelas. Kejenuhan membuatku kehilangan sisi-sisi kesopanan dan kesabaran.

Satu jam untuk tidur, bismillah ..

Usai Subuh, kembali kuraih HP, yes, sudah ada balasan dari Alif. Alhamdulillah

Sebuah penjelasan yang tidak singkat, dan padat, tapi tetap saja belum jelas kutangkap maksudnya.

Berjalan keluar halaman, menyapa bunga kamboja yang baru saja mekar, memainkan tetes embun yang masih dingin. Kutelpon Alif, sepuluh menitan berlalu dan tibalah di titik klimaks yang Alif tak bisa menjawab.

” Um, itu belum pernah diajarin. Gimana kalau nanti aku tanyakan ke teman yang di sub jurusan yang lain. Insya Allah bisa ..”

”Oke Alif, kutunggu ya. Makasih buat penjelasannya.”

Klik. Usai memutus percakapan, aku kembali memainkan ujung-ujung daun. Mengusap sepanjang tubuh daun tersebut, hingga tiap konsentrat airnya menyatu. Menyenangkan, membiarkan tetes-tetes air itu jatuh satu per satu. Ingin rasanya rebahan di teras satu jaman kalu tidak ingat jam 7 harus sudah sampai kampus.

Sms Alif : ” Udah aku tanyakan. Penjelasanku tadi udah bener kok. Hanya saja pakai yang empat langkah, bukan langsung tiga. Atau Lita mau komunikasi langsung dengan temenku? Nanti aku kasi nomor HP nya …”

Sms Lita : ”Boleh? Ya gapapa kalau gitu. Itu temennya cewe atau cowo Lif?”

Sms Alif : “ Cewe kok, sengaja aku cari yang cewe. J kalau cowo nanti takutnya Lita malah naksir dia, bisa aja kaan .. Namanya Iris, abis ini aku sendkan V-card nomornya. Kenalan sendiri ya, tadi aku udah crita sdikit tentang Lita.”

Sms Lita : “ Wah cewe ya.. padahal aku berharapnya cowo. =) Haha, engga kok.

Iris? Iris mata, temennya pupil itu? Oke deh ini udah masuk nomornya. Makasih ya Alif atas bantuannya.

 

Sketsa dua.

Iris, awal mulanya hanya sebatas sharing masalah kuliah. Iris, cewe yang baik menurutku. Ramah dan sangat pengertian pula. Menurutku, Iris punya kepribadian dan pemikiran yang hampir-hampir mirip denganku. Alhasil dalam satu minggu ini pembicaraan kami mulai mengarah ke mana-mana. Iris doyan banget diskusi.

Agenda tahunan HIMA yang padat merayap sama sekali tak memberiku celah untuk mandi dua kali, makan tiga kali, apalagi berkelana memikirkan yang tidak-tidak. Lantai dua untuk kuliah- Lantai satu ke sekre- Lantai tiga dan empat untuk praktikum-Musholla di kanan gedung-kantin di kiri gedung. Berputar di situ-situ saja.

Satu bulan sudah, UAS berakhir. Satu yang masih masih mengganggu pikirku..

Iris, dengan sms-smsnya yang rajin menyapaku.

Satu minggu pertama, aku masih amat rajin membalas smsnya. Pertama, ia brilian, dan nyambung banget diajak ngobrol. Kedua, aku masih merasa berhutang budi, Irislah yang membantuku mengerjakan tugas besar itu, dimana kontribusi nilainya mencapai 35%. Bahkan tugas-tugas yang lainnya, terkadang ia ikut mencarikan, mengirimnya ke emailku, menelponku. 10 kali lebih perhatian, 20 kali lebih memuaskanku dibanding Alif. Ketiga, beruntung sekali aku tak sengaja mengenal seorang Iris, teman sekelas Alif. Tidak main-main, temannya Alif! Waw, di saat selama ini Alif tidak memberikan peluang 1% pun untukku untuk mengenalnya. Dimana aku harus menjelajah sendiri dunianya, mencari tahu siapa saja teman-temannya, organisasinya, teman dekatnya, hobinya. Betapa bangganya, ketika aku mampu menyebutkan 32 nama teman sekelasnya, betapa bahagianya ketika aku mengetahui NIMnya, daftar mata kuliah yang diambilnya, nama dosennya, nama labnya, posisinya di kampus, semua dan semua.. Semua kegilaan yang ada padaku, aku maklumi. Karena terkadang cinta tak butuh alasan. Sekarang, Iris datang dengan sendirinya padaku,.menawarkan sebuah pertemanan yang royal. Lebih jauh, aku sangat menikmati apapun yang diceritakan Iris, meskipun sama sekali tak menyebut nama Alif, aku selalu berasumsi bahwa dunia kuliah Iris juga dunia kuliah Alif.

Satu minggu kedua, kegiatan HIMA benar-benar merebut perhatianku, sms-sms Iris mulai terabaikan tapi entah apa kepentingannya padaku ia begitu istiqomah untuk yang satu ini.

Satu minggu ketiga, UAS dimulai. Terkadang, aku masih sekali, dua kali membalas sms Iris. Ucapan terima kasih dan semangat untuknya. Perlakuannya padaku seperti perlakuan kakak mentor kepada adiknya, bahkan lebih. Terkadang ia secara tidak langsung mengingatkan padaku bahwa selama ini aku masih sangat kurang perhatian pada ’adik-adikku’.

Satu minggu keempat, aku mulai merasa ada yang aneh. Segala bentuk perhatian dari Iris, aku mulai mecoba mengartikan apa maksudnya. Mungkinkah dia sedang kesepian, dan butuh teman. Mungkinkah dia sedang dalam masalah besar dan dia ingin aku menjadi tempat curhatnya. Mungkinkah aku menjadi orang yang sangat nyaman untuknya. Atau mungkinkah…

Tidak, segera kutepis prasangka yang negatif ini. Tidak mungkin pake banget Alif ada affair dengan Iris. Tapi bisa saja jika yang terjadi adalah.. perasaan searah Iris untuk Alif . Ah, sudahlah. Terlalu jahat menuduh Iris yang sebaik itu tanpa bukti yang jelas.

 

Sketsa tiga.

”Lita udah makan belum? Banyak makan ya biar cepet sembuh…”

Belum ada lima menit, sms dari Iris sudah mendarat di HPku kembali. Tiga sms sekaligus. Ya Allah ..

”Lita, aku dengar dari Alif katanya kamu menang di lomba yang kita ikut kemarin. Wah, selamat ya Lit.. Ga crita-crita ke ak sih? Makan-makan lah ..:D”

”Lit, minggu depan Alif balik ke Salatiga. Kamu udah di Salatiga juga kan .. Rencananya aku mau ikut. Ntar kita ketemuan bertiga setuju gak?”

Yakin deh! Kalau Iris cowok, mungkin aku sudah marah dengan sadis. Sehari bisa sms 5-10 kali dengan pertanyaan yang paling bikin geregetan, seperti uda makan? Uda sholat? Lagi ngapain?

Emangnya aku bayi yang ia urus apa ..?

Sabar-sabar Lit, itu kan bentuk perhatian saudara yang menyayangi diri kita.. Berusaha kuseret semua pikiran-pikiran buruk menuju prasangka baik untuk menenangkan diri..

Well, dibalas saja..

”Alhamdulillah aku uda makan Ris .. sehari tiga kali. Sakit-sakit gini badanku juga malah naik 3 kg. Jadi kamu ga perlu mengkhawatirkan makanku..

Iya Alhamdulillah, makasiy Ris .. berkat doa kamu juga.

Humm, aku malah ga tau tuh kalau Alif mau balik ke Salatiga. Kita jarang hampir ga pernah smsan Ris ..”

Aku menghabiskan suapan terakhir dan segera beres-beses, sangat antusias mendatangi reuni bersama teman-teman ke Candi Gedong Songo. Akhirnya ..

Aku sangat menikmati kebersamaan dengan Nuansa, Fitri, dan Anis, sahabat SMA. Berempat menjelajahi Candi Gedong Songo yang jumlahnya tak lagi sembilan. Mengulang masa indah bersama.

Empat jam tak buka HP, pasti Iris uda sms banyak. Kubuka HP, dua sms saja.

Sms pertama, dari Iris, ”Insya Allah besok ak ke Salatiga, rencana nanti cari kost di dekat rumah Alif. Katanya disana ada kost yang masih kosong. Lita ada waktu luang jam berapa, buat ketemu?”

Sms kedua, masih dari Iris, ”Punya akun FB ga? Alamatnya apa Lit?”

Segera kubalas sms dari Iris dengan tetap meredam segala rasa penasaran yang ada.

”Iris mau di Salatiga mpe kapan? Pake cari kost sgala, nginep di rumahku ja kalo mau Ris ..

Aku gak ada akun FB .. kalau mau chattingan pake yahoo messenger aja.. ini alamatnya .. little_chan99”yahoo.com

Aku juga punyanya twitter

Ohya, besok berangkat bareng Alif berdua ya?”

Belum ada satu menit dan HP ku udah bunyi lagi, cepat sekali balasnya ..

”Hmm .. Apa gak ngrepotin Lit.. ga enak lah sama keluarga Lita. Lagipula kita belum kenal lama.

Oh oke lah ini kebetulan aku lagi on line. Coba aku add ya akun ym nya…

Twitter aku juga punya Lit, aku follow sekalian yah..

Besok kita berempat kok Lit, emang napa kalo berdua, ga boleh yah? Hehe ..”

Sepertinya memang bener-bener perlu diselidiki.. Jantung ini terasa berdetak lebih cepat. Benarkah Iris ..?

 

unfortunately, amnesiaku kumat, lupa lanjutan ceritanya

-bersambung dulu saja-

 

 

 

2 Responses to “Sketsa hitam-putih”

  1. an Says:

    =D
    kangen…
    seusai lama g baca cerpen mb Asma…

    lanjutkan, sist….
    penasaran ma ceritanya….

  2. an Says:

    =D
    lanjutkan, sist


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s