ora et labora

mencari dengan hati . asa . doa

MMH (Material Handling Production) July 24, 2010

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 7:29 pm

Ongkos Material Handling

Di dalam merancang tata letak pabrik, maka aktivitas pemindahan bahan merupakan salah satu factor yang cukup penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan. Aktivitas pemindahan tersebut dapat ditentukan dengan terlebih dahulu memperhatikan aliran bahan yang terjadi dalam suatu operasi. Selanjutnya hal yang harus diperhatikan adalah tipe layout yang akan digunakan.

Beberapa aktivitas pemindahan bahan yang perlu diperhitungkan adalah sebagai berikut:

  • Pemindahan bahan dari gudang bahan baku menuju departemen fabrikasi maupun departemen assembling.
  • Pemindahan bahan yang terjadi di proses satu jenis mesin menuju satu jenis mesin yang lainnya.
  • Pemindahan bahan dari departemen assembling menuju gudang barang jadi.

Setelah diketahui aktivitas-aktivitas pemindahan yang terjadi, maka selanjutnya dapat dihitung ongkos material handling yang terjadi akibat aktivitas-aktivitas yang ada tersebut. Beberapa factor yang mempengaruhi perhitungan ongkos material handling adalah sebagai berikut:

Alat yang digunakan

Dalam menentukan alat angkut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Berat material disesuaikan dengan daya angkut maksimal alat tersebut
  • Bentuk dan jenis material serta ukuran luasnya disesuaikan dengan daya tampung alat angkut
  • Sifat material, dimana harus diperhatikan kemungkinan menggunakan alat angkut khusus

Setelah ditentukan alat angkut yang akan digunakan, maka selanjutnya dapat ditentukan ongkos alat angkut berdasarkan jarak tempuh (meter gerakan)

Jarak pengangkutan

Perhitungan OMH ini merupakan perhitungan tahap pertama, karena akan dilakukan perhitungan OMH yang merupakan revisi dari perhitungan tahap pertama. Pada perhitungan tahap pertama ini, jarak antara kelompok mesin atau departemen yang mengalami aktivitas pengangkutan diasumsikan berdampingan. Selain itu untuk mengoptimalkan jarak antar aktivitas tersebut, maka kelompok mesin departemen untuk sementara diasumsikan berbentuk bujursangkar.

Cara pengangkutan

Berdasarkan hasil perhitungan terdahulu (OPC, Routing Sheet, dan MPPC), maka dapat ditentukan cara pengangkutan yang akan dilakukan. Pada dasarnya setelah ditentukan alat angkut serta jarak untuk setiap pengangkutan, maka OMH dapat diketahui, dimana:

Total OMH = (ongkos alat angkut/meter gerakan)x (jarak tempuh pengangkutan)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan cara pengangkutan adalah sebagai berikut:

  • Telusuri OPC sejak proses yang paling awal, kemudian dapat ditentukan urutan proses pengangkutan dari …… ke ……
  • Isi kolom dari, maka sebelum mengisi yang berikutnya terlebih dahulu diisi kolom ke yang merupakan kelompok tujuan, sesuai aliran yang terjadi.
  • Dalam mengisi kolom ke yang merupakan daerah tujuan pengangkutan sebelum mencantumkan aktivitas lainnya, maka aktivitas pertama harus sudah selesai mencantumkan semua material yang akan diterima dari sumber (kolom dari) yang diuraikan dalam kolom (3) untuk nama komponen serta kolom (4) untuk bentuk materialnya. Dari hal-hal tersebut di atas, maka dapat digambarkan mengenai cara pengangkutan tersebut, yaitu: setiap pengangkutan dilakukan dari sumber yang sama mengangkut beberapa bahan menuju tujuan yang sama, kemudian dari sumber yang sama menuju tujuan lainnya. Demikian selanjutnya untuk sumber-sumber pengangkutan berikutnya.
Dari Ke Nama

Komponen

Produk/Jam Berat Bentuk Berat Total Alat Angkut OMH

(Rp/m/gherakan)

Jarak Total Ongkos

From to Chart

FTC merupakan penggambaran tentang berapa total OMH dari suatu bagian aktivitas dalam pabrik menuju aktivitas pabrik lainnya. Sehingga dari peta ini dapat dilihat total OMH secara keseluruhan, mulai dari gudang bahan baku menuju fabrikasi, assembling, sampai terakhir menuju gudang barang jadi.

Cara pengisian FTC adalah sebagai berikut:

  • Perhatikan total ongkos dari tabel OMH, kemudian masukkan nilai total ongkos tersebut disesuaikan dengan pengangkutan bahan dari satu tempat ke tempat lainnya.
  • Jumlah total ongkos setiap baris dan setiap kolom juga total ongkos secara keseluruhan.

Inflow n Outflow

Outflow digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang keluar dari suatu departemen ke departemen lainnya.

Inflow digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang masuk ke suatu departemen dari departemen lainnya.

Referensi perhitungan outflow dan inflow yaitu dari OMH dan FTC, yaitu ongkos yang dibutuhkan untuk material handling dari suatu mesin ke mesin lainnya, dan sebaliknya.

Tabel Skala Prioritas (TSP)

TSP adalah suatu tabel yang menggambarkan urutan prioritas antara departemen/mesin dalam suatu lintas/layout produksi. Referensi TSP didapat dari perhitungan Outflow-Inflow, dimana prioritas diurutkan berdasarkan harga koefisien ongkosnya.

Tujuan pembuatan TSP antara lain adalah:

  • Untuk meminimumkan ongkos
  • Untuk memperkecil jarak handling
  • Untuk mengoptimalkan layout

Activity Relationship Diagram (ARD)

ARD adalah diagram hubungan antar aktivitas (departemen/mesin) berdasarkan tingkat prioritas kedekatan, sehingga diharapkan ongkos handling minimum. Dasar untuk membuat ARD adalah TSP, jadi yang menempati prioritas pertama pada TSP harus didekatkan letaknya lalu diikuti prioritas berikutnya. Area pada ARD diasumsikan sama, baru pada revisi disesuaikan berdasarkan ARD ini dan areanya sesuai dengan luas dari masing-masing aktivitas yang diperkecil dengan skala tertentu.

Revisi OMH-ARD

Setelah ARD pertama disusun maka terjadi perubahan jarak antara satu mesin dengan mesin lainnya. Perubahan jarak tersebut karena pada perhitungan OMH pertama, jarak antar kelompok mesin diasumsikan berdampingan. Hal ini dilakukan agar mempermudah dalam penyusunan ARD pertama. Agar layout yang disusun mendekati kenyataan, maka tahap berikutnya adalah merevisi OMH pertama.

Langkah-langkahnya sama dengan langkah-langkah perhitungan OMH pertama, yang membedakannya adalah jarak pada OMH pertama diasumsikan berdampingan sedangkan pada OMH kedua jarak yang digunakan adalah yang sesuai dengan penempatan kelompok mesin pada ARD pertama. Jarak yang diambil adalah jarak yang paling minimum dari beberapa alternatif jarak yang terjadi. Untuk selanjutnya, lakukan revisi FTC sampai dengan dengan revisi ARD.

ARC, WORK SHEET, AAD, DAN TEMPLATE

ACTIVITY RELATIONSHIP CHART (ARC)

Dalam industri manufaktur pada umumnya terdapat sejumlah kegiatan atau aktivitas yang menunjang jalannya suatu industri. Setiap kegiatan atau aktivitas tersebut saling berhubungan (berinteraksi) antar satu dengan yang lainnya, dan yang paling penting diketahui bahwa setiap kegiatan tersebut membutuhkan tempat (space) untuk melaksanakannya. Kegiatan atau aktivitas tersebut di atas dapat berupa aktivitas produksi, administrasi, assembling, inventory, dan sebagainya.

Sebagaimana diketahui bahwa setiap kegiatan atau aktivitas tersebut saling berhubungan antar satu dengan yang lainnya ditinjau dari beberapa criteria, maka dalam perencanaan tata letak fasilitas harus dilakukan penganalisaan yang optimal. Teknik yang digunakan sebagai alat untuk menganalisa hubungan antar aktivitas yang ada adalah ARC

No. Tingkat Kepentingan Kode Warna
1 Mutlak Penting A Merah
2 Penting Tertentu E Kuning
3 Penting I Hijau
4 Biasa O Biru
5 Tidak Penting U Putih
6 Tidak Diinginkan X Coklat

Sedangkan alasan untuk menyatakan tingkat kepentingan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menggunakan catatan yang sama
  2. Menggunakan personil yang sama
  3. Menggunakan ruang yang sama
  4. Tingkat hubungan personil
  5. Tingkat hubungan kertas kerja
  6. Urutan aliran kertas
  7. Melakukan aliran kerja yang sama
  8. menggunakan peralatan dan fasilitas yang sama
  9. Ribut, kotor, getaran, debu, dan sebagainya
  10. Lain-lain yang mungkin perlu.

Dengan diketahuinya keterangan di atas, maka penganalisaan dilakukan dengan menggunakan peta hubungan aktivitas.

WORK SHEET

Untuk mempermudah penganalisaan selanjutnya, maka hubungan antar aktivitas tersebut dikonversikan ke dalam lembar kerja

Sementara peta keterkaitan kegiatan (ARC) berguna untuk perencanaan dan penganalisaan keterkaitan kegiatan, informasi yang dihasilkan hanya berguna jika diolah ke dalam satu diagram. Inilah tujuan dari diagram keterkaitan kegiatan yang menjadi dasar perencanaan keterkaitan antara pola aliran barang dan lokasi kegiatan pelayanan dihubungkan dengan kegiatan produksi. Diagram keterkaitan kegiatan dalam kenyataannya merupakan balok yang menunjukkan pendekatan keterkaitan kegiatan, yang menunjukkan setiap kegiatan sebagai satu model kegiatan tunggal.

Tabel 4.14. Worksheet

Kode Derajat
A E I O U X
R A F B, C, D, E, G, H, I, J, K, L, M
A B, R F, G C, D, E, H, I, J, K, L, M
B A, C, E F G, H R, D, I, J, K, L, M
C B F, G R, A, D, E, H, I, J, K, L, M
D F G R, A, B, C, E, H, I, J, K, L, M
E B F R, A, C, D, G, H, I, J, K, L, M
F D B G R, A, C, E H, I, J, K, L, M
G H F A, B, C, D R, E, L, M I, J, K
H G, I B R, A, C, D, E, F, J, K, L, M
I H J R, A, B, C, D, E, F, K, L G, M
J K L I R, A, B, C, D, E, F, H G, M
K J L R, A, B, C, D, E, F, G, H, I, M
L J, K R, A, B, C, D, E, F, H, I G, M
M J R, A, B, C, D, E, F, G, H, K I, L

AREA ALLOCATION DIAGRAM

AAD merupakan lanjutan dari ARC, dimana dalam ARC telah diketahui kesimpulan tingkat kepentingan antar aktivitas, dengan demikian berarti bahwa ada sebagian aktivitas harus dekat dengan aktivitas lainnya dan ada juga yang sebaliknya. Atau dapat dikatakan bahwa hubungan antar aktivitas mempengaruhi tingkat kedekatan antar tata letak aktivitas tersebut. Kedekatan tata letak aktivitas tersebut ditentukan dalam bentuk AAD. Adapun dasar pertimbangan dalam prosedur pengalokasian artea ini adalah:

  • Production Flow , material, peralatan
  • ARC, informasi aliran, aliran personil, hubungan fisik
  • Tempat yang dibutuhkan
  • AAD

AAD merupakan template secara global, informasi yang dapat dilihat hanya pemanfaatan area saja, sedangkan gambar visualisasi secara lengkap dapat dilihat pada template yang merupakan hasil akhir dari penganalisaan dan perencanaan tata letak fasilitas dan pemindahan bahan.

TEMPLATE

Merupakan suatu gambaran yang lebih jelas dari tata letak pabrik yang akan dibuat dan merupakan gambaran detail dari AAD yang telah dibuat. Informasi yang dapat dilihat pada template antara lain adalah:

  1. Tata letak kantor dan peralatannya
  2. Tata letak pelayanan yang ada di pabrik
  3. Tata letak bagian produksi
  4. Aliran setiap material, mulai dari receiving sampai shipping
  5. Distribusi material terhadap setiap mesin sesuai dengan jumlah mesin yang dibituhkan.

Jika luas tanah yang tersedia dibatasi atau terbatas, maka sebagai pemecahan dari masalah tersebut adalah dengan mengefisienkan luas tanah yang tersedia untuk penempatan fasilitas, produksi, dan perkantoran.

Adanya pemisahan lantai antara bagian perkantoran dengan bagian produksi merupakan jalan keluar yang terbaik, yaitu dengan mengikuti syarat-syarat sebagai berikut:

  • Untuk Template dengan satu lantai

Penempatan tata letak fasilitas antara bagian produksi, pelayanan dan perkantoran ditempatkan dalam satu lantai jika luas lahan tersedia

  • Untuk template dengan dua lantai atau lebih

Penempatan tata letak fasilitas antara bagian produksi, pelayanan dan perkantoran mengalami pemisahan tata letak. Biasanya untuk bagian produksi ditempatkan pada lantai pertama, untuk memudahkan handling dari material maupun loading dari container ke receiving dan dari shipping ke container.

 

One Response to “MMH (Material Handling Production)”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s