ora et labora

mencari dengan hati . asa . doa

bLack notes July 20, 2010

Filed under: -asa-asa-keciLku- — askar @ 9:47 am
Tags: , ,

Sunday, 02.00 a.m

Hari ini aku membuat catatan keciL, setelah lama tak kulakukan

Entah aku harus tersenyum atau menagis, selalu ada sedikit pertentangan menyusup, dan kebahagiaankulah membuatnya lebih dalam, lebih rumit, complicated.

Mungkinkah ini musibah berbalut kebahagiaan , dan aku belum jua menyadarinya

Allah berilah aku kesetiaan pada yang haq, kecintaan pada yang benar, dan kebencian pada kemaksiatan.

Ketika mereka berjuang untuk yang terbaik, aku berani bermain-main,

Suatu saat aku mencoba mengunjungi seorang kakak, sahabat lama, psikiater.

“Aku selalu bahagia dalam kesedihan, menyiksa diri, menangis tak jelas, dan tertawa tak jelas. Aku bias membuat hidupku sukses kalau aku ingin, namun aku lebih suka menghancurkan hidupku sendiri.”

Ia berkomentar a-z namun tak satupun kata ku mengerti,

Entah ia yang mengutarakan terlalu tingkat tinggi atau aku yang sulit mengerti dan dimengerti.

Aku mencoba memperjelas kepadanya,

“Aku sering mengalami de javu. Banyak keadaan yang telah kubayangkan sebelumnya terjadi baik dalam mimpi maupun hanya alam pikir. Sayangnya, aku hobi bercinta dengan kesedihan, membuat diriku menangis dan menjadi pesakitan. Aku sering sekali tiba-tiba tersadar,seperti ada yang keluar dari tubuhku, dan itu terjadi dalam sadarku. Apakah itu aneh?”

Kakak itu menyeruput teh hangatnya,”Tak ada yang aneh, pertanyaanmu yang aneh. Terkadang orang merasa dirinya aneh hanya karena lingkungannya yang tak lazim atas kehidupannya.”

Untung aku ga jadi masuk psikologi. Kamu juga aneh Kak-batinku.

Episode 2

Aku rindu dia

Aku membuat list ’what must to to’ dalam diary kecil. Benda kesayangan yang membuat orang mau muntah ketika membacanya, berisi penuh coretan yang hanya aku yang mengerti.

–         06.30 à rapat (tapi udah ijin telat 07.15)

–         08.00 à melayani asistensi

–         10.00 à jaga pretest

–         10.25à kuliah

–         12.30 à ishoma

–         13.00 à ketemu teman bt ngasi undangan, ambil uang infaq, ngasi data

–         13.30 à kuliah lagi

–         15.00 à konsultasi KP

–         16.00 à pretest

–         18.00 à buat nilai pretest

Semuanya, hanya terlaksana hingga jam 10.00. Berawal dari sebuah sms dari sahabat SD

—–Temui aku di depan SMA 4 hari ini jam 11.00 . penting . Putri Adinda ——

Rava namanya. Aku kagum. Dia selalu menjadi point of interest, dan aku bangga menjadi teman dekatnya. Di usianya yang 10 tahun, dia telah menolak 6 cowok (tapi bukan karena ini aku kagum). Dia memang bukan pemegang ranking 1, tapi ia mampu menjawab semua pertanyaanku, dan cerdas bagiku adalah bijaksana dan mampu menyelesaikan semua masalah tanpa membuat masalah baru.

“Besok setelah lulus SD, aku mau masuk pondok, menghafal Al Qur’an, setelahnya aku ingin membuat bisnis pernak-pernik seperti apa yang aku pernah perlihatkan. Dan cita-cita yang harus kucapai adalah menumjukkan jalan islam pada ayahku.”

Setelah kupikir saat ini, kalimah yang hebat. Kalimat seorang anak kelas 5 SD dimana saat itu membayangkan pelajaran kelas 6 SD saja aku belum mampu.

Satu momen yang masih terekam nyata dalam memoriku, satu saat di pojok kelas baris nomor 3, ketika seorang guru menghampiriku.

“Nak, kalau Senin dan Selasa pakai kerudung juga ya”  (Senin dan Selasa bukan hari wajib memakai kerudung di Sdku)

Aku hanya tersenyum, gerah banget bu, batinku

Dia merapatkan kursinya ke arahku. Hinnga lengannya menyentuh sikuku, aku mampu melihat sinar mata jernihnya, hanya 10 cm dari wajahku.

”Kamu aneh. Kamu tak segera sholat padahal aku harus menunggu berjam-jam sampai semua sudah tidur, jika aku ingin sholat. Kamu aneh. Kamu tidak mau pake kerudung padahal aku sangat ingin, namun tak bisa karena kakak selalu mengancamku akan memindahkan sekolah. Kamu aneh. Aku liat tadi pagi kamu nyontek padahal kemarin pak guru baru saja bilang bahwa Allah selalu mengawasi kita.”

Sungguh deretan kalimat yang sadis bagi orang Solo yang terbiasa dengan basa-basi, bahasa yang sopan, lemah, lembut, dan… lama (hehe..intermezo)

Dua hal yang ingin kuanalisai saat ini

  1. Darimana ia dapatkan kalimat seperti itu, saat keluarganya tak mengenalkan sholat, apalagi kewajiban mengenakan jilbab kepadanya.
  2. Bagaimana ia bisa seteguh itu, sat yang ia lihat setiap harinya adalah pertengkaran, keributan, ketidakutuhan keluarga, semua serba berantakan.

Hingga detik sebelum aku bertemu dengannya di dunia jejaring maya, aku membuat asumsi

’Lingkunganlah yang memang membentuk kita, namun tak selamanya lingkungan tidak kondusif akan merusak seseorang. Ketika seseorang mampu menjadikan batu loncatan, layaknya sebuah baja, semakin lama ia ditempa, semakin kuat.’

9.5 tahun tak bersua, terakhir aku menemukannya di Fb dua bulan lalu, dengan kondisi yang cukup menghancurkan hatiku, bukan Ravaku yang dulu. Di profile picturenya hanya 40% tubuhnya yang berbalut kain. Entah kemana Ravaku pergi.

11.10 @Depan SMA 4, berlarian mencari Putri Adinda

“Maaf Putri, sudah menungguku lama?”

“Sudah dengar berita Rava? Meninggal tadi pagi dan kudengar pemakamannya tidak secara islami. Bantu aku bicara pada ayahnya. Dulu kan kamu sering ke rumah Rava, pasti sedikit mengenal ayahnya kan?”

Belum sempat aku hapus air mata ini, dan Putri sudah menyeretku ke rumah Rava.

Rava biarlah ini menjadi bentuk cintaku yang terakhir, ketika dulu terakhir perpisahan kelas kamu menghapus air mataku, berjanji akan menggantikan posisi itu, yang telah mengambil semangatku.

Kutulis dengan tulisan paling indah di buku diary kecilku

1Desember—the day she went away.

Aku membuat asumsi baru, lingkungan akan selalu membentukmu, kamu bisa saja tiba-tiba menjadi baik, tibatiba menjadi liar karena lingkunganmu. Dan jangan jengah ketika aku selalu menanyakan siapa teman2mu, apa kegiatanmu, seperti apa teman2mu, masihkah kau rutin mengaji, masihkah kau menjaga sholatmu, karena aku sayang dan tak mau kehilangan. Dunia saat ini begitu tipis perbedaan antara yang bai, dan yang buruk. Sungguh aku tak ingin kebaikan sirna dari diri kita masing2.

Duhai Pemiliknya waktu, sempurnakanlah hidup kami dengan akhir yang baik.

Amiin

Episode 3

6 Desember 09 dan seminggu kedepan

Sepulang dari mubes, aku sangat lelah. Sesampai di rumah aku langsung memeluk bantal dan berangkat tidur. Paginya bangun dengan kondisi cukup fit untuk menghadapi ativitas melelahkan di hari Senin.

Entah mengapa, pagi yang kuawali dengan sangat baik -bangun pagi, sholat lail, sholat duha, baca Al matsurat dulu, berangkat tidak terlambat-  berjalan dengan sangat tidak baik. Berawal dari kekecewaan kecil yang berderet panjang, peristiwa melelahkan batin dan membuat emosi.

Kacau balau, amat sangat

Aku menjai cepat lelah, cepat sakit akhir2 ini,

Disoriented

Kacau balau, amat sangat

Aku kecewa dan tak dapat menyembunyikannya. Namun aku tak mau semua lebih hancur, segera menarik diri dari peredaran massa dan berharap dapat menenangkan diri di rumah.

11 Des 09 8.30 p.m

Setelah hampir menabrak tiga motor (dan tentu saja mereka mengata-ngataiku), tidur di lampu merah, (benar-benar) menabrak trotoar, aku memarkirkan motor di warung shi jack (tulisannya bener ga niy), memesan segelas susu coklat panas dan nasi kucing.

Menunggu pesanan, aku memutar ulang rekaman kejadian satu jam lalu. Seharusnya, aku sudah tiba di rumah saat ini kalau saja ga pake acara nyasar di daerah Nusukan dan muter-muter satu jam lebih. Mencoba bertanya di kantor pos polisi dan mereka malah tertawa, anak Solo bukan sih mba, udah brapa tahun tinggal di Solo mba?

Oh sial, apakah mereka tidak melihat wajahku yang sudah pucat pasi ingin nangis ini? Mungkin perlu kutambahkan ke dalam target : Menghafal Jalan Solo.

Susu panas datang, nasi kucing sangat menggugah selera. Setelah menghabiskannya, dan yakin kantukku telah hilang, aku melanjutkann perjalanan yang tinggal 2km.

15 Des 09

Kutunggu balasan tapi tak kunjung datang,,

Kutunggu p’tabayunan tapi kutemukan hanyalah kosong

Kutunggu konfirmasi tapi kutemukan hanyalah hampa

Kutunggu kepastian tapi tak kau tampakkan asa

Hanya bisa ikuti permainanmu

Entah melaju kemana

Dan jika kulelah

Jangan salahkan jika nantinya kau temukan separuh hati itu telah termutilasi

Sungguh kesabaran ini ada batasnya

Sungguh pengertian ini ada ujungnya

Dan sungguh rasa percaya ini ada klimaksnya

Menuju beban maksimum

kemudian grafik itu merengkuh datar

merelakan semua yang bukan hakku

tapi sangat menyayangkan apa yang telah kita bangun

bertahan dalam puing yang rapuh

tidak bisa hanya diam meskipun itu akan melanggar hak paling privasi dalam hidupmu

tak ingin mengintervensi wilayah kekuasaan Allah

dan biarkan waktu saja yang kemudian memberi aksi reaksi terhadap apa yang akan terjadi pada akhir kisah kita .

Allah is enough for me

Allah ma’ana

[bersambung]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s