ora et labora

mencari dengan hati . asa . doa

Memperbaiki Sistem Pendidikan dengan Mengadopsi Nilai-Nilai Islam untuk Menuju Masyarakat Madani May 30, 2010

Filed under: no one can'T stop isLamic movement — askar @ 3:31 pm
Tags: , ,

Pendidikan merupakan salah satu kunci keberhasilan umat muslim di dunia dan di akhirat. Manusia diciptakan di bumi untuk beribadah kepada Allah (Adz Dzariyaat: 56) dan menjadi khalifah di bumi. Untuk menjalankan tugas tersebut, manusia memerlukan ilmu di samping iman yang dapat diperoleh melalui pendidikan. Pada zaman Rasulullah, pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menuju umat terbaik. Pendidikan akan mengantarkan manusia menuju ilmu yang dapat menghilangkan kebodohan dan penghalang menuju cahaya Islam. Selain itu Allah juga menjanjikan derajat yang lebih tinggi bagi orang yang beriman dan berilmu. “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujaadilah:11). Dalam ayat tersebut jelas bahwa iman saja tidak cukup, namun diperlukan ilmu yang dapat mendukung manusia menuju ketakwaan dalam ibadah kepada Allah.

Tujuan pendidikan yaitu untuk membentuk nilai diri manusia sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kepribadian, moralitas, dan ketrampilan. Dengan pendidikan diharapkan tercapai adanya penyampaian nilai dan ilmu sehingga tercipta keseimbangan ilmu dan amal yaitu manusia tidak hanya cerdas tapi juga bagus akhlaknya. Terdapat hubungan antara misi Islam dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan tidak akan tercapai tanpa misi islam. Islam merupakan agama yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya sangat solutif terhadap permasalahan pendidikan.

Pendidikan Islam mencakup totalitas tiga aspek kehidupan yaitu ruhiyah (ruh), fikriyah (pemahaman,otak), dan amaliyah (amal, jasad) yang dilaksanakan secara bertahap di seluruh bidang kehidupan. Pendidikan Islam bersumber dari Al Qur’an sebagai pedoman manusia untuk menyelamatkan dirinya di dunia maupun akhirat. Seluruh ajaran Islam sangat konkret, bukan sekedar konsep, dan jelas mana yang haq dan yang batil sehingga dapat memecahkan masalah-masalah secara konkret. Dalam Qur’an Surat Al Jumuah ayat 2, Allah berfirman, “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. Islam merupakan agama yang universal, rahmad bagi seluruh alam, dan relevan di segala zaman. Itu artinya, konsep-konsep Islam dapat digunakan hingga kapan pun dan oleh siapa pun. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, semakin membuktikan mukjizat Al Qur’an itu sendiri.

Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, terkadang hati kita teriris. Betapa tidak, fakta yang ada menunjukkan bahwa dalam pengetahuan, teknologi dan pendidikan, Indonesia termasuk terbelakang. Padahal kita tahu mayoritas penduduk Indonesia adalah umat muslim. Berdasarkan laporan United Nations Development Programme (UNDP) pada Human Development Report 2005 ternyata Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara di dunia. Berbagai data perbandingan antar negara yang diterbitkan oleh UNESCO dan Bank Dunia menempatkan Indonesia yang terendah dalam hal pembiayaan pendidikan (www.undp.or.id). Kemudian timbul pertanyaan bagaimana umat Islam akan memperoleh kejayaan kembali jika kualitas pendidikan dan jumlah ahli (master), yang merupakan salah satu faktor memperoleh kemenangan kembali, masih rendah. Oleh karena itu, kita sebagai anak bangsa perlu terus mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan yang akan menunjang kualitas kehidupan.

Menurut UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan mengkaji arti pendidikan tersebut, kita menemukan beberapa kata kunci yaitu pembelajaran, aktif, spiritual keagamaan, kepribadian, akhlaq, dan ketrampilan. Jika undang-undang yang telah dibuat tersebut dapat diimplementasikan ke dalam kebijakan pengajaran dan pendidikan di Indonesia seharusnya mampu membuat Indonesia bersaing di dunia global. Terlebih jika kita dapat mengkolaborasikan dengan konsep-konsep pendidikan islami. Sayangnya, menilik kenyataan program dan sistem pendidikan saat ini masih jauh dari nilai-nilai dalam Islam dan undang-undang tersebut. Memang ada beberapa institusi pendidikan yang berani mengembangkan sistem pendidikan yang kompetitif, namun secara umum belum tercipta kebijakan dan sistem mendasar nasional yang mendukung pendidikan islami yang modern.

Untuk mewujudkan sistem pendidikan Islami yang berkualitas, kita perlu mengidentifikasi masalah-masalah yang selama ini mengiringi perkembangan pendidikan di Indonesia dan kemudian mencari solusinya. Berikut merupakan pemaparan usulan perbaikan dan fenomena pendidikan di Indonesia. Pertama, menanamkan nilai-nilai Islam di dalam setiap jenjang pendidikan termasuk pendidikan dalam keluarga di rumah yang akan membentuk karakter kehidupan sehari-hari. Ilmu dalam Islam merupakan paket lengkap yang mengatur segala sisi kehidupan manusia. Standar terlengkap yang memberi keamanan dan naungan jauh lebih baik dibanding segala standar yang ada. Islam mengatur dari ilmu syariah yang bersifat wajib ‘ain, ilmu umum yang diperlukan dalam rangka melaksanakan tugas sebagai khilafah dan bersifat fardhu kifayah, ilmu yang berhubungan dengan sesama manusia seperti perdagangan, warisan silaturahim, hubungan dengan orang kafir, hukum, hingga cara-cara teknis seperti adab bertamu, adab memasuki kamar orang tua, dan cara bersuci.

Kedua, pengimplementasian nilai-nilai Islam ke dalam pendidikan di Indonesia disesuaikan dengan budaya dan karakter bangsa Indonesia. Indonesia merupakan negara yang tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri, masyarakatnya dapat menerima yang bersifat tengah-tengah. Budaya ada yang bisa diadopsi dan ada yang tidak bisa diadopsi. Budaya yang tidak bisa diadopsi yaitu budaya yang bertentangan dengan Al Qur’an dan mengarah pada kesyirikan. Contoh budaya pada masyarakat musyrik Quraisy yang diadopsi adalah ibadah tawaf, namun budaya ini telah dimodifikasi karena budaya aslinya mereka bertelanjang. Karakter bangasa Indonesia yang lain adalah gotong royong dan berbuat baik kepada orang lain, Budaya ini sangat sesuai dengan perintah Islam untuk senantiasa berjamaah.

Ketiga, mengacu pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1, pendidikan Islami sebaiknya lebih mengarah pada sistem pembelajaran bukan hanya pengajaran. Pada sistem pembelajaran, pendidik membiarkan muridnya beraksi pada obyek pelajaran sehingga mereka lebih kritis mengemukakan pertanyaan dan pendapat. Keempat, pengorganisasian yang mengarah pada minat dan bakat. Saat ini, penjurusan baru berada pada kelas dua atau tiga SMU. Sebelumnya, murid dipaksa untuk mempelajari banyak hal bahkan hal-hal yang kurang mereka minati dan bukan pelajaran dasar. Seringkali mereka dikatakan bodoh karena tidak naik kelas atau mendapat nilai merah pada pelajaran tertentu. Kenyataannya, mereka mungkin bukan bodoh tapi memang tidak menguasai bidang tertentu tapi sebenarnya mereka sangat berbakat pada bidang lainnya.

Kelima, orang tua harus menyadari pentingnya pola pendidikan untuk anak-anak mereka. Sebaiknya, anak-anak usia TK dan SD diberikan tahfidz (mengahafal Al Qur’an) karena anak-anak usia mereka akan sangat cepat menyerap sesuatu. Pada usia remaja, SMP dan SMU sebaiknya mereka diberi pelajaran yang dominan mengenai ilmu syariah sebagai pembentukan dasar ibadah yang benar. Sekolah yang tepat adalah pondok meskipun tidak menutup kemungkinan sekolah umum yang terjaga lingkungannya dengan tetap memberi asupan materi tentang ilmu syariah secara non formal.

Keenam, proses pendidikan yang bertahap dan terintegrasi antar semua aspek kehidupan dan berinteraksi dengan lingkungan. Integritas aspek di sini maksudnya dengan memperhatikan keluhuran moral serta iman dan takwa. Kita ketahui bersama, syarat kelulusan sekolah baik SD, SMP, maupun SMU adalah pada UAN yang hanya tiga hari, enam mata pelajaran, dan itupun masih banyak ditemukan kecurangan di sana sini. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar kita masih beorientasi pada nilai kuantitatif, sedangkan nilai kualitatif dan keutamaan moral kurang ditekankan. Pelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan hanya sebatas teori, akibatnya dapat dilihat dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan setelah murid lepas dari pendidikan. Tingginya tingkat korupsi dan pelanggaran hukum merupakan salah satu indikasi tidak adanya penekanan moral pada pendidikan. Kurikulum masih terlalu normatif.

Ketujuh, pemerintah sebaiknya memberikan perhatian khusus pada kualitas pendidik dan perhargaan untuk ilmuwan. Jumlah ahli dan pendidik di Indonesia masih kalah jauh dengan negara-negara berpenduduk Yahudi dan Nasrani. Jika kita mengintip passing grade pada SPMB, kita akan menemukan bahwa  passing grade untuk jurusan-jurusan Fakultas Keguruan masih di bawah jurusan Kedokteran, Teknik, atau Komunikasi. Biasanya, passing grade yang cukup tinggi hanya pada jurusan Pendidikan Matematika atau Bahasa Inggris. Ini merupakan salah satu indikasi kurangnya kualitas pendidik meskipun passing grade bukan satu-satunya faktor yang dapat menggambarkan kualitas. Penghargaan untuk guru dan ilmuwan pun masih sangat minim. Gaji guru tidak ada apa-apanya dibanding gaji pejabat pemerintahan,  penghargaan untuk lomba-lomba ilmiah, riset ilmiah dan teknologi pun masih lebih rendah di banding lomba menyanyi, modelling. Akibatnya banyak pendidik dan ilmuwan yang justru mengabdikan ilmunya untuk negara lain. Contohnya, hampir 300 dosen dan peneliti asal Indonesia mengabdikan keilmuannya di Malaysia (www.detiknews.com, 8 Mei 2010) dan masih banyak contoh yang membuat prihatin.

Kedelapan, saat ini fungsi pendidikan masih bias dan setengah-setengah sehingga lembaga-lembaga pendidikan perlu mengadakan re-design pada kurikulumnya. Perlu ada totalitas dalam suatu sistem pendidikan apakah mereka akan berfokus pada ilmu-ilmu agama yang akan melahirkan ulama, ataukah berfokus pada ilmu-ilmu umum dengan penerapan konsep-konsep Islami pada bidang-bidang tertentu.

Kesembilan, sistem pendidikan yang masih labil. Seringkali kurikulum berganti-ganti sehingga murid merasa menjadi kelinci percobaan. Disini, perlu ada sebuah sistem yang kuat untuk pendidikan. Terakhir, masalah klasik yang sebenarnya sangat penting yaitu dana. Bidang pendidikan yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa sudah selayaknya mendapat porsi lebih.

Kita sering mendengar istilah civil society atau dapat diartikan sebagai masyarakat madani. Masyarakat madani yang paling ideal untuk dicontoh adalah penduduk Madinah karena mereka hidup langsung di bawah pendidikan Rasulullah Salallahu alaihi wassalam. Masyarakat Madinah hidup dalam keadilan sosial di tengah pluralisme, menjunjung norma-norma keagamaan atau nilai-nilai Islam, kesejahteraan, pensejajaran hukum, perlindungan kaum minoritas, nilai kehidupan yang aman, nyaman, tinggi, dan lain-lain. Untuk menuju cita-cita membentuk masyarakat madani maka diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi. Manusia yang berkualitas merupakan aset terbesar suatu bangsa, lebih dari aset kekayaan alam, kepemilikan dan lain-lain.

kamar belajar

mid night

DAFTAR PUSTAKA

www.undp.or.id diakses pada 8 Mei 2010

www.detiknews.com diakses pada 8 Mei 2010

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s