ora et labora

mencari dengan hati . asa . doa

Kita Diuji pada Titik Terlemah [repost] May 30, 2010

Filed under: senyum sajaLah . — askar @ 3:07 pm

Saya mempunyai seorang teman yang istimewa. Keistimewaannya bukan pada penampilan fisik yang menawan atau karir yang menjulang, namun pada kemampuannya memahami hikmah dari berbagai peristiwa yang dialaminya. Sepintas, kisah hidupnya terlihat tak berbeda dengan manusia pada umumnya, namun Allah SWT memberikan karunia kecerdasan mata hati padanya untuk dapat mengambil pelajaran yang bisa mencerahkan dirinya maupun rekan-rekan yang ia ceritakan.

Kisah hidupnya kali ini juga demikian. Suatu pagi ia pergi ke sebuah toko untuk membeli roti dan susu bagi kedua anaknya. Letak tokonya agak jauh dari rumah, sehingga perlu waktu sekitar 15 menit berjalan kaki. Ia menyusuri sepanjang jalan setapak yang masih sepi sambil merenung. Terngiang kembali ingatannya pada taushiyah pak Ustadz di pengajian akhir pekan lalu:

“Manusia hidup di dunia ini tak terlepas dari ujian Allah SWT yang menciptakannya. Karakteristik ujian itu, kita diuji justru pada titik terlemah. Waktu atau kondisi kita lemah sebenarnya adalah saat-saat di mana kita membutuhkan atau mencintai sesuatu tetapi apa yang dibutuhkan atau dicintai itu sedang tidak dimiliki atau kurang dari yang dibutuhkan, sehingga kita tergerak untuk mengusahakannya. Pada saat itulah justru Allah menguji kita apakah kita percaya penuh dan berserah diri kepada-Nya atau melakukan sesuatu yang tidak diridhai-Nya.”

“Contohnya pada kisah Nabi Ibrahim as. Beliau sangat menyayangi puteranya Ismail as. Tapi Allah SWT malah menyuruh beliau untuk menyembelihnya (QS Ash Shaaffaat 37: 100 – 111).”

“Kemudian dalam Perang Ahzab di mana pasukan muslim yang dipimpin Rasulullah SAW dikepung dari segala penjuru oleh tentara sekutu kaum kafir. Namun Allah SWT justru menguji para muslimin itu dengan udara yang sangat dingin dan kekurangan makanan (QS al-Ahzab 33: 9-25).”

Merasa tergugah dengan taushiyah itu, teman saya lalu mencoba untuk ber-muhasabah di mana kira-kira titik terlemah pada dirinya, sehingga Allah SWT akan mengujinya. “Entahlah. Tapi yang jelas saat ini saya sedang membutuhkan biaya yang cukup besar. Anak saya yang bungsu akan masuk SD bulan depan. Tentunya saya perlu membayar uang pangkal, uang pakaian seragam, uang buku…” Pikirannya lantas terhanyut pada berbagai rencana yang akan dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan itu.

Tiba-tiba sorot matanya tertumbuk pada sesuatu yang tergeletak di jalan. Perhatiannya seketika mengerucut. Benda itu berupa selembar kertas, agak kusam. Mungkin habis terinjak sepatu orang yang lalu lalang di situ. Tanpa sadar dipungutnya kertas lusuh itu. Masya Allah, matanya membelalak tak percaya. Kertas itu adalah uang seratus ribu rupiah. Ia tercenung sejenak, dan dalam hitungan detik, uang itu sudah dibersihkannya dari debu dan berada dalam saku bajunya. Hatinya mekar, serasa mendapat durian runtuh. Setengah bersenandung, ia berbinar-binar meneruskan perjalanan ke toko dan tak ingat lagi pada apa yang direnungkannya semenit yang lalu.

Namun sewaktu akan membayar pembelian roti dan susu di kasir toko, tiba-tiba hatinya berbalik menjadi gelisah, “Uang temuan ini halal atau haram ya?” Apakah ini yang dimaksudkan dalam QS Ath-Thalaaq 65: 3, “Wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasibu”, bahwa Allah dapat mendatangkan rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. Mungkin Allah berkenan memberikan sebagian rezki-Nya.

Tapi, mengapa hatinya tak kunjung merasa tenang. Pikirannya terus berkecamuk, “Bagaimana kalau pemilik uang itu kembali ke tempat itu dan mencari uangnya yang jatuh? Bagaimana kalau uang itu akan dibelanjakan untuk membeli roti dan susu bagi anak-anaknya? Atau jika uang itu merupakan hasil jerih payahnya selama sebulan penuh dan tidak ada penghasilan lainnya?”

Akhirnya ia menyerahkan uang miliknya sendiri ke kasir dan keluar dari toko dengan hati yang bergulat hebat. Keringatnya mengucur membasahi bajunya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat ayat Al-Qur’an atau Hadits, mungkin ada yang bisa dijadikan petunjuk baginya untuk mengambil keputusan dengan tepat. Menurutnya, apapun keputusannya, yang paling penting adalah mendapat ridha Allah SWT.

Alhamdulillah, akhirnya ia mendapat petunjuk berupa sebuah Hadits Rasulullah dari An-Nawas bin Sam’an ra.: “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa-apa yang meragukan jiwamu dan engkau tidak suka dilihat orang lain dalam melakukan hal itu.”

Ya Allah, ternyata jiwanya yang ragu-ragu dan gelisah adalah cerminan dari perbuatan dosa yang telah ia lakukan. Jadi, jelas uang temuan itu hukumnya haram jika ia manfaatkan untuk kepentingan pribadinya, tanpa berusaha untuk mencari pemiliknya terlebih dahulu. Ingatannya kembali pada renungannya pagi tadi. “Kita diuji oleh Allah SWT justru pada titik terlemah. Astaghfirullah. Rupanya, titik terlemah saya saat ini adalah yang berkaitan dengan uang.”

Keputusannya kini telah bulat. Prinsipnya, uang itu harus segera dikembalikan pada pemiliknya. Tapi bagaimana ia tahu siapa pemiliknya? Sepertinya hanya Allah Yang Maha Melihat saja yang tahu. Akhirnya, tanpa banyak pikir lagi, dia bergegas ke tempat ditemukannya uang itu. Diletakkannya kembali lembaran kertas berharga itu di trotoar sambil berdoa, “Ya Allah, jika Engkau ridhai, hamba mohon kembalikan uang ini pada pemiliknya. Atau mungkin Engkau punya kebijaksanaan untuk menguji hamba-Mu yang lain,”

Teman saya itu kemudian memandangi uang itu dari kejauhan. Hatinya kini sudah sangat tenang dan lega. Alhamdulillah. Hampir saja ia tergelincir pada perbuatan dosa. Nyaris ia gagal dalam menempuh ujian yang diberikan oleh Allah SWT.

Tapi satu pelajaran berharga telah berhasil dipetiknya hari ini: “Kita diuji oleh Allah SWT justru pada titik terlemah yang kita miliki,”

Wallahu a’lam bisshowwab

sumber : entah . di dapat dari fiLe daLam foLder  yang lama tak terjamah ..

catatan kecil saya ..

terkadang, kerikiL di hadapan kita justru menjadi batu besar yang mengahadang

hal simpel yang crucial

kadang kita bertanya-tanya

mengapa

hal-hal yang tidak kita genggam menjadi point-point kunci

segala benturan yang ada

Maha Suci Allah yang mendewasakan kita dengan caraNya yang terindah

semua perlakuan yang ada dan ekstrim

perlakuan panas, perlakuan dingin, hantaman,

bisa menjadi sesuatu yang destruktif ataupun yang menambah kekuatan

tergantung manusia yang memainkan

apakah akan seperti kegagalan patah ketika mengalami beban kejut

ataukah seperti besi yang semakin ditempa semakin kuat, seperti guci keramik yang menjadi indah setelah di make over dengan perlakuan ekstrim

kamar beLajar, 300510

berteman langit tanpa bintang

 

One Response to “Kita Diuji pada Titik Terlemah [repost]”

  1. anita otd Says:

    jazakillah khoiron katsir ukhti…
    Semoga tausiyah ini bisa saya ingat terus, terutama saat titik terlemah saya mulai diuji oleh Allah..

    Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s