ora et labora

mencari dengan hati . asa . doa

Korelasi antara Praktikum, Tugas, dan Kefuturan October 10, 2009

Filed under: no one can'T stop isLamic movement — askar @ 7:25 pm
Tags: , , ,
so crowded

so crowded

Jadi inget lagu jaman dulu saat masih ospek,
Disini bukan tempat anak-anak malas
Tempatnya para pekerja keras

Yup, bener banget, setiap keputusan yang kita buat, pasti ada konsekuensinya. Memang begitulah, teknik ga ada matinya, harus siap mental, siap fisik, tak boleh manja, siap tak tidur, bertabrakan, berterbangan..(hiyy horor deh)
Terlebih jika kita telah berani menyeburkan diri dalam irama kehidupan sejati. Berani mengawali harus berani menjalani, ibarat pohon, daun yang berguguran kan menjadi sampah yang usang, tergantikan oleh tunas-tunas baru yang lalu tumbuh menjadi hijau. Ibarat kereta, gerbongnya dalam satu kesatuan utuh akan tetap melaju hingga sampai tempat tujuan meski salah satu penumpangya turun.
’Dan perjuangan ini tidak diusung oleh orang-orang lemah. Dan semua akan terseleksi alam.’

Sebelumnya, sekelumit tentang faktor dependent dan independent,
Praktikum dan tugas
Sebagai makanan sehari-hari mahasiswa, yang pasti hidup akan terasa hambar tanpanya. Kalau TK pulang jam pagi, SD pulang siang, SMP pulang ashar, SMA pulang maghrib, maka kuliah kadang malam kadang pagi (peningkatan? Masya Allah..)
Kuliah adalah amanah, menuntut ilmu adalah ibadah dan tentunya balik lagi, sesuatu yang kita kerjakan (baca : perjuangkan) akan menjadi ibadah jika dengan niatan yang benar dan akan menjadi ilmu jika kita dapat mengambil hikmahnya.

Amanah non Kuliah
Overload? Sebenarnya bukan, mungkin kita yang tidak dapat menerapkan prinsip managemen waktu dengan tepat, tidak dapat mengaplikasikan skala prioritas dengan sempurna.

Futur
Secara bahasa : terputus atau tersambung , Malas, lamban atau kendur setelah rajin
Secara istilah :suatu penyakit yang dapat menimpa seseorang yang berjuang di jalan Allah

Lalu apa hubungannya aktivitas kampus dengan tingkat kefuturan?
Ada, ga ada hubungannya. Mungkin memang terdapat korelasi disana, tetapi nilai signifikansinya tergantung pribadi masing-masing.
Yang jelas apapun dapat menyebabkan penyakit hati yang satu ini dan mungkin salah satunya adalah kesibukan duniawi kita yang tidak diniatkan karena Allah, niatan yang berbelok dan hal-hal yang berlebihan
”Dan orang yang berpaling dari mencintai Allah, niscaya Allah akan mengujinya dengan kecintaan kepada selainnya, lalu ia merana karenanya.”
Semoga Allah senantiasa memalingkan hati-hati kita pada ketaatan dan cinta padaNya.

Iman dan futur, memang fenomena rutinitas kehidupan seorang muslim. Namun semoga kita tidak jatuh terlalu dalam di jurang kefuturan, untuk itu tak perlu berlama-lama. Langkah selanjutnya yaitu kenali penyebab-penyebab futur dan cara membasminya sebagai berikut :

Faktor penyebab futur menurut Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas sbb:
1. Hilangnya keikhlasan
Ikhlas adalah ketika kita tidak lagi merasakan keikhlasan itu ada. Ikhlas letaknya dalam hati. Namun ikhlas sering ternodai dengan melencengnya niat di tengan jalan
2. Lemahnya ilmu syar’i
Kurangnya ilmu akan menyebabkan kita beranggapan apa yang kita lakukan ini tidak salah, beribadah denga cara yang kurang tepat sehingga berakibat pada kefuturan akibat hal-hal kecil yang bertumpuk.
3. Kecenderungan pada dunia dan melupakan akhirat
Dunia oriented, padahal telah jelas ketika kita berusaha mengejar akhirat maka kita akan mendapat dunia pula
4. Fitnah (cobaan) berupa istri dan anak
Kesenangan dunia memang memabukkan. Bagi yang belum berkeluarga pun fitnah dan godaan akan datang dari manapun
5. Hidup di tengah masyarakat yang rusak
6. Berteman dengan orang yang memiliki keinginan yang lemah
Terkadang berteman dengan seorang idealis yang teguh di atas prinsip meski ia terasing tak menjadi masalah (asal idelismenya tidak berlebihan). Kita butuh seseorang yang tidak hanya dapat menemani disaat kita melihat bintang tapi juga men-support saat kita sedang terjatuh dalam kefuturan
7. Melakukan dosa dan maksiat serta makan yang haram
Melakukan dosa yang tidak segera dibarengi dengan taubat dan diirngi dengan kebaikan, meskipun kecil namun akan membawa kita pada kefuturan.

Ibarat kuman, kefuturan dapat menjangkiti kita di tiap waktu, kapan saja di mana saja, sehingga selain memiliki tameng untuk menjaga hati kita, juga harus mempersiapkan senjata untuk mengusirnya yaitu
1. Menjauhkan diri dari dosa kecil
2. Tekun dan teratur dalam amalan meskipun sedikit
3. Sedikit mengendurkan usaha di jalan Allah
4. Mengingat mati
5. Mengingat syurga dan neraka dan apa yang di dalamnya.
6. Mengambil agama Islam secara kaffah

Satu hal yang menurut saya juga paling ampuh untuk menghindari maupun menghadapi kefuturan ini adalah komunitas yang baik, komunitas orang-orang sholeh. Disadari atau tidak lingkungan lah yang akan membentuk kita, membentuk kita pada satu pola hidup. Ketika dihadapkan pada lingkungan yang ’ketat’, melakukan satu kesalahan pun akan membuat kita cukup ’bersalah’. Sebaliknya pada lingkungan yang ’longgar’ pertama kita akan merasa ini salah, saat berikutnya kita akan merasakan mungkin tidak apa karena banyak dari mereka juga yang melakukan, dan saat selanjutnya kita sudah tidak sadar jika ini salah. Masya Allah, betapa cerdasnya syetan dibalik semua ini(tapi kita harus lebih cerdas dunn..). Kita butuh kontrol, peringatan berulang, dan di situlah mengapa teman-teman dan lingkungan yang kondusif begitu berarti. Ketika teman-teman dekat kita saja juga sedang terjerembab segera tinggalkan dan cari sesuatu yang kita tidak nyaman tapi kita yakin akan membawa perubahan lebih baik (Bukan habis manis, sepah dibuang, tapi lebih kepada upaya penyelamatan diri, jiwa, dan iman.)

Saat kita merasa pengawasan Allah tidak ada, maka berhati-hatilah. Ketika kita masih dikaruniai rasa malu dan bersalah ketika melakukan maksiat sekecil dzarrah, ketika masih ada yang mengingatkan meskipun itu menyakitkan, ketika teguran kecil berupa kekecewaan datang, ketika kita dipersulit dalam melaksanakan sesuatu yang terlihat indah namun mematukan, bersyukurlah, Allah masih sayang kita..

Allah berfirman.

Artinya : “Barangsiapa yang bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya.”[Ath-Thalaq : 3]

Yakni mencukupi segala yang dibutuhkannya baik dalam kehidupan religinya ataupun urusan duniawinya.

Kita memohon kepada Allah, semoga Dia mengaruniai kita kesejahteraan, kekuatan dan keteguhan hati, dengan lantaran tawakal sepenuhnya kepadaNya, yang dengan itu Allah menjamin bagi orang-orang yang bertawakal segala kebaikan dan menangkis segala cobaan maupun marabahaya.

>> Semoga dapat memberi pengingatan untukku dan untuk kita semua

hidup-sementara

 

3 Responses to “Korelasi antara Praktikum, Tugas, dan Kefuturan”

  1. siip dah..
    innallahu ma’aana…!

  2. banana juice..
    hmm…
    yummy…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s