toLong beritahu aku,
dimana saLahku,
tolong maafkan aku,
jika tak dapat seperti inginmu,
tolong biarkan aku,
tetap pada lingkaran energi positif,
tolong bantu aku,
untuk tetap bertahan,
toLong beritahu aku,
dimana saLahku,
tolong maafkan aku,
jika tak dapat seperti inginmu,
tolong biarkan aku,
tetap pada lingkaran energi positif,
tolong bantu aku,
untuk tetap bertahan,
Fri at 2:12am
“Ladies and Gentlemen… We will be landing on Soekarno-Hatta Airport for several minutes, please check your seat and fasten your seatbelt..” Suara pramugari Qantas Airlines membangunkan tidurku, perjalanan 6 jam dari Tokyo membuatku ngantuk. Alhamdulillah..akhirnya aku kembali ke tanah air…bertemu keluarga lagi di Indonesia. Terminal X bandara menjadi tempat singgahku sementara sambil menunggu bagasi, duduk aku di sudutnya..pandanganku melayang teringat setahun yang lalu di tempat yang sama..
Kamu mau jadi sahabatku ketika ku berjanji, berjanji bahwa tidak akan ada lagi korban, janji bahwa suatu hari nanti aku akan berubah, janji bahwa aku akan menjadi pangeran yang lebih baik lagi. Kamu adalah putri pertama di kerajaan itu, putri dengan berbagai sifat yang unik. Kadang dewasa, kadang seperti anak-anak, tomboi dan gokil namun kamu penuh senyum. Sifat rendah hatimu menggambarkan bahwa kamu adalah seorang putri remaja yang mungkin nantinya akan menjadi seorang ibu yang akan mendidik dengan hati bagi anak-anaknya.
Seorang ibu yang mungkin akan menjadi awan yang teduh bagi anak-anaknya. Ketika peran ibu dapat dimainkan dengan baik maka sebuah keniscayaan bahwa sang suamipun akan merasa tenang dan tentram disampingnya. Ia akan menjadi istri yang mengerti bahwa suaminya tidaklah semulia Muhammad, tidaklah setakwa Ibrahim, pun tidak setabah Ayub, ataupun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf. Ketika suami menjadi raja maka kamu nikmati anggur singgasananya. Ketika suami menjadi bisa maka kamulah penawar obatnya. Wahai Sakura, engkaulah dambaan setiap pangeran di seluruh penjuru negeri….
Perlahan namun pasti akhirnya perasaan itu hadir, ketika sang bunga mencoba menerimaku. Ketika dia tidak melihat masalaluku, saat dia tahu resiko menjadi permaisuriku. Dianggap aneh, dikucilkan, dibuang, malu dan dianggap mengkhianati kerajaannya. Karena dia yakin suatu saat, aku akan berubah. Dan jika saat itu datang, dia mau aku menjemputnya untuk pergi ke surga abadi, saat dia berikan jawaban YA atas cintaku.
Ku tahu dia tidak mau menunggu dan ditunggu tapi dia ingin kudatang lebih dulu. Ketika kumerasa tidak pantas untuknya, merasa tidak yakin pada dirinya namun keyakinannya pada diriku membuatku bertahan. Keyakinan itu yang membuatku mempunyai seribu harapan tentang dirinya, harapan bahwa kami akan menjalani hari-hari kami dalam indahnya kebersamaan, dalam indahnya payung Illahi.
Sakura bukanlah gadis yang romantis karena mungkin dia hanya bisa memanggilku dengan panggilan yang kusuka, hanya bisa memahami apa yang kumau, hanya bisa bersyukur menemukanku, hanya bisa berharap bahwa aku benar-benar untuknya dan mungkin dia memang hanyalah seorang putri dan bukanlah bidadari. Tapi usahanya menjadi yang terbaik bagiku telah menjadikannya putri yang telah mengharu sakura di hati ini, ketika dia rela menjadi Fatimah yang menumbuk sagu dengan tangannya sendiri, ketika dia rela menjadi khadijah yang menginfakkan semua hartanya dalam dakwah, ketika dia rela hidup apa adanya bersamaku nanti, ketika dia mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. Adakalanya putri tidak bijak, tidak dewasa, dan tidak mengerti.
Tapi apakah pangeran sepertiku bisa meluruskannya yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok? Sementara aku hanyalah seorang pengeran tanpa kerajaan, pangeran yang masih jauh dari kata baik apalagi soleh. Dalam banyak waktuku, hanya sebentar aku menyapa ”temanku” yang bertuliskan huruf Arab sementara untuk berbincang dengan ”temanku” yang banyak humor dan gambar, aku sampai lupa waktu. Saat suara adzan datang menyeru justru seruan yang lainnya yang kudengar dan kusambut. Benarkah pangeran ini pantas untuk sakura?
Seorang wanita solihah yang selalu menutup auratnya, yang bicara dengan pria bukan muhrim tanpa menatap matanya, yang tidak mau berjalan bersisian dengan pria yang bukan muhrimnya. Ya Allah, apakah Engkau mengirimkan putri ini sebagai perantara datangnya hidayahMu untukku. Apakah Engkau mengirimkannya agar aku kembali menjadi pangeran yang baik lagi, seperti yang dulu lagi, yang taat dan patuh akan perintahMu.
Dan akhirnya setelah ”kebersamaan” yang sesaat ini…….
”Mas, jaga intensitas interaksi kita, jangan terlalu sering! Ibadahku jadi tidak khusuk, takut perbaikan diriku bukan karena Allah tapi karenamu, takut cinta itu bukan karena Allah. Kita seperti sedang ”pacaran” padahal kita tahu bahwa pacaran tidak diperbolehkan sebelum resmi menikah. Astaghfirullah…… Biarkan rasa itu tumbuh subur di tempat yang benar. Kita sudah punya bibitnya dan akan kita tanam di tempat dan waktu yang tepat. Aku tidak mau melupakanmu tapi kalau kamu mau aku diam, menahan perih karena rindu, pedih dan sakit karena tidak bisa menyapa ketika bertemu, terluka karena tidak bisa saling senyum Insya Allah aku kuat. Ibarat biji, aku harap cinta kita tidak mati tetapi sedang berdomansi, sedang menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh subur di hati masing-masing.
Saat ini kita ibarat sedang mengulurkan tangan ingin saling bertukar benih tapi kita tersadar bahwa belum waktunya kita untuk menukarkannya. Aku takut biji ini membusuk di hati masing-masing bukan subur seperti yang kita harapkan. Aku meminta kita menahan, bersabar, berdoa, berikhtiar sekuat-kuatnya dan bertawakal sepasrah-pasrahnya. Aku lebih meminta barokah dari Allah untuk cinta kita. Aku tidak mau Allah tidak meridhoi ikatan suci kita nantinya karena permulaannya yang salah. Insya Allah aku akan berdoa untuk kita, berdoa agar kita diberi kesabaran, kekuatan, kepasrahan sebesar-besarnya olehNya. Semoga kita bisa menghadapi semua ini dengan ikhlas. Wahai pangeran yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir kita.
Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucumu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang. Wahai pangeran yang telah mengusik pikiranku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia, akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Mintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, mintalah kepada-Nya agar tetap menempatkan malu ini pada tempatnya. Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA”.
Setelah membaca surat itu, akhirnya aku sadar bahwa hubunganku selama ini dengan Sakura adalah sebuah kesalahan dan kekhilafan. Sungguh betapa sangat inginnya aku agar Sakura menungguku hingga aku siap dan datang menjemputnya. Betapa inginnya aku untuk mengetahui kabar Sakura tiap hari. Tapi sungguh ternyata ada yang lebih kami cintai dibandingkan cinta diantara kami. Dialah Allah, yang membawa kami ke jalan ini, menuntun, merangkul kami dengan cinta. Dialah Allah, tempat kita meminta dan berharap. Dialah Allah, yang telah memberi kami kehidupan dan yang akan mematikan kami kembali. Dialah yang berkuasa penuh atas hati, jiwa, dan pikiran kami yang tidak ada seorangpun yang dapat menyamaiNya apalagi melampaui kekuasaanNya.
Dan Allahpun telah mengingatkan kita dalam firmanNya, ”wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…….” (QS. An Nur : 26).
Mungkin apa yang terjadi antara aku dengan Sakura adalah kehendak Allah untuk memberikan pelajaran padaku tentang apa itu arti hidup dan cinta yang sebenarnya. Tapi sungguh aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada sang putri, kusampaikan penghormatan setinggi-tingginya padanya, paling tidak dia sedikit mengubah hidupku. Dan akupun hanya bisa senyum atas ”kebersamaan” kami selama ini, entah senyum bahagia, senyum beku, atau mungkin juga senyum yang sudah tidak berbentuk lagi.
“aku hanya ingin cinta yang halal…
Di dunia..dan juga akhirat…
………………………..
Tuhan sayang aku…”
Sebait irama Melly Goeslaw membuyarkan lamunanku.. Ahay…jadi teringat Sakura? Dimana ya dia sekarang? Ah semoga Sakura baik-baik saja di sana.. Tit..tit..tuit..hp ku berdering, sebuah sms masuk..
“Assalamu’alaykum.. Mas..dah balik ke Indonesia kan? Aku mengundang mas buat datang ke akad nikahku, insya Alloh Sabtu minggu depan.. Aku sangat berharap mas bisa datang, usahain datang y mas… Jazakallah khoir.. -Sakura-“
Barakallahu laka wa baraka alaika y ukhti… Semua yang terjadi di dunia adalah kehendakNya, manusia yang berencana Allah lah yang menentukan..
Semangatmu yang menggebu tak kan dapat menembus hijab ketentuan Alloh… (Ibn ‘Athoillah al-Iskandary)
`
Diambil dari notes teman,,
ending versi 2,
………………………..
Tuhan sayang aku…”
Sebait irama Melly Goeslaw membuyarkan lamunanku.. Ahay…jadi teringat Sakura? Dimana ya dia sekarang? Ah semoga Sakura baik-baik saja di sana.. Tit..tit..tuit..hp ku berdering, sebuah sms masuk..
“Assalamu’alaykum.. Mas..dah balik ke Indonesia kan? Aku mengundang mas buat datang ke akad nikah kakakku, insya Alloh Sabtu minggu depan.. Aku sangat berharap mas bisa datang, usahain datang y mas… ini permintaan dari kakakku. Jazakallah khoir.. -Sakura-“
Aku berjalan memecah ombak
Menunggu irama senja
Memecah rinduku yang lapuk
Dalam episode panjang
Di perbatasan
Teringat olehku 4 tahun silam
Saat memandang sakura pun aku tak mampu
Allah, terima kasih atas janjiMu yang begitu nyata
Aku menunggu bintang
Saat sinarnya tak menembus birunya laut
Menggenggam tangan sakura erat
Tak akan kulepaskan
^_^
Coretan pertama ini terinspirasi oleh obrolan kami dengan seorang dokter tentang kasus yang dialami oleh pasiennya. Sebelumnya saya mohon maaf, apabila ada kesamaan nama atau kisah dari isi coretan berikut. Mudah-mudahan sepenggal cerita ini bisa bermanfaat dan ada pelajaran yang bisa kita ambil.
Orang bilang, Fatimah adalah wanita yang cantik, muslimah yang sangat baik hati idaman bagi para calon suami. Sebuah nama yang diberikan oleh orangtuaku karena mereka menginginkan aku bisa seperti Fatimah putri Rasululloh SAW. Seorang Fatimah yang sangat disayang oleh Rosululloh, yang zuhud semasa hidupnya, juga yang bisa memberikan keturunan Rosulullah saw (ahlul Bait) yang tersebar di hampir semua negeri Islam. Aku bangga memiliki nama tersebut dan ingin menjadi anak sholihah yang berbakti kepada orang tua serta kelak bisa menjadi perhiasan bagi suami yaitu sebagai seorang istri yang sholihah.
Masa kecilku dibesarkan dalam lingkungan beragama. Belajar ilmu pengetahuan dipagi hari dan agama di sore hari adalah kegiatan rutin yang harus aku jalani setiap hari. Ayahku mengirim ke pondok pesantren dikala sekolahku liburan cawu atau semester. Itulah sekelumit kisah tentang masa kecilku yang saat ini sangat aku rindukan. Masa-masa dimana aku bisa dengan bebas leluasa dan tenang mengerjakan amalan-amalan ibadah tidak seperti saat sekarang yang aku rasakan yang penuh dengan keraguan dan ketidaktahuan.
Hari ini adalah hari pernikahanku, hari dimana aku akan mengakhiri masa lajangku, hari yang sangat aku nanti-nantikan. Masih terpatri diingatanku kala pak Ustad yang mengajarku di madrasah menyampaikan sabda Nabi SAW bahwa menikah merupakan sunnah dan barang siapa yang menikah maka ia telah melaksanakan separuh dari agamanya. Dengan merasa yakin aku menerima lamaran kakak senior sewaktu aku mengenyam pendidikan tarbiyah di sebuah kampus IAIN. Kami sama-sama aktifis kampus yang aktif di Lembaga Dakwah Kampus dan sekarang sama-sama sedang mengabdi sebagai dosen di kampus almamater.
Alhamdulillah acara pernikahan berlangsung khidmat sesuai rencana, saudara dan kerabat serta teman-teman berdatangan untuk mengucapkan selamat dan memberikan doa atas rumahtangga baru kami. Mendoakan supaya menjadi istri sholihah, bisa membangun keluarga samara, awet hingga kakek nenek dan masih banyak lagi ucapan selamat dan doa yang disampaikan oleh para undangan yang hadir. Dengan senang hati dan bersungguh-sungguh kami mengaminkan doa-doa mereka.
Malam ini adalah malam pertama aku menjadi seorang istri. “Fatimah sayang, aku kan sudah sah menjadi suamimu, jadi kamu sudah bebas melepas jilbabmu di kamar ini” kata-kata suamiku memecahkan keheningan malam itu. Takut, malu, berdebar, bingung, semua perasaan bercampuraduk malam itu kala aku harus tidur sekamar dengan suami yang masih agak asing bagiku. Namun aku berusaha untuk menenangkan diri dan aku berfikir bahwa ini adalah saatnya aku melakukan ibadah sebagai seorang istri untuk melayani suami. Akhirnya aku bisa merasakan rileks, sambil melepaskan jilbabku kubisikkan kepada suamiku bahwa aku sudah siap untuk melayaninya.
Dalam kepasrahan itu, kami merasakan hal yang sangat aneh. Sesuatu yang diluar bayanganku dan mungkin juga suamiku. Malam berikutnya kami masih tetap tidak bisa melakukan hubungan suami istri. Akhirnya kamipun sepakat untuk berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Serangkaian tes telah kami jalani dan hari ini adalah hari yang sangat kami nanti-nantikan untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi dengan kami. Seorang dokter spesialis kandungan datang menghampiri kami berdua yang sudah sekian lama menunggu di luar ruangan. “Silahkan bapak menunggu di luar, saya mohon ijin ingin bicara dengan istri anda dulu” itulah kata dokter yang disampaikan ke suami saya. Suami saya mengijinkan dan sambil tersenyum mengatakan akan menunggu di taman luar hingga giliran waktunya di panggil nanti. Dengan sangat cemas dan was-was aku menganggukan kepala sambil masuk ke dalam ruangan dokter.
Siang itu bagaikan disambar petir disaat dokter menyampaikan hasil pemeriksaan. Hal yang tidak pernah ada dalam benak pikiranku namun aku harus menerima kenyataan itu. Dokter menyampaikan hasil pemeriksaan selama ini bahwa aku di vonis menderita Androgen Insensitivity Syndrome (AIS) atau lebih khususnya Complete Androgen Insensitivity Syndrome (CAIS). Orang awam akan mengenal penyakit yang kuderita ini dengan istilah penyakit kelamin ganda atau hermaprodit semu laki-laki. Tertegun sejenak diriku mendengar berita buruk yang disampaikan oleh dokter. Aku benar-benar shock mengetahui bahwa diriku secara genetik adalah laki-laki. Dokter menjelaskan kepadaku bahwa penderita CAIS memiliki penampilan seperti perempuan normal, dengan alat kelamin luar seperti wanita, mempunyai vagina yang lebih pendek dari normal,dan payudara akan tumbuh mulai masa prepubetas dengan hasil pemeriksaan kromosom menunjukkan 46,XY (sesuai kromosom pada laki-laki) dan kadar hormon testosteron normal atau sedikit meningkat. Dari hasil pemeriksaan tubuhku, tidak ditemukan struktur alat genital wanita seperti rahim dalam diriku. Bahkan dari hasil USG diketahui adanya dua testis yang tidak berkembang dengan sempurna yang terletak dalam rongga perutku hingga dokter menyarankan, untuk menghindari terjadinya tumor, supaya aku nantinya melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan sperma yang selama ini menumpuk sekian lama didalam tubuhku.
Sepertinya pepatah ‘sudah jatuh tertimpa tangga’ sedang menghampiri diriku. Dalam batinku, aku ingin menjerit dan berteriak protes kepada Alloh yang tidak adil pada diriku. Kecewa, menyesal, marah, malu, putus asa, semua perasaan itu muncul bergantian sesaat setelah dokter memberikan penjelasan tentang keadaanku. Saat ini aku sama sekali tidak mengenali siapa diriku, diri Fatimah yang selama ini melekat dibadanku seolah-olah terhempas jauh tak terpandang. Air mataku sudah tak mampu ku bendung lagi, tenggorokanku sudah tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hatiku sakit sekali dan menangislah aku di ruangan dokter sambil meratapi nasibku. Ya Alloh…. Cobaan apa ini yang Kau berikan kepada hambaMu ini?? Innalillahi…… mimpikah aku ini?? Aku masih tidak percaya dengan takdir yang telah Engkau tetapkan pada diriku ini. Saat ini aku benar-benar tidak bisa membedakan apakah Engkau sedang memberiku cobaan, peringatan atau bahkan hidayah. Ingin kusesali nasib yang menimpaku ini, namun aku tidak ingin menjadi makhlukmu yang tidak bersyukur. “Sabar sabar dan istighfar Bu….. terus saja istighfar” kata-kata yang diucapkan oleh dokter itu menyadarkanku untuk berhenti menangis. Ku minum air putih yang diberikan oleh dokter untuk menenangkan diriku. Astaghfirullohal ‘adzim….. Kutarik nafas dalam-dalam sambil berusaha menghentikan tangisku yang tak kunjung habis.
Aku berusaha untuk bisa menguasai kembali perasaan-perasaan yang menghantui diriku. Melihat diriku agak mulai tenang, kembali dokter melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti. Dia menanyakan apakah aku akan memberitahukan keadaan ini kepada suamiku. Dokter akan membantu menjelaskan kepada suamiku tentang kondisiku.
Ya Alloh ….. aku tidak tahu harus menjawab apa, akankah aku menutupi aib ini demi egoku dan keutuhan rumah tanggaku atau akankah aku menyampaikan kebenaran meski itu sangat pahit untuk mengatakan dan pasti menyakitkan. Hanya geleng kepala tanpa kata, jawaban yang bisa kuberikan kepada dokter. Sepertinya Dokter memahami perasaanku dan akhirnya memanggil suamiku yang telah setia menunggu di luar untuk dipersilahkan masuk. Dokter menjelaskan kepada suamiku bahwa berhubungan suami istri bagi pasangan baru itu tidak harus didapatkan pada malam pertama. Pasangan baru biasanya memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Komunikasi dua arah sangat dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan berumah tangga. Anda dan istri anda butuh komunikasi dan istri anda sangat membutuhkan ketenangan.
Sepanjang perjalanan pulang aku diam membisu, tak sepatah kata keluar dari mulutku. Tiba-tiba suamiku berhenti mengendarai sepeda motornya, dia memakai jas hujan dan memintaku untuk berlindung didalam jas hujan. Dibalik selubung jas hujan, pikiranku melayang kesana kemari mencoba mengurai permasalahan yang sedang kuhadapi. Sempat terbersit untuk mengakhiri hidupku dengan menjatuhkan diri di jalan namun bayangan neraka tiba-tiba muncul. Astaghfirulloh…… segera ku ucapkan istighfar dan menjernihkan kembali pikiranku yang sedang kacau balau. Aku harus sabar dan ikhlas menghadapi cobaan ini dan yakin bahwa aku pasti mampu menghadapinya. Aku akan menagih janji Alloh, sebagaimana yang Alloh firmankan di ayat terakhir dari surat al Baqarah yang berarti bahwa Alloh tidak akan memberikan cobaan kepada kaumnya diluar batas kesanggupannya. Janji Alloh ini yang menahanku untuk tetap duduk diboncengan sepeda motor suamiku hingga akhirnya kami sampai di garasi rumah.
Dengan langkah gontai, berjalan disamping suamiku aku memasuki rumah mertuaku. Aku berusaha tegar didalam rumah dan didepan orang-orang yang masih asing bagiku. Ingin kulupakan sejenak masalahku dengan pergi ke dapur untuk membantu ibu mertua yang sedang mempersiapkan makan malam untuk kita berlima. Kuperhatikan ibu mertua dan adik perempuan iparku yang sedang sibuk membuat gado-gado, woooow… menu kesukaanku. Sesekali kata-kata iya dan tidak, tanpa ada hasrat untuk menerangkan lebih lanjut, keluar dari mulutku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang mencoba untuk lebih mengenalku. Sesaat kemudian Ibu mertua memintaku untuk memanggil suamiku yang lagi asyik ngobrol bersama ayah mertua di ruang keluarga untuk diajak makan malam bersama.
“Subhanalloh, Ini adalah makanan favorit Fatimah” suamiku mengatakan kepada keluarganya sebelum kita memulai makan. Malam itu ibu mertua nampak senang sekali karena beliau tidak sengaja telah menyajikan menu favorit untuk menantunya. Semuanya sedang menikmati masakan ibu mertua yang jago masak. Ehm…… aku tidak lapar, aku tidak selera untuk bersantap malam tapi…… aku tidak mungkin beranjak dari kursi sebelum mereka selesai makan malam. “Ayo Fatimah, tidak usah malu, anggap saja seperti di rumah sendiri” suara ibu mertuaku tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Sejenak aku sadar, astaghfirulloh…. ternyata tinggal piring ku saja yang masih kosong. Segera kuisi piringku dengan kentang rebus, telur rebus, pentol bakso, tahu rebus dan sayuran segar kemudian kutuang kuah gado-gado di atasnya. Kupaksakan diriku untuk menghabiskan apa yang ada di atas piringku karena aku tidak ingin mengecewakan ibu mertuaku.
Di dalam kamar, suamiku menasehatiku untuk tidak terlalu memikirkan kejadian malam pertama itu. Dia menjelaskan padaku bahwa dia tidak akan memintaku untuk melayaninya kalo memang aku belum siap. Dalam Islam memang istri berkewajiban untuk melayani suami apabila suami meminta untuk melakukan hubungan suami istri, namun bukan berarti suami bisa memaksa istri untuk melayaninya dikala istri secara batin belum siap. Kata-kata suamiku sedikit melegakanku, meski aku tahu bahwa bukan itu sebenarnya masalah yang sedang kuhadapi. Dengan berdebar, aku meminta ijin waktu satu hari kepada suamiku untuk menginap sendirian ke rumah orangtuaku dan kebetulan besok aku tidak ada kelas mengajar. Aku mengatakan bahwa ada banyak hal yang perlu aku tanyakan pada ibuku terkait dengan pengalaman ibuku dalam menghadapi malam pertama. Meski kedengarannya aneh, namun suamiku mengijinkan aku untuk pulang kalo memang itu dirasa solusi terbaik yang harus kuambil. “Ok lah…. Besok mas akan mengantarkan Fatimah ke rumah Bapak Ibu, sebelum berangkat ke kantor” suamiku menjawab sambil merebahkan badannya di atas tempat tidur.
Malam itu kupandangi suamiku tercinta yang sudah lelap dalam tidurnya, akankah ini malam terakhir aku bisa memandangnya sebagai suamiku. Aku sangat mencintainya, dia sangat baik memperlakukan aku sebagai istri. Aku tidak ingin kehilangan masa-masa seperti ini, namun aku juga tidak ingin membohonginya terus menerus. Rasanya aku ingin menolak takdir yang telah digariskan kepadaku, aku masih ingin membangun rumah tangga sakinah bersamanya, aku juga masih ingin melahirkan dan membesarkan anak-anak yang sholeh dan sholehah. Tapi…. itulah kenyataan hidup yang harus aku hadapi, aku tidak boleh hidup dalam bayang-bayang, aku tidak boleh melakukan praktek homoseksual dengannya. Tapi aku juga bingung dari mana aku harus memulai untuk menjalani hidup ini sebagai aku yang sekarang. Ya Alloh, berat sekali rasanya memikul beban yang Engkau cobakan padaku ini.
Kulangkahkan kakiku beranjak ke kamar mandi untuk memohon mukjizat dariMu ya Alloh. Mukjizat yang bisa menampik hasil analisa dokter tadi siang, mukjizat yang mampu membuktikan bahwa aku ini adalah seorang perempuan sejati baik secara penampilan maupun genetika. Kutanggalkan bajuku dan ku berdiri di depan kaca besar di kamar mandi. Kuamati cerminan tubuhku lama sekali, hal yang belum pernah aku lakukan selama ini, dari kepala hingga ujung kaki. SubhanaAlloh aku memang wanita yang cantik, sambil berputar di depan kaca, aku bisa melihat betapa sempurnanya wanita yang ada di bayang-bayang kaca itu. Aku tidak ingin lari dari sosok seorang Fatimah yang ada dalam cermin itu. Tersungkur aku jatuh ke lantai, terngiang kembali kata-kata dokter tadi siang, aku ini bukanlah seorang wanita. Pernyataan yang sama sekali berlawanan dengan bayangan yang ada dalam cermin itu. Ah …… tapi inilah takdirku, mungkin memang aku di kodratkan untuk menjadi seorang laki-laki.
Sambil kukenakan bajuku kembali, ada rasa penyesalan yang amat mendalam, kenapa aku tidak menyadari hal ini sedari kecil, kenapa ibuku tidak pernah menanyaiku tentang hal-hal ini, kenapa aku hanya membiarkan saja tanpa memeriksakan diriku yang tidak pernah sama sekali mengalami haid. Oooohh…. seandainya aku mengetahui sedari kecil mungkin beban yang kupikul tidak seberat ini, oooohhh seandainya orangtuaku mengetahui hal ini semenjak aku baru dilahirkan mungkin saat ini aku sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa, oooohhhh seandainya aku tahu hal ini sebelumnya pasti aku tidak akan terima lamaran suamiku. Oh tidak….. tidak ada gunanya menyesali dan meratapi hal-hal yang sudah berlalu. Yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana kedepannya ini nanti, keputusan apa yang akan aku ambil untuk menyelesaikan masalahku ini. Segera kuambil air wudhu dan aku niatkan untuk sholat tahajut untuk bermunajat kepada Alloh.
Kembali aku masuk ke kamar pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan suamiku. Kuambil sajadah dan mukena, kuhamparkan sajadah disamping ranjang tidurku dan kupakai mukena putih pemberian suamiku sebagai mas kawin pernikahan kami. Tiba-tiba…… Ya Alloh…. bagaimana ini?? masihkah aku berkewajiban untuk menutup kepalaku selayaknya seorang wanita yang menutupi auratnya? Dan ya Alloh…… ternyata aku masih belum berani menghadapi kenyataan ini. Aku tetap ingin memakai mukena karena itu sudah menjadi kebiasaan dari kecil disaat aku hendak iktilad denganMu ya Alloh.
Bersimpuh aku di hadapanMu ya Alloh, malam ini banyak sekali hal yang ingin aku sampaikan padamu ya Alloh. Berilah kekuatan dan keimanan pada hambamu yang baru saja kehilangan identitas diri sebagai seorang wanita. Dari kecil aku sudah dibiasakan untuk selalu jujur dan ikhlas, namun kenapa saat ini sulit sekali bagiku untuk menyandangnya. Dalam renunganku, teringat amalan sholat jum’at yang selama ini telah aku tinggalkan, khitan yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim, hingga bagaimana cara untuk menanggalkan jilbab di tempat umum karena hal itu sudah bukan menjadi kewajibanku lagi. Ooohhh belum lagi…… Rasanya segunung urusan dunia yang harus aku selesaikan, bagaimana dengan namaku “Fatimah”, bagaimana dengan KTP-ku yang tertera “perempuan”, bagaimana dengan buku nikahku yang menuliskan “istri”, bagaimana dengan panggilanku “bu dosen” di kampus tempat aku mengajar, bagaimana dengan teman-temanku yang kebanyakan wanita, bagaimana dengan suamiku dan keluarganya, bagaimana dengan orang tuaku sendiri yang saat ini usianya sudah renta, bagaimana dengan saudara-saudara kandungku, dan masih banyak lagi yang aku ingin curhat kepadamu ya Alloh. Aku ingin menumpahkan semua kegundahan hatiku padamu malam ini ya Alloh.
“Fatimah, aku sholat sunnah dulu ya sebelum kita sholat subuh berjamaah” suamiku berkata sambil menghamparkan sajadah di sebelah kiriku. Aku tersadar, ternyata aku sudah menghabiskan seluruh malamku diatas sajadahMu ya Alloh, namun demikian belum selesai juga aku curhat padaMu ya Alloh. “Silahkan mas” jawabku sambil menyusul untuk melakukan sholat sunah juga. Setelah itu, kami sholat subuh berjamaah. Meski merasa aneh untuk memakai mukena namun kuteruskan saja untuk tetap memakai karena aku takut suamiku mengetahui siapa aku sebenarnya.
Sarapan pagi sudah usai, aku pamit kepada ibu mertua untuk pulang sehari menengok orangtua. Terbesit di wajah ibu mertua kesan yang sama dengan yang terjadi pada suamiku tadi malam saat aku minta ijin padanya. Sebelum ibu mertuaku bertanya sesuatu, suamiku sudah terlebih dahulu merayu ibundanya untuk mengiyakan keinginanku.
Sambil berangkat ke kampus, suamiku mengantarkanku lebih dulu ke rumah orangtuaku, kebetulan kami tinggal di kota yang sama. Duduk diatas sepeda motor, suamiku memboncengku berangkat ke rumah orang tuaku. Berkecamuk pikiranku, tak bisa kubayangkan apa yang akan kulakukan di rumah nanti, apa yang musti kukatakan kepada kedua orang tuaku yang selalu mengajariku kejujuran, keputusan mana yang harus kuambil diantara tetap menjadi Fatimah atau akan melakoni seorang tokoh yang benar-benar baru. Oh Tuhan…… kenapa semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di benakku. Bisakah aku menguasai diriku ini ya Alloh? Mampukah aku menghadapi ujianmu ini ya Alloh?
sumber : copast dr sebuah miList . semoga dpt diambiL hikmah dan menambah syukur kita atas apa yg teLah Allah berikan . Walllahu a’lam .
saat yang lain menanyakan
saat yang lain mengkhawatirkan
saat yang lain mengunjungi
saat sms tak bisa masuk karena inbox hp penuh
saat dering telepon untuk ke sekian
tak pernah berharap sesaat untuk saat yang sia
terbiasa dilupakan
sangat mengiri ketidakpedulianmu
ingin rasanya setangguh itu .
Kata-katamu tak sempat lama kan lampu merah
Cepat kau menepi menghitung kepingan rupiah
Arif tak peduli walau panas hujan menerpa
Untuk sebuah kehidupan
Anak kecil berlarian dibelantara kota
Bernyanyi dengan alat musik sangat sederhana
Arif tak peduli masa kecilnya tlah terampas
Bahkan cita-citamu hampa
Sepuluh seratus bahkan seribu
Seratus ribu bahkan sejuta Arif menunggumu
Uluran tanganmu
Demi generasi jauh disana
Pernahkah kau pikir andai kau Arif sebenarnya
Berjuang menepis keangkuhan manusia kota
Arif tak peduli hatinya terbentur prahara
Bahkan cita-citamu hampa
edcoustic
bener jg, check this ..
Beberapa hal tentang golongan darah yang mungkin anda ingin ketahui.
Yg paling gampang ngaret soal waktu :
1. B (krn nyantai terus)
2. O (krn flamboyan)
3. AB (krn gampang ganti program)
4. A (krn gagal dalam disiplin)
Yg paling susah mentolerir kesalahan org :
1. A (krn perfeksionis dan narsismenya terlalu besar)
2. B (krn easy going tapi juga easy judging)
3. AB (krn asal beda)
4. O (easy judging tapi juga easy pardoning)
Yg paling bisa dipercaya :
1. A (krn konsisten dan taat hukum)
2. O (demi menjaga balance)
3. B (demi menjaga kenikmatan hidup)
4. AB (mudah ganti frame of reference)
Menurut survey, gol darah yg paling disukai utk jadi teman :
1. O (orangnya sportif)
2. A (selalu on time dan persis)
3. AB (kreatif)
4. B (tergantung mood)
Kebalikannya, teman yg paling disebelin/tidak disukai:
1. B (egois, easy come easy go, maunya sendiri)
2. AB (double standard)
3. A (terlalu taat dan scrupulous)
4. O (sulit mengalah)
MENYANGKUT OTAK DAN KEMAMPUAN :
Yg paling mudah kesasar/tersesat :
1. B
2. A
3. O
4. AB
Yg paling banyak meraih medali di olimpiade olah raga:
1. O (jago olah raga)
2. A (persis dan matematis)
3. B (tak terpengaruh pressure dari sekitar. Hampir seluruh atlet judo,
renang dan gulat jepang bergoldar B)
4. AB (alergi pada setiap jenis olah raga)
Yg paling banyak jadi direktur dan pemimpin :
1. O (krn berjiwa leadership dan problem-solver)
2. A (krn berpribadi “minute” dan teliti)
3. B (krn sensitif dan mudah ambil keputusan)
4.AB (krn kreatif dan suka ambil resiko)
Yg paling gampang nabung :
1. A (suka menghitung bunga bank)
2. O (suka melihat prospek)
3. AB (menabung krn punya proyek)
4. B (baru menabung kalau punya uang banyak)
Yg paling kuat ingatannya :
1. O
2. AB
3. A
4. B
Yg paling cocok jadi MC :
1. A (kaya planner berjalan)
MENYANGKUT KESEHATAN :
Yg paling panjang umur :
1. O (gak gampang stress, antibody nya paling joss!)
2. A (hidup teratur)
3. B (mudah cari kompensasi stress)
4. AB (amburadul)
Yg paling gampang gendut
1. O (nafsu makan besar, makannya cepet lagi)
2. B (makannya lama, nambah terus, dan lagi suka makanan enak)
3. A (hanya makan apa yg ada di piring, terpengaruh program diet)
4. AB (Makan tergantung mood, mudah kena anoressia)
Paling gampang digigit nyamuk :
O (darahnya manis)
Apa yg dibuat pada acara makan2 di sebuah pesta :
- O (banyak ngambil protein hewani, pokoknya daging2an)
- A (ngambil yg berimbang. 4 sehat 5 sempurna)
- B (suka ambil makanan yg banyak kandungan airnya spt soup, soto, bakso
dsb)
- AB (hobby mencicipi semua masakan, “aji mumpung”)
Yg tidurnya paling nyenyak dan susah dibangunin :
1. B (tetap mendengkur meski ada Tsunami)
2. AB (jika lagi mood, sleeping is everything)
3. A (tidur harus 8 jam sehari, sesuai hukum)
4. O (baru tidur kalau benar2 capek dan membutuhkan)
[b]Yg paling cepet tertidur[ :/B]
1. B (paling mudah ngantuk, bahkan sambil berdiripun bisa tertidur)
2. O (Kalau lagi capek dan gak ada kerjaan mudah kena ngantuk)
3. AB (tergantung kehendak)
4. A (tergantung aturan dan orario)
Penyakit yg mudah menyerang :
- A (stress, majenun/linglung)
- B (lemah terhadap virus influenza, paru-paru)
- O (gangguan pencernaan dan mudah kena sakit perut)
- AB (kanker dan serangan jantung, mudah kaget)
Apa yg perlu dianjurkan agar tetap sehat :
- A (Krn terlalu perfeksionis maka nyantailah sekali-kali, gak usah
terlalu tegang dan serius)
- B (Krn terlalu susah berkonsentrasi, sekali-kali perlu serius sedikit,
meditasi, main catur)
- O (Krn daya konsentrasi tinggi, maka perlu juga mengobrol santai,
jalan-jalan)
- AB (Krn gampang capek, maka perlu cari kegiatan yg menyenangkan dan
bikin lega).
Yg paling sering kecelakaan lalu lintas (berdasarkan data kepolisian)
1. A
2. B
3. O
4. AB
sumber : http://belajar-nihongo.blogspot.com/2010/01/menentukan-sifat-seseorang-dari-gol.html
Cerita ini adalah kisah nyata… dimana perjalanan hidup ini ditulis oleh seorang istri dari teman saya yang di simpan dalam sebuah laptopnya.Bacalah, semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi kita semua.(semoga menjadi pengingat bagiku, ketika ku sudah melangkah ke dalam kehidupan baru)
***
Cinta itu butuh kesabaran…
Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???
Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..
Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..
Pernikahan kami sederhana namun meriah…..
Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.
Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.
Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu..Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….
Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.
Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.
***
Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk
mendapatkan penerus generasi baginya.Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA.
Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…
Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.
Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.
Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.
Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.
Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.
Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …
“Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.
Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.
Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.
Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja. ”
Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya Salah ataupun Tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.
Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.
***
Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru saja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.
Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”
Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”
Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”
“ Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.
“Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.
”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.
”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.
Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.
Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama Suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena Suamiku sangat sayang padaku.
Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.
Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.
Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.
Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.
Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.
Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.
***
Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.
Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.
Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi..
Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.
Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..
Lebih baik aku tutupi dulu tentang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…
Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.
Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.
Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.
Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.
Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..
Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..
Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.
***
Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.
Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?
Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuaku dan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.
Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.
Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah..Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.
Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.
Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.
Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiakan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.
Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.
“Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.
“Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.
“Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.
Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.
Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”
Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.
Lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..
***
Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.
Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir, tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.
Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.
“Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.
”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..
Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.
Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?
“Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.
Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.
“Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.
Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.
Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“
MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..
Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.
“Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.
Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.
Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah.
‘’Untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami..”
Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.
Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”
Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”
Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”
Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”
”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.
Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..
Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?
Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“
Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.
Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.
Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”
Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.
Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“
“Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.
Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.
Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu..Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.
Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”
Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.
“Apakah kamu sudah siap?”
Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :
“Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.
Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”
Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…
“Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.
Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.
Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita lihat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”..
Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.
Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.
Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.
Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.
Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.
Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku.. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.
Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.
Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?
Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.
Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.
Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.
“Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”
Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..
Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”
Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.
Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”
”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.
Lalu suamiku berkata, ”Bun, Ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu,
seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda..”
Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.
Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah.. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah.. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu..“
Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.
Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.
Keesokan harinya…
Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.
Aku pun dilarikan ke rumah sakit..
Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..
Aku merasakan tanganku basah..
Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.
Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”
Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?
Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”
“Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”
Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.
Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.
Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..
Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..
Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.
Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.
Untuk Ibu mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu. Ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami.
Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma?
Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma?
Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku.. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya..”
Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.
==========================
===========================
Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?
Aku dihina oleh mereka ayah..
Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?
Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..
Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah ?
Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..
Aku diusir dari rumah sakit.
Aku tak boleh merawat suamiku.
Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.
Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.
Aku sangat marah..
Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan ibunya..
Aku tak mau sakit hati lagi..
Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..
Engkau Maha Adil..
Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..
Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..
Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..
Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..
Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..
Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..
Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu. Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui, tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku. Aku harus sadar diri.
Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu..
Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?
Ayah.. aku masih tak rela..
Tapi aku harus ikhlas menerimanya.
Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya. Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku. Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir. Sebelum ajal ini menjemputku.
”Ayah.. aku kangen Ayah..”
================================================== ===
’’Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..
Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini.
Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.’’
Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur..
Bunda akan selalu hidup dihati ayah..
Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..
Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..
Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin Ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus..
Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
Bunda.. kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui..
Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..
Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang..
’’Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka.
Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja..
Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?
Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?
Tunggulah Ayah disana Bunda..
Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..
’’Ayah Sayang Bunda….”
SUMBER : http://bagorfunnyblogspotcoid.blogspot.com/2010/06/bacalah-dan-menagislah-jika-kalian.html
>> pertama membacanya tahun lalu, menangis keduanya saat ini, tetap tdak bsan, mga bermanfaat ,,
seminggu itu cepet banget, setahun juga cepet banget, sepuluh tahun itu cepet, dan 60 tahun it juga cepet .. Masya Allah
sabar2 laa …
Sendiri Menyepi..
Tenggelam dalam renungan
Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan
perlahan kucari, mengapa diriku hampa…
mungkin ada salah, mungkin ku tersesat,
mungkin dan mungkin lagi…
Oh Tuhan aku merasa
sendiri menyepi
ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi
sampai kapan ku begini
resah tak bertepi
kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala
benderang di hidupku..
Kuingin cahyaMu
benderang di hidupku..