- Seseorang tidak terpelihara dari maksiat kecuali karena pertolongan dari Allah Ta’ala .
- Allah tidak akan menyia-nyiakan keteguhan iman, keseriusan hati, dan usaha seorang hamba yang muhsin.
semangat hari ini =) July 22, 2010
Ramadhan coMe .. bentar Lagi July 20, 2010
Amal-amal apa saja yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan agar kita bisa memperoleh derajat takwa?
1. Berpuasa (Shiyam)
Amal yang utama di bulan Ramadhan tentu saja berpuasa. Hal ini diperintahkan Allah swt. dalam Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 183-187. Karena itu, agar puasa kita tidak sia-sia, perdalamlah wawasan kita tentang puasa yang benar dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya. Sebab, puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum. Tapi, ada rambu-rambu yang harus ditaati. Kata Rasulullah saw., “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yagn semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi)
Jangan pernah tidak berpuasa sehari pun tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Meninggalkan puasa tanpa uzur adalah dosa besar dan tidak bisa ditebus meskipun orang itu berpuasa sepanjang masa. “Barangsiapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshah atau sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. At-Turmudzi)
Jauhi hal-hal yang dapat mengurangi dan menggugurkan nilai puasa Anda. Inti puasa adalah melatih kita menahan diri dari hal-hal yang tidak benar. Bila hal-hal itu tidak bisa ditinggalkan, maka nilai puasa kita akan berkurang kadarnya. Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah (hakikat) puasa itu sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan perbuatan sia-sia dan kata-kata bohong.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah saw. juga berkata, “Barangsiapa yang selama berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktikkanya, maka tidak ada nilainya bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semua itu tidak akan bisa kita lakukan kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam melaksankannya. Dengan begitu, puasa yang kita lakukan menghasilkan ganjaran dari Allah berupa ampunNya. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh iman dan kesungguhan, maka akan diampuni dosa-dosa yang pernah dilakukan.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)
Salah satu bentuk kesungguhan dalam berpuasa adalah, melakukan makan sahur sebelum tiba waktu subuh. Rasulullah saw. menerangkan, “Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan Anda tinggalkan, meskipun hana dengan seteguk air. Alah dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur.”
Selain sahur, menyegerakan berbuka ketika magrib tiba, juga bentuk kesungguhan kita dalam berpuasa. “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa,” begitu kata Rasulullah saw. Rasulullah saw. memberi contoh bersegera berbuka puasa walaupun hanya dengan ruthab (kurma mengkal), tamar (kurma), atau seteguk air. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Selama berpuasa, jangan lupa berdoa. Doa yang banyak. Sebab, doa orang yang berpuasa mustajab. Ini kata Rasulullah saw., “Ada tiga kelompok manusia yang doanya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah doa orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka.” (HR. Ahmad dan Turmudzi)
2. Membaca Al-Qur’an (Tilawah)
Al-Qur’an diturunkan perama kali di bulan Ramadhan. Maka tak heran jika Rasulullah saw. lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan dibandingkan di bulan-bulan lain. Imam Az-Zuhri berkata, “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita selain berpuasa adalah membaca Al-Qur’an.” Bacalah dengan tajwid yang baik dan tadabburi, pahami, dan amalkan isinya. Insya Allah, kita akan menjadi insan yang berkah.
Buat target. Jika di bulan-bulan lain kita khatam membaca Al-Qur’an dalam sebulan, maka di bulan Ramadhan kita bisa memasang target dua kali khatam. Lebih baik lagi jika ditambah dengan menghafal satu juz atau surat tertentu. Ini bisa dijadikan program unggulan bersama keluarga.
3. Memberikan makanan (Ith’amu ath-tha’am)
Amal Ramadhan yang juga dianjurkan Rasulullah saw. adalah memberikan santapan berbuka puasa kepada orang-orang yang berpuasa. “Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Turmudzi dan An-Nasa’i)
Sebenarnya memberi makan untuk orang berbuka hanyalah salah satu contoh bentuk kedermawanan yang ingin ditumbuhkan kepada kita. Masih banyak bentuk sedekah yang bisa kita lakukan jika kita punya kelebihan rezeki. Peduli dan sigap menolong orang lain adalah sifat yang ingin dilatih dari orang yang berpuasa.
4. Perhatikan kesehatan
Berpuasa adalah ibadah mahdhah. Tapi orang yang berpuasa juga sebenarnya adalah orang yang peduli dengan kesehatan. Makanya Rasulullah saw. berkata, “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.” Tak heran jika selama berpuasa Rasulullah saw. tetap memperhatikan kesehatan giginya dengan bersiwak, berobat dengan berbekam, dan memperhatikan penampilan, termasuk tidak berwajah cemberut.
5. Jaga keharmonisan keluarga
Puasa adalah ibadah yang khusus untuk Allah swt. Tapi, punya efek yang luas. Termasuk dalam mengharmoniskan hubungan keluarga. Jadi, berpuasa bukan berarti menjauh dari istri karena taqarrub kepada Allah sepanjang malam. Bukan juga tiada hari tanpa i’tikaf. Rasulullah saw. berpuasa, tapi juga memenuhi hak-hak keluarganya.
Dalam praktik keseharian, hanya di bulan Ramadhan kita bisa makan bersama secara komplit sekeluarga, baik ketika berbuka atau sahur. Di bulan lain hal ini sulit dilakukan. Keharmonisan keluarga juga bisa kita dapatkan dari shalat berjamaah dan tadarrus bersama.
6. Berdakwah
Selama Ramadhan kita punya kesempatan berdakwah yang luas. Karena, siapapun di bulan itu kondisi ruhiyahnya sedang baik sehingga siap menerima nasihat. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini. Rasulullah saw. bersabda, barangsiapa menunjuki kebaikan, baginya pahala sebagaimana orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun.
Jika mampu, jadilah pembicara di kultum ba’da sholat zhuhur, ashar, dan subuh di musholah atau masjid. Bisa juga menjadi penceramah di waktu tarawih. Jika tidak bisa berceramah, buat tulisan. Sebarkan ke orang-orang yang Anda temui. Jika tidak bisa, bisa mengambil artikel-artikel dari majalah, fotocopy, lalu sebarkan. Insya Allah, berkah.
Ini sebenarnya hanyalah langkah awal bagi kerja yang lebih serius lagi. Dengan melakukan hal-hal sederhana seperti di atas, sesungguhnya Anda sedang melatih diri untuk menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain. Kata Rasulullah saw., mukmin yang baik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.
7. Shalat Tawawih (Qiyamul Ramadhan)
Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyamul ramadhan). Rasulullah saw., karena khawatir akan dianggap menjadi shalat wajib, melaksanakan shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat tidak sepanjang Ramadhan. Ada yang meriwayatkan hanya tiga hari. Saat itu Rasulullah saw. melakukannya secara berjamaah sebanyak 11 rakaat dengan bacaan surat-surat yang panjang. Tapi, di saat kekhawatiran akan diwajibakannya shalat tarawih sudah tidak ada lagi, Umar bi Khattab menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih adalah 21 atau 23 rakaat (HR. Abdur Razzaq dan baihaqi).
Ibnu hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i berkata, “Beberapa riwayat yang sampai kepada kita tentang jumlah rakaat shalat tarawih menyiratkan ragam shalat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing. Kadang ia mampu melaksanakan shalat 11 rakaat, kadang 21, dan terkadang 23 rakaat, tergantung semangat dan antusiasmenya masing-masing. Dahulu mereka shalat 11 rakaat dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan dengan tongkat penyangga, sedangkan mereka shalat 21 atau 23 rakaat, mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek dengan tetap memperhatikan masalah thuma’ninah sehingga tidak membuat mereka sulit.”
Jadi, silakan Anda qiyamul ramadhan sesuai dengan kadar kemampuan dan antusiasme Anda.
8. I’tikaf
Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah saw. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribada kepada Allah swt. Abu Sa’id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah beri’tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Sayangnya, ibadah ini dianggap berat oleh kebanyakan orang Islam, jadi sedikit yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, “Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan i’tikaf padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat.”
Mudah-mudahan Anda bukan dari golongan yang kebanyakan itu.
9. Lailatul Qadar
Ada bulan Ramadhan ada satu malam yang istimewa: lailatul qadar, malam yang penuh berkah. Malam itu nilainya sama dengan seribu bulan. Rasulullah saw. amat menjaga-jaga untuk bida meraih lailatul qadar. Maka, Beliau menyuruh kita mencarinya di malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kenapa? Karena, “Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Begitu kata Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bahkan, untuk mendapatkan malam penuh berkah itu, Rasulullah saw. mengajarkan kita sebuah doa, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.” Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ampunan dan Engkaulah Maha Pemberi Ampun. Ampunilah aku.
10. Umrah
Jika Anda punya rezeki cukup, pergilah umrah di bulan Ramadhan. Karena, pahalanya akan berlipat-lipat. Rasulullah saw. berkata kepada Ummu Sinan, seorang wanita Anshar, agar apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara denagn haji bersama Rasulullah saw. (HR. Bukhari dan Muslim)
11. Zakat Fitrah
Zakat fitrah wajib dibayarkan sebelum hari Ramadhan berakhir oleh umat Islam, baik lelaki-perempuan, dewasa maupun anak-anak. Tujuannya untuk mensucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu fakir miskin.
12. Perbanyaklah Taubat
Selama bulan Ramadhan Allah swt. membukakan pintu ampunan bagi hamba-hambanya dan setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api neraka. Karena itu, bulan Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita untuk bertaubat kembali ke fitrah kita.
tulisan seorang ulama Timur Tengah, Syaikh Abdullah Jarullah, yang dialihbahasakan dari bukunya Khulashatul Kalam . Dalam buku itu beliau memberi nasehat kepada umat Islam agar melakukan amal-amal Ramadhan sebagai berikut:
l. Lakukanlah puasa dengan penuh keimanan dan semata-mata mengharap pahala dari Allah swt, semoga dengan demikian Ia mengampuni dosa-dosa Anda terdahulu;
2. Janganlah membatalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan agama, karena hal itu merupakan dosa besar;
3.Lakukanlah salat Tarawih dan salat malam pada malam-malam Ramadhan, teristimewa pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan semata-mata mengharap pahala dari Allah swt;
4. Pastikan, makanan, minuman dan pakaian Anda berasal dari yang halal agar amalan Anda diterima Tuhan dan agar doa Anda didengar-Nya
5. Berilah makanan kepada orang-orang miskin yang berpuasa agar Anda memperoleh pahala seperti pahala yang mereka peroleh dari berpuasa;
6. Lakukan salat fardhu pada waktunya agar Anda memperoleh perlindungan dari Tuhan;
7. Perbanyaklah berinfaq karena infaq paling baik adalah yang dilakukan pada bulan Ramadhan;
8. Gunakanlah waktu Anda hanya untuk berbuat baik kepada sesama dan bukan sebaliknya, kareana Anda akan dimintai pertanggungjawaban atas segala tindak tanduk Anda;
9. Bagi mereka yang mampu, lakukanlah umrah, karena melakukan umrah di bulan Ramadhan sama besar pahalanya dengan mengerjakan ibadah haji;
10. Guna menjaga kesegaran tubuh, lakukanlah makan sahur pada bagian terakhir malam menjelang terbit fajar;
11. Berbukalah segera setelah matahari terbenam agar Anda memperoleh kasih Tuhan;
12. Sediakan pula waktu Anda membaca Al-Qur’an dan cobalah menangkap makna yang terkandung di dalamnya;
13. Pelihara lidah Anda dari berkata bohong, omongan cabul, mempergunjingkan dan mencemarkan nama baik orang, karena semua itu mengurangi pahala puasa Anda;
14. Jagalah agar puasa tidak membuat Anda kehilangan kesabaran hanya karena soal-soal sepele. Sebaliknya, upayakan agar puasa menimbulkan kedamaian dan ketenangan jiwa Anda;
15. Tetaplah berada dalam kondisi taqwa, dengan arti sadar sepenuhnya bahwa Tuhan selalu memantau perbuatan Anda baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan;
16. Dalam berpuasa perbanyaklah mengingat Tuhan (zikrullah), demikian juga ketika berbuka puasa dan ketika makan sahur, karena mengingat Tuhan itu merupakan salah satu cara memperoleh ampunan dari-Nya;
17. Perbanyaklah doa untuk diri dan orang tua Anda serta seluruh kaum muslimin karena doa orang berpuasa didengar Tuhan;
18. Bertobatlah secara tulus dengan cara bertekad tidak akan mengulangi lagi di masa datang dosa yang pernah dibuat, karena Allah akan menerima tobat orang yang tulus;
19. Mohonkan salawat dan salam atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya;
20.Lakukanlah puasa enam hari pada bulan Syawwal, karena barangsiapa yang berpuasa selama Ramadhan dan kemudian diikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, ia seolah-olah melakukan puasa sepanjang tahun;
21.. Sehabis Ramadhan, tetaplah dalam kondisi beriman dan bertaqwa serta lakukan amal saleh sampai ajal menjemput Anda.
dari berbagai sumber
Memperbaiki Sistem Pendidikan dengan Mengadopsi Nilai-Nilai Islam untuk Menuju Masyarakat Madani May 30, 2010
Pendidikan merupakan salah satu kunci keberhasilan umat muslim di dunia dan di akhirat. Manusia diciptakan di bumi untuk beribadah kepada Allah (Adz Dzariyaat: 56) dan menjadi khalifah di bumi. Untuk menjalankan tugas tersebut, manusia memerlukan ilmu di samping iman yang dapat diperoleh melalui pendidikan. Pada zaman Rasulullah, pendidikan dapat merubah masyarakat jahiliyah menuju umat terbaik. Pendidikan akan mengantarkan manusia menuju ilmu yang dapat menghilangkan kebodohan dan penghalang menuju cahaya Islam. Selain itu Allah juga menjanjikan derajat yang lebih tinggi bagi orang yang beriman dan berilmu. “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujaadilah:11). Dalam ayat tersebut jelas bahwa iman saja tidak cukup, namun diperlukan ilmu yang dapat mendukung manusia menuju ketakwaan dalam ibadah kepada Allah.
Tujuan pendidikan yaitu untuk membentuk nilai diri manusia sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kepribadian, moralitas, dan ketrampilan. Dengan pendidikan diharapkan tercapai adanya penyampaian nilai dan ilmu sehingga tercipta keseimbangan ilmu dan amal yaitu manusia tidak hanya cerdas tapi juga bagus akhlaknya. Terdapat hubungan antara misi Islam dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan tidak akan tercapai tanpa misi islam. Islam merupakan agama yang sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya sangat solutif terhadap permasalahan pendidikan.
Pendidikan Islam mencakup totalitas tiga aspek kehidupan yaitu ruhiyah (ruh), fikriyah (pemahaman,otak), dan amaliyah (amal, jasad) yang dilaksanakan secara bertahap di seluruh bidang kehidupan. Pendidikan Islam bersumber dari Al Qur’an sebagai pedoman manusia untuk menyelamatkan dirinya di dunia maupun akhirat. Seluruh ajaran Islam sangat konkret, bukan sekedar konsep, dan jelas mana yang haq dan yang batil sehingga dapat memecahkan masalah-masalah secara konkret. Dalam Qur’an Surat Al Jumuah ayat 2, Allah berfirman, “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. Islam merupakan agama yang universal, rahmad bagi seluruh alam, dan relevan di segala zaman. Itu artinya, konsep-konsep Islam dapat digunakan hingga kapan pun dan oleh siapa pun. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, semakin membuktikan mukjizat Al Qur’an itu sendiri.
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, terkadang hati kita teriris. Betapa tidak, fakta yang ada menunjukkan bahwa dalam pengetahuan, teknologi dan pendidikan, Indonesia termasuk terbelakang. Padahal kita tahu mayoritas penduduk Indonesia adalah umat muslim. Berdasarkan laporan United Nations Development Programme (UNDP) pada Human Development Report 2005 ternyata Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara di dunia. Berbagai data perbandingan antar negara yang diterbitkan oleh UNESCO dan Bank Dunia menempatkan Indonesia yang terendah dalam hal pembiayaan pendidikan (www.undp.or.id). Kemudian timbul pertanyaan bagaimana umat Islam akan memperoleh kejayaan kembali jika kualitas pendidikan dan jumlah ahli (master), yang merupakan salah satu faktor memperoleh kemenangan kembali, masih rendah. Oleh karena itu, kita sebagai anak bangsa perlu terus mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan yang akan menunjang kualitas kehidupan.
Menurut UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan mengkaji arti pendidikan tersebut, kita menemukan beberapa kata kunci yaitu pembelajaran, aktif, spiritual keagamaan, kepribadian, akhlaq, dan ketrampilan. Jika undang-undang yang telah dibuat tersebut dapat diimplementasikan ke dalam kebijakan pengajaran dan pendidikan di Indonesia seharusnya mampu membuat Indonesia bersaing di dunia global. Terlebih jika kita dapat mengkolaborasikan dengan konsep-konsep pendidikan islami. Sayangnya, menilik kenyataan program dan sistem pendidikan saat ini masih jauh dari nilai-nilai dalam Islam dan undang-undang tersebut. Memang ada beberapa institusi pendidikan yang berani mengembangkan sistem pendidikan yang kompetitif, namun secara umum belum tercipta kebijakan dan sistem mendasar nasional yang mendukung pendidikan islami yang modern.
Untuk mewujudkan sistem pendidikan Islami yang berkualitas, kita perlu mengidentifikasi masalah-masalah yang selama ini mengiringi perkembangan pendidikan di Indonesia dan kemudian mencari solusinya. Berikut merupakan pemaparan usulan perbaikan dan fenomena pendidikan di Indonesia. Pertama, menanamkan nilai-nilai Islam di dalam setiap jenjang pendidikan termasuk pendidikan dalam keluarga di rumah yang akan membentuk karakter kehidupan sehari-hari. Ilmu dalam Islam merupakan paket lengkap yang mengatur segala sisi kehidupan manusia. Standar terlengkap yang memberi keamanan dan naungan jauh lebih baik dibanding segala standar yang ada. Islam mengatur dari ilmu syariah yang bersifat wajib ‘ain, ilmu umum yang diperlukan dalam rangka melaksanakan tugas sebagai khilafah dan bersifat fardhu kifayah, ilmu yang berhubungan dengan sesama manusia seperti perdagangan, warisan silaturahim, hubungan dengan orang kafir, hukum, hingga cara-cara teknis seperti adab bertamu, adab memasuki kamar orang tua, dan cara bersuci.
Kedua, pengimplementasian nilai-nilai Islam ke dalam pendidikan di Indonesia disesuaikan dengan budaya dan karakter bangsa Indonesia. Indonesia merupakan negara yang tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri, masyarakatnya dapat menerima yang bersifat tengah-tengah. Budaya ada yang bisa diadopsi dan ada yang tidak bisa diadopsi. Budaya yang tidak bisa diadopsi yaitu budaya yang bertentangan dengan Al Qur’an dan mengarah pada kesyirikan. Contoh budaya pada masyarakat musyrik Quraisy yang diadopsi adalah ibadah tawaf, namun budaya ini telah dimodifikasi karena budaya aslinya mereka bertelanjang. Karakter bangasa Indonesia yang lain adalah gotong royong dan berbuat baik kepada orang lain, Budaya ini sangat sesuai dengan perintah Islam untuk senantiasa berjamaah.
Ketiga, mengacu pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1, pendidikan Islami sebaiknya lebih mengarah pada sistem pembelajaran bukan hanya pengajaran. Pada sistem pembelajaran, pendidik membiarkan muridnya beraksi pada obyek pelajaran sehingga mereka lebih kritis mengemukakan pertanyaan dan pendapat. Keempat, pengorganisasian yang mengarah pada minat dan bakat. Saat ini, penjurusan baru berada pada kelas dua atau tiga SMU. Sebelumnya, murid dipaksa untuk mempelajari banyak hal bahkan hal-hal yang kurang mereka minati dan bukan pelajaran dasar. Seringkali mereka dikatakan bodoh karena tidak naik kelas atau mendapat nilai merah pada pelajaran tertentu. Kenyataannya, mereka mungkin bukan bodoh tapi memang tidak menguasai bidang tertentu tapi sebenarnya mereka sangat berbakat pada bidang lainnya.
Kelima, orang tua harus menyadari pentingnya pola pendidikan untuk anak-anak mereka. Sebaiknya, anak-anak usia TK dan SD diberikan tahfidz (mengahafal Al Qur’an) karena anak-anak usia mereka akan sangat cepat menyerap sesuatu. Pada usia remaja, SMP dan SMU sebaiknya mereka diberi pelajaran yang dominan mengenai ilmu syariah sebagai pembentukan dasar ibadah yang benar. Sekolah yang tepat adalah pondok meskipun tidak menutup kemungkinan sekolah umum yang terjaga lingkungannya dengan tetap memberi asupan materi tentang ilmu syariah secara non formal.
Keenam, proses pendidikan yang bertahap dan terintegrasi antar semua aspek kehidupan dan berinteraksi dengan lingkungan. Integritas aspek di sini maksudnya dengan memperhatikan keluhuran moral serta iman dan takwa. Kita ketahui bersama, syarat kelulusan sekolah baik SD, SMP, maupun SMU adalah pada UAN yang hanya tiga hari, enam mata pelajaran, dan itupun masih banyak ditemukan kecurangan di sana sini. Hal ini menunjukkan bahwa proses belajar kita masih beorientasi pada nilai kuantitatif, sedangkan nilai kualitatif dan keutamaan moral kurang ditekankan. Pelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan hanya sebatas teori, akibatnya dapat dilihat dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan setelah murid lepas dari pendidikan. Tingginya tingkat korupsi dan pelanggaran hukum merupakan salah satu indikasi tidak adanya penekanan moral pada pendidikan. Kurikulum masih terlalu normatif.
Ketujuh, pemerintah sebaiknya memberikan perhatian khusus pada kualitas pendidik dan perhargaan untuk ilmuwan. Jumlah ahli dan pendidik di Indonesia masih kalah jauh dengan negara-negara berpenduduk Yahudi dan Nasrani. Jika kita mengintip passing grade pada SPMB, kita akan menemukan bahwa passing grade untuk jurusan-jurusan Fakultas Keguruan masih di bawah jurusan Kedokteran, Teknik, atau Komunikasi. Biasanya, passing grade yang cukup tinggi hanya pada jurusan Pendidikan Matematika atau Bahasa Inggris. Ini merupakan salah satu indikasi kurangnya kualitas pendidik meskipun passing grade bukan satu-satunya faktor yang dapat menggambarkan kualitas. Penghargaan untuk guru dan ilmuwan pun masih sangat minim. Gaji guru tidak ada apa-apanya dibanding gaji pejabat pemerintahan, penghargaan untuk lomba-lomba ilmiah, riset ilmiah dan teknologi pun masih lebih rendah di banding lomba menyanyi, modelling. Akibatnya banyak pendidik dan ilmuwan yang justru mengabdikan ilmunya untuk negara lain. Contohnya, hampir 300 dosen dan peneliti asal Indonesia mengabdikan keilmuannya di Malaysia (www.detiknews.com, 8 Mei 2010) dan masih banyak contoh yang membuat prihatin.
Kedelapan, saat ini fungsi pendidikan masih bias dan setengah-setengah sehingga lembaga-lembaga pendidikan perlu mengadakan re-design pada kurikulumnya. Perlu ada totalitas dalam suatu sistem pendidikan apakah mereka akan berfokus pada ilmu-ilmu agama yang akan melahirkan ulama, ataukah berfokus pada ilmu-ilmu umum dengan penerapan konsep-konsep Islami pada bidang-bidang tertentu.
Kesembilan, sistem pendidikan yang masih labil. Seringkali kurikulum berganti-ganti sehingga murid merasa menjadi kelinci percobaan. Disini, perlu ada sebuah sistem yang kuat untuk pendidikan. Terakhir, masalah klasik yang sebenarnya sangat penting yaitu dana. Bidang pendidikan yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa sudah selayaknya mendapat porsi lebih.
Kita sering mendengar istilah civil society atau dapat diartikan sebagai masyarakat madani. Masyarakat madani yang paling ideal untuk dicontoh adalah penduduk Madinah karena mereka hidup langsung di bawah pendidikan Rasulullah Salallahu alaihi wassalam. Masyarakat Madinah hidup dalam keadilan sosial di tengah pluralisme, menjunjung norma-norma keagamaan atau nilai-nilai Islam, kesejahteraan, pensejajaran hukum, perlindungan kaum minoritas, nilai kehidupan yang aman, nyaman, tinggi, dan lain-lain. Untuk menuju cita-cita membentuk masyarakat madani maka diperlukan tingkat pendidikan yang tinggi. Manusia yang berkualitas merupakan aset terbesar suatu bangsa, lebih dari aset kekayaan alam, kepemilikan dan lain-lain.
kamar belajar
mid night
DAFTAR PUSTAKA
www.undp.or.id diakses pada 8 Mei 2010
www.detiknews.com diakses pada 8 Mei 2010
Inilah Dunia October 10, 2009

beauty
Setelah diingatkan oleh seorang ihwah pagi-pagi dalam taujihnya yang panjang dan lebar, Alhamdulillah masih banyak pula yang terus menjagaku, sebagai pengganti kekosongan minggu ini, minggu kemarin, semoga tidak minggu depan. Sore ini masih dingitkan sekaligus men-charge semangat dari sumber yang lain.
Allah berfirman
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Al Kahfi : 17)
Sebuah hadist shahih dinyatakan, “Seberat-berat manusia (dalam mendapat) cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang sekualitas, dan orang-orang sekualitas.” (H.R. Ath Thabrani)
Dalam hadist lain, “Jika seseorang luas dalam agamanya, maka musibah yang akan ditimpakan akan berat. Jika agama yang dimilikinya tipis, maka akan ditimpakan sesuai kadar agamanya.”
Ujian atau cobaan adalah perkara yang pasti dalam dunia ini. Janganlah gusar ketika mendapat ‘jatah kasar’, jangan malah mencoba berontak keluar darinya.
“Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan mengujinya.” (H.R. Ahmad)
Semilir kesejukan tertiup dari sebuah hadist, yang berucap, “Tidaklah menimpa seorang muslim sebuah musibah, kecelakaan, kesusahan, kesedihan, penyakit, ataupun kesulitan hingga sekecil duri yang menancap, kecuali Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”(H.R. Ahmad, Bukhori, Muslim)
Juga firman Nya, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar :10) Karunia terbesar yang diberikan kepada seorang hamba adalah sabar. Sungguh beruntung jika telah berhasil membiasakan diri merasakan betapa guyuran pahala-pahala Allah terus membahasi hidup kita.
Jadi tambah semangat menjalani hari-hariku, menyelesaikan semua tantangan hari ini (karena setiap hambatan adalah tantangan), n life is never flat. Semangat juga buat semua teman yang sedang dirundung duka.
Maroji’ : Kaya Hati, Kaya Harta pg. 84-85
Korelasi antara Praktikum, Tugas, dan Kefuturan October 10, 2009

so crowded
Jadi inget lagu jaman dulu saat masih ospek,
Disini bukan tempat anak-anak malas
Tempatnya para pekerja keras
Yup, bener banget, setiap keputusan yang kita buat, pasti ada konsekuensinya. Memang begitulah, teknik ga ada matinya, harus siap mental, siap fisik, tak boleh manja, siap tak tidur, bertabrakan, berterbangan..(hiyy horor deh)
Terlebih jika kita telah berani menyeburkan diri dalam irama kehidupan sejati. Berani mengawali harus berani menjalani, ibarat pohon, daun yang berguguran kan menjadi sampah yang usang, tergantikan oleh tunas-tunas baru yang lalu tumbuh menjadi hijau. Ibarat kereta, gerbongnya dalam satu kesatuan utuh akan tetap melaju hingga sampai tempat tujuan meski salah satu penumpangya turun.
’Dan perjuangan ini tidak diusung oleh orang-orang lemah. Dan semua akan terseleksi alam.’
Sebelumnya, sekelumit tentang faktor dependent dan independent,
Praktikum dan tugas
Sebagai makanan sehari-hari mahasiswa, yang pasti hidup akan terasa hambar tanpanya. Kalau TK pulang jam pagi, SD pulang siang, SMP pulang ashar, SMA pulang maghrib, maka kuliah kadang malam kadang pagi (peningkatan? Masya Allah..)
Kuliah adalah amanah, menuntut ilmu adalah ibadah dan tentunya balik lagi, sesuatu yang kita kerjakan (baca : perjuangkan) akan menjadi ibadah jika dengan niatan yang benar dan akan menjadi ilmu jika kita dapat mengambil hikmahnya.
Amanah non Kuliah
Overload? Sebenarnya bukan, mungkin kita yang tidak dapat menerapkan prinsip managemen waktu dengan tepat, tidak dapat mengaplikasikan skala prioritas dengan sempurna.
Futur
Secara bahasa : terputus atau tersambung , Malas, lamban atau kendur setelah rajin
Secara istilah :suatu penyakit yang dapat menimpa seseorang yang berjuang di jalan Allah
Lalu apa hubungannya aktivitas kampus dengan tingkat kefuturan?
Ada, ga ada hubungannya. Mungkin memang terdapat korelasi disana, tetapi nilai signifikansinya tergantung pribadi masing-masing.
Yang jelas apapun dapat menyebabkan penyakit hati yang satu ini dan mungkin salah satunya adalah kesibukan duniawi kita yang tidak diniatkan karena Allah, niatan yang berbelok dan hal-hal yang berlebihan
”Dan orang yang berpaling dari mencintai Allah, niscaya Allah akan mengujinya dengan kecintaan kepada selainnya, lalu ia merana karenanya.”
Semoga Allah senantiasa memalingkan hati-hati kita pada ketaatan dan cinta padaNya.
Iman dan futur, memang fenomena rutinitas kehidupan seorang muslim. Namun semoga kita tidak jatuh terlalu dalam di jurang kefuturan, untuk itu tak perlu berlama-lama. Langkah selanjutnya yaitu kenali penyebab-penyebab futur dan cara membasminya sebagai berikut :
Faktor penyebab futur menurut Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas sbb:
1. Hilangnya keikhlasan
Ikhlas adalah ketika kita tidak lagi merasakan keikhlasan itu ada. Ikhlas letaknya dalam hati. Namun ikhlas sering ternodai dengan melencengnya niat di tengan jalan
2. Lemahnya ilmu syar’i
Kurangnya ilmu akan menyebabkan kita beranggapan apa yang kita lakukan ini tidak salah, beribadah denga cara yang kurang tepat sehingga berakibat pada kefuturan akibat hal-hal kecil yang bertumpuk.
3. Kecenderungan pada dunia dan melupakan akhirat
Dunia oriented, padahal telah jelas ketika kita berusaha mengejar akhirat maka kita akan mendapat dunia pula
4. Fitnah (cobaan) berupa istri dan anak
Kesenangan dunia memang memabukkan. Bagi yang belum berkeluarga pun fitnah dan godaan akan datang dari manapun
5. Hidup di tengah masyarakat yang rusak
6. Berteman dengan orang yang memiliki keinginan yang lemah
Terkadang berteman dengan seorang idealis yang teguh di atas prinsip meski ia terasing tak menjadi masalah (asal idelismenya tidak berlebihan). Kita butuh seseorang yang tidak hanya dapat menemani disaat kita melihat bintang tapi juga men-support saat kita sedang terjatuh dalam kefuturan
7. Melakukan dosa dan maksiat serta makan yang haram
Melakukan dosa yang tidak segera dibarengi dengan taubat dan diirngi dengan kebaikan, meskipun kecil namun akan membawa kita pada kefuturan.
Ibarat kuman, kefuturan dapat menjangkiti kita di tiap waktu, kapan saja di mana saja, sehingga selain memiliki tameng untuk menjaga hati kita, juga harus mempersiapkan senjata untuk mengusirnya yaitu
1. Menjauhkan diri dari dosa kecil
2. Tekun dan teratur dalam amalan meskipun sedikit
3. Sedikit mengendurkan usaha di jalan Allah
4. Mengingat mati
5. Mengingat syurga dan neraka dan apa yang di dalamnya.
6. Mengambil agama Islam secara kaffah
Satu hal yang menurut saya juga paling ampuh untuk menghindari maupun menghadapi kefuturan ini adalah komunitas yang baik, komunitas orang-orang sholeh. Disadari atau tidak lingkungan lah yang akan membentuk kita, membentuk kita pada satu pola hidup. Ketika dihadapkan pada lingkungan yang ’ketat’, melakukan satu kesalahan pun akan membuat kita cukup ’bersalah’. Sebaliknya pada lingkungan yang ’longgar’ pertama kita akan merasa ini salah, saat berikutnya kita akan merasakan mungkin tidak apa karena banyak dari mereka juga yang melakukan, dan saat selanjutnya kita sudah tidak sadar jika ini salah. Masya Allah, betapa cerdasnya syetan dibalik semua ini(tapi kita harus lebih cerdas dunn..). Kita butuh kontrol, peringatan berulang, dan di situlah mengapa teman-teman dan lingkungan yang kondusif begitu berarti. Ketika teman-teman dekat kita saja juga sedang terjerembab segera tinggalkan dan cari sesuatu yang kita tidak nyaman tapi kita yakin akan membawa perubahan lebih baik (Bukan habis manis, sepah dibuang, tapi lebih kepada upaya penyelamatan diri, jiwa, dan iman.)
Saat kita merasa pengawasan Allah tidak ada, maka berhati-hatilah. Ketika kita masih dikaruniai rasa malu dan bersalah ketika melakukan maksiat sekecil dzarrah, ketika masih ada yang mengingatkan meskipun itu menyakitkan, ketika teguran kecil berupa kekecewaan datang, ketika kita dipersulit dalam melaksanakan sesuatu yang terlihat indah namun mematukan, bersyukurlah, Allah masih sayang kita..
Allah berfirman.
Artinya : “Barangsiapa yang bertawaqal kepada Allah, niscaya Allah yang mencukupinya.”[Ath-Thalaq : 3]
Yakni mencukupi segala yang dibutuhkannya baik dalam kehidupan religinya ataupun urusan duniawinya.
Kita memohon kepada Allah, semoga Dia mengaruniai kita kesejahteraan, kekuatan dan keteguhan hati, dengan lantaran tawakal sepenuhnya kepadaNya, yang dengan itu Allah menjamin bagi orang-orang yang bertawakal segala kebaikan dan menangkis segala cobaan maupun marabahaya.
>> Semoga dapat memberi pengingatan untukku dan untuk kita semua

Hati-hati dengan Sholat Kita May 3, 2009

>> intisari PWS @ ML
Sholat yang menjadikan dosa kita diampuni Allah yaitu apabila :
1. Menyempurnakan wudhu
2. Menjaga waktu sholat
3. Menyempurnakan ruku’
4. Menyempurnakan sujud
5. Dilakukan dengan khusyu’ (punya keyakinan bahwa itu sholat terakhir, tumbuh perasaan bahwa sholat kita dilihat Allah)
Serta jangan menyepelekan sholat sunah karena dapat menutup kekurangan pada sholat fardhu.
”Barang siapa yang selalu mengerjakan sholat sunnah 12 rakaat (dalam sehari semalam), maka kelak Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga.(H.R. At-Tirmidzi & Ibnu Majah).
Ska, 250409
Stay cool n love the other May 3, 2009
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah bersabda, “ Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut? Para sahabat menjawab : “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang – orang yang habis semua kekayaan dan perhiasannya. “Rasulullah S.A.W bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang dating di hari kiamat dengan pahala sholatnya, puasa, dan zakat. Tetapi di samping itu ia mencaci maki sana – sini, menuduh si ini, memakan harta si ini , dan menumpahkan darah si itu dan memukul si fulan. Maka diambillah kebaikannya dan kebaikan yang ada untuk mengganti kejahatannya dan apabila telah habis semuanya padahal belum terbayar semua tuntutan orang-orang lainnya, maka diambillah semua kejahatan orang-orang yang pernah ia aniaya untuk ditimpakan padanya, kemudian ia diseret ke neraka.” [H.R. Muslim]
Sudahkah kita merasa cukup dengan amalan kita selama ini untuk dapat membawa kita ke JannahNya dan merasakan kenikmatan tertinggi ketika dapat melihat wajahNya? Jika jawabannya ‘ya’, maka di sini kita perlu sangat berhati-hati. Banyak amalan yang besar namun ternyata bernilai kecil bahkan tidak sama sekali karena kesalahan niat, kesalahan cara atau ternodai keikhlasan di tengah perjalanan. Begitu juga dengan makna hadist di atas, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi dan bangkrut.
Maka dari itu, kontrol sikap, emosi, dan lisan menjadi poin penting di sini. Tidak selamanya kebencian, rasa tidak puas , harus dilampiaskan. Berbicara yang perlu saja atau diam. Karena terkadang izzah kita juga dinilai dari seberapa kuat kita dapat menjaga lisan dan tangan, seberapa kemampuan kita untuk tidak terpancing situasi.
Skh, 260409