ora et labora

mencari dengan hati . asa . doa

DMAIC vs DMADV November 9, 2010

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 6:38 pm
Tags: , ,

Six Sigma merupakan sebuah metodologi terstruktur untuk memperbaiki proses yang difokuskan pada usaha mengurangi variasi proses (process variances) sekaligus mengurangi cacat (produk/jasa yang diluar spesifikasi) dengan menggunakan statistik dan problem solving tools secara intensif.

dari arti per kata six sigma memiliki arti

Six yang artinya enam

Sigma yang merupakan simbul dari standar deviasi, dan biasa dilambangkan dengan σ.

Six Sigma sering dituliskan dalam simbul 6σ.

 

Beda Six Sigma DMAIC dengan DMADV

DMAIC merupakan singkatan dari :

  • Define, yaitu penetapan masalah yang juga bisa merupakan keluhan dari pelanggan, tujuan dari suatu proyek, atau spesifikasi yang diinginkan
  • Measure, yaitu pengukuran aspek-aspek kunci dari proses yang ada saat ini dan proses pengumpulan data-data yang relevan
  • Analysis, yaitu melakukan analisa terhadap data-data yang telah dikumpulkan untuk dilakukan penyelidikan dan memverifikasi hubungan sebab-akibat (akar permasalahan).
  • Improve, yaitu perbaikan atau optimalisasi dari proses yang ada saat ini berdasarkan analisis data menggunakan teknik-teknik misalnya design experiment, poka yoke atau pembuktian kesalahan yang selanjutnya menciptakan atau menetapkan standar baru
  • Control, yaitu pengendalian atau pemantauan terhadap proses atau standar baru yang telah ditetapkan untuk memastikan bahwa setiap penyimpangan harus telah dikoreksi sebelum terjadi defect (kerusakan).

Sedangkan DMADV (juga dikenal dengan nama DFSS – Define For Six Sigma) adalah singkatan dari:

  • Define, yaitu pemastian bahwa hasil akhir dari desain akan konsisten dengan keinginan/kebutuhan pelanggan dan strategi perusahaan
  • Measure, yaitu ukur dan identifikasi hal-hal kritis yang berpengaruh terhadap kualitas, kapabilitas produk, kapabilitas proses produksi dan resiko
  • Analysis, yaitu Analisis untuk pengembangan dan desain alternatif, ciptakan desain dengan level yang tinggi dan evaluasi kapabilitas desain untuk mendapatkan desain yang terbaik
  • Design, yaitu detail dari desain, optimasi dan rencanakan verifikasi dari desain.
  • Verify, yaitu pemastian desain, set-up, implementasi dari proses produksi dan sampaikan rancangan tersebut kepada pemilik proses.

DMAIC digunakan untuk meningkatkan proses yang sudah ada sebelumnya, sedangkan DMADV digunakan untuk menghasilkan desain produk atau proses baru untuk kinerja proses yang dapat diprediksikan dan bebas defect.

DMADV, seperti halnya DMAIC, juga terdiri atas lima langkah yang harus dilaksanakan, yaitu:

  • Define: mendefinisikan tujuan-tujuan dari aktivitas desain yang konsisten dengan keinginan konsumen dan strategi bisnis perusahaan.
  • Measure: mengukur dan mengidentifikasi CTQ (critical to quality), kapabilitas produk, kapabilitas proses produksi, dan taksiran resiko.
  • Analyze: menganalisa alternatif-alternatif yang dirancang dan dibangun, menciptakan rancangan tingkat atas dan mengevaluasi kapabilitas rancangan untuk memilih rancangan yang terbaik.
  • Design: merancang detail, mengoptimalkan rancangan, dan merencanakan verivikasi rancangan. Fase ini mungkin saja membutuhkan proses simulasi.
  • Verify: menguji rancangan dan mengimplementasikan proses produksi dan menyerahkannya pada pemilik proses.

 

Persamaan antara DMAIC dengan DMADV

Kedua metode ini mempunyai kesamaan, antara lain:

  1. Kedua metode Six Sigma ini digunakan untuk mengontrol tingkat kesalahan di bawah 3,4 per juta peluang (per million opportunities).
  2. Merupakan solusi melalui pendekatan intensif terhadap data. Intuisi tidak mempunyai tempat di Six Sigma,hanya mempertimbangkan fakta.
  3. Merupakan metode untuk membantu bisnis memenuhi angka bottom-line finansialnya.
  4. Diimplementasi dengan bantuan pemilik proses.

Perbedaan antara DMAIC dengan DMADV

DMAIC merupakan singkatan dari :

Define/mendefinisikan : mendefinisikan tujuan dari proyek dan keinginan pelanggan.

Measure/mengukur : mengukur proses untuk menentukan tingkat performansinya sekarang.

Analyze/menganalisa : menganalisa dan menentukan akar dari permasalahan.

Improve/mengembangkan : mengembangkan proses dengan menghilangkan kesalahan.

Control/pengawasan : mengadakan pengawasan terhadap performansi proses di masa depan.

DMAIC digunakan ketika suatu produk atau proses telah ada pada perusahaan tersebut, tetapi tida memnuhi standar kualitas dan keingin dari pelanggan.

DMADV merupakan singkatan dari :

Define/mendefinisikan : mendefinisikan tujuan dari proyek dan keinginan pelanggan.

Measure/mengukur : mengukur dan menentukan spesifikasi berdasarkan keinginan pelanggan

Analyze/menganalisis : menganalisa pilihan proses yang ada untuk emenuhi keinginan pelanggan.

Design/mendesain : mendesain proses setelah detail untuk memenuhi keinginan pelanggan.

Verify/verifikasi : menverifikasi performansi dari desain dan kemampuannya untuk memenuhi keinginan pelanggan.

Metode DMADV ini digunakan ketika suatu proses atau produk belum ada di perusahaan tersebut dan perlu dikembangkan. Ataupun suatu proses atau produk telah ada dan telah dioptimasi dengan menggunakan metode DMAIC atau lainnya, tetapi tetap belum memenuhi keinginan pelanggan dan level Six Sigma.

 

MMH (Material Handling Production) July 24, 2010

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 7:29 pm

Ongkos Material Handling

Di dalam merancang tata letak pabrik, maka aktivitas pemindahan bahan merupakan salah satu factor yang cukup penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan. Aktivitas pemindahan tersebut dapat ditentukan dengan terlebih dahulu memperhatikan aliran bahan yang terjadi dalam suatu operasi. Selanjutnya hal yang harus diperhatikan adalah tipe layout yang akan digunakan.

Beberapa aktivitas pemindahan bahan yang perlu diperhitungkan adalah sebagai berikut:

  • Pemindahan bahan dari gudang bahan baku menuju departemen fabrikasi maupun departemen assembling.
  • Pemindahan bahan yang terjadi di proses satu jenis mesin menuju satu jenis mesin yang lainnya.
  • Pemindahan bahan dari departemen assembling menuju gudang barang jadi.

Setelah diketahui aktivitas-aktivitas pemindahan yang terjadi, maka selanjutnya dapat dihitung ongkos material handling yang terjadi akibat aktivitas-aktivitas yang ada tersebut. Beberapa factor yang mempengaruhi perhitungan ongkos material handling adalah sebagai berikut:

Alat yang digunakan

Dalam menentukan alat angkut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Berat material disesuaikan dengan daya angkut maksimal alat tersebut
  • Bentuk dan jenis material serta ukuran luasnya disesuaikan dengan daya tampung alat angkut
  • Sifat material, dimana harus diperhatikan kemungkinan menggunakan alat angkut khusus

Setelah ditentukan alat angkut yang akan digunakan, maka selanjutnya dapat ditentukan ongkos alat angkut berdasarkan jarak tempuh (meter gerakan)

Jarak pengangkutan

Perhitungan OMH ini merupakan perhitungan tahap pertama, karena akan dilakukan perhitungan OMH yang merupakan revisi dari perhitungan tahap pertama. Pada perhitungan tahap pertama ini, jarak antara kelompok mesin atau departemen yang mengalami aktivitas pengangkutan diasumsikan berdampingan. Selain itu untuk mengoptimalkan jarak antar aktivitas tersebut, maka kelompok mesin departemen untuk sementara diasumsikan berbentuk bujursangkar.

Cara pengangkutan

Berdasarkan hasil perhitungan terdahulu (OPC, Routing Sheet, dan MPPC), maka dapat ditentukan cara pengangkutan yang akan dilakukan. Pada dasarnya setelah ditentukan alat angkut serta jarak untuk setiap pengangkutan, maka OMH dapat diketahui, dimana:

Total OMH = (ongkos alat angkut/meter gerakan)x (jarak tempuh pengangkutan)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan cara pengangkutan adalah sebagai berikut:

  • Telusuri OPC sejak proses yang paling awal, kemudian dapat ditentukan urutan proses pengangkutan dari …… ke ……
  • Isi kolom dari, maka sebelum mengisi yang berikutnya terlebih dahulu diisi kolom ke yang merupakan kelompok tujuan, sesuai aliran yang terjadi.
  • Dalam mengisi kolom ke yang merupakan daerah tujuan pengangkutan sebelum mencantumkan aktivitas lainnya, maka aktivitas pertama harus sudah selesai mencantumkan semua material yang akan diterima dari sumber (kolom dari) yang diuraikan dalam kolom (3) untuk nama komponen serta kolom (4) untuk bentuk materialnya. Dari hal-hal tersebut di atas, maka dapat digambarkan mengenai cara pengangkutan tersebut, yaitu: setiap pengangkutan dilakukan dari sumber yang sama mengangkut beberapa bahan menuju tujuan yang sama, kemudian dari sumber yang sama menuju tujuan lainnya. Demikian selanjutnya untuk sumber-sumber pengangkutan berikutnya.
Dari Ke Nama

Komponen

Produk/Jam Berat Bentuk Berat Total Alat Angkut OMH

(Rp/m/gherakan)

Jarak Total Ongkos

From to Chart

FTC merupakan penggambaran tentang berapa total OMH dari suatu bagian aktivitas dalam pabrik menuju aktivitas pabrik lainnya. Sehingga dari peta ini dapat dilihat total OMH secara keseluruhan, mulai dari gudang bahan baku menuju fabrikasi, assembling, sampai terakhir menuju gudang barang jadi.

Cara pengisian FTC adalah sebagai berikut:

  • Perhatikan total ongkos dari tabel OMH, kemudian masukkan nilai total ongkos tersebut disesuaikan dengan pengangkutan bahan dari satu tempat ke tempat lainnya.
  • Jumlah total ongkos setiap baris dan setiap kolom juga total ongkos secara keseluruhan.

Inflow n Outflow

Outflow digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang keluar dari suatu departemen ke departemen lainnya.

Inflow digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang masuk ke suatu departemen dari departemen lainnya.

Referensi perhitungan outflow dan inflow yaitu dari OMH dan FTC, yaitu ongkos yang dibutuhkan untuk material handling dari suatu mesin ke mesin lainnya, dan sebaliknya.

Tabel Skala Prioritas (TSP)

TSP adalah suatu tabel yang menggambarkan urutan prioritas antara departemen/mesin dalam suatu lintas/layout produksi. Referensi TSP didapat dari perhitungan Outflow-Inflow, dimana prioritas diurutkan berdasarkan harga koefisien ongkosnya.

Tujuan pembuatan TSP antara lain adalah:

  • Untuk meminimumkan ongkos
  • Untuk memperkecil jarak handling
  • Untuk mengoptimalkan layout

Activity Relationship Diagram (ARD)

ARD adalah diagram hubungan antar aktivitas (departemen/mesin) berdasarkan tingkat prioritas kedekatan, sehingga diharapkan ongkos handling minimum. Dasar untuk membuat ARD adalah TSP, jadi yang menempati prioritas pertama pada TSP harus didekatkan letaknya lalu diikuti prioritas berikutnya. Area pada ARD diasumsikan sama, baru pada revisi disesuaikan berdasarkan ARD ini dan areanya sesuai dengan luas dari masing-masing aktivitas yang diperkecil dengan skala tertentu.

Revisi OMH-ARD

Setelah ARD pertama disusun maka terjadi perubahan jarak antara satu mesin dengan mesin lainnya. Perubahan jarak tersebut karena pada perhitungan OMH pertama, jarak antar kelompok mesin diasumsikan berdampingan. Hal ini dilakukan agar mempermudah dalam penyusunan ARD pertama. Agar layout yang disusun mendekati kenyataan, maka tahap berikutnya adalah merevisi OMH pertama.

Langkah-langkahnya sama dengan langkah-langkah perhitungan OMH pertama, yang membedakannya adalah jarak pada OMH pertama diasumsikan berdampingan sedangkan pada OMH kedua jarak yang digunakan adalah yang sesuai dengan penempatan kelompok mesin pada ARD pertama. Jarak yang diambil adalah jarak yang paling minimum dari beberapa alternatif jarak yang terjadi. Untuk selanjutnya, lakukan revisi FTC sampai dengan dengan revisi ARD.

ARC, WORK SHEET, AAD, DAN TEMPLATE

ACTIVITY RELATIONSHIP CHART (ARC)

Dalam industri manufaktur pada umumnya terdapat sejumlah kegiatan atau aktivitas yang menunjang jalannya suatu industri. Setiap kegiatan atau aktivitas tersebut saling berhubungan (berinteraksi) antar satu dengan yang lainnya, dan yang paling penting diketahui bahwa setiap kegiatan tersebut membutuhkan tempat (space) untuk melaksanakannya. Kegiatan atau aktivitas tersebut di atas dapat berupa aktivitas produksi, administrasi, assembling, inventory, dan sebagainya.

Sebagaimana diketahui bahwa setiap kegiatan atau aktivitas tersebut saling berhubungan antar satu dengan yang lainnya ditinjau dari beberapa criteria, maka dalam perencanaan tata letak fasilitas harus dilakukan penganalisaan yang optimal. Teknik yang digunakan sebagai alat untuk menganalisa hubungan antar aktivitas yang ada adalah ARC

No. Tingkat Kepentingan Kode Warna
1 Mutlak Penting A Merah
2 Penting Tertentu E Kuning
3 Penting I Hijau
4 Biasa O Biru
5 Tidak Penting U Putih
6 Tidak Diinginkan X Coklat

Sedangkan alasan untuk menyatakan tingkat kepentingan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menggunakan catatan yang sama
  2. Menggunakan personil yang sama
  3. Menggunakan ruang yang sama
  4. Tingkat hubungan personil
  5. Tingkat hubungan kertas kerja
  6. Urutan aliran kertas
  7. Melakukan aliran kerja yang sama
  8. menggunakan peralatan dan fasilitas yang sama
  9. Ribut, kotor, getaran, debu, dan sebagainya
  10. Lain-lain yang mungkin perlu.

Dengan diketahuinya keterangan di atas, maka penganalisaan dilakukan dengan menggunakan peta hubungan aktivitas.

WORK SHEET

Untuk mempermudah penganalisaan selanjutnya, maka hubungan antar aktivitas tersebut dikonversikan ke dalam lembar kerja

Sementara peta keterkaitan kegiatan (ARC) berguna untuk perencanaan dan penganalisaan keterkaitan kegiatan, informasi yang dihasilkan hanya berguna jika diolah ke dalam satu diagram. Inilah tujuan dari diagram keterkaitan kegiatan yang menjadi dasar perencanaan keterkaitan antara pola aliran barang dan lokasi kegiatan pelayanan dihubungkan dengan kegiatan produksi. Diagram keterkaitan kegiatan dalam kenyataannya merupakan balok yang menunjukkan pendekatan keterkaitan kegiatan, yang menunjukkan setiap kegiatan sebagai satu model kegiatan tunggal.

Tabel 4.14. Worksheet

Kode Derajat
A E I O U X
R A - - F B, C, D, E, G, H, I, J, K, L, M -
A B, R - - F, G C, D, E, H, I, J, K, L, M -
B A, C, E F - G, H R, D, I, J, K, L, M -
C B - - F, G R, A, D, E, H, I, J, K, L, M -
D F - - G R, A, B, C, E, H, I, J, K, L, M -
E B - - F R, A, C, D, G, H, I, J, K, L, M -
F D B G R, A, C, E H, I, J, K, L, M -
G H - F A, B, C, D R, E, L, M I, J, K
H G, I - - B R, A, C, D, E, F, J, K, L, M -
I H - - J R, A, B, C, D, E, F, K, L G, M
J K L - I R, A, B, C, D, E, F, H G, M
K J L - - R, A, B, C, D, E, F, G, H, I, M -
L - J, K - - R, A, B, C, D, E, F, H, I G, M
M J - - - R, A, B, C, D, E, F, G, H, K I, L

AREA ALLOCATION DIAGRAM

AAD merupakan lanjutan dari ARC, dimana dalam ARC telah diketahui kesimpulan tingkat kepentingan antar aktivitas, dengan demikian berarti bahwa ada sebagian aktivitas harus dekat dengan aktivitas lainnya dan ada juga yang sebaliknya. Atau dapat dikatakan bahwa hubungan antar aktivitas mempengaruhi tingkat kedekatan antar tata letak aktivitas tersebut. Kedekatan tata letak aktivitas tersebut ditentukan dalam bentuk AAD. Adapun dasar pertimbangan dalam prosedur pengalokasian artea ini adalah:

  • Production Flow , material, peralatan
  • ARC, informasi aliran, aliran personil, hubungan fisik
  • Tempat yang dibutuhkan
  • AAD

AAD merupakan template secara global, informasi yang dapat dilihat hanya pemanfaatan area saja, sedangkan gambar visualisasi secara lengkap dapat dilihat pada template yang merupakan hasil akhir dari penganalisaan dan perencanaan tata letak fasilitas dan pemindahan bahan.

TEMPLATE

Merupakan suatu gambaran yang lebih jelas dari tata letak pabrik yang akan dibuat dan merupakan gambaran detail dari AAD yang telah dibuat. Informasi yang dapat dilihat pada template antara lain adalah:

  1. Tata letak kantor dan peralatannya
  2. Tata letak pelayanan yang ada di pabrik
  3. Tata letak bagian produksi
  4. Aliran setiap material, mulai dari receiving sampai shipping
  5. Distribusi material terhadap setiap mesin sesuai dengan jumlah mesin yang dibituhkan.

Jika luas tanah yang tersedia dibatasi atau terbatas, maka sebagai pemecahan dari masalah tersebut adalah dengan mengefisienkan luas tanah yang tersedia untuk penempatan fasilitas, produksi, dan perkantoran.

Adanya pemisahan lantai antara bagian perkantoran dengan bagian produksi merupakan jalan keluar yang terbaik, yaitu dengan mengikuti syarat-syarat sebagai berikut:

  • Untuk Template dengan satu lantai

Penempatan tata letak fasilitas antara bagian produksi, pelayanan dan perkantoran ditempatkan dalam satu lantai jika luas lahan tersedia

  • Untuk template dengan dua lantai atau lebih

Penempatan tata letak fasilitas antara bagian produksi, pelayanan dan perkantoran mengalami pemisahan tata letak. Biasanya untuk bagian produksi ditempatkan pada lantai pertama, untuk memudahkan handling dari material maupun loading dari container ke receiving dan dari shipping ke container.

 

Luas Lantai Produksi

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 7:22 pm

Luas lantai Produksi

Dalam melakukan perencanaan tata letak pabrik dan pemindahan bahan dibutuhkan beberapa kebutuhan lahan atau luas lantai untuk kegiatan produksi pabrik yang akan didirikan, serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya. Dengan demikian perlu dihitung berapa luas lahan yang disiapkan , terutama untuk kegiatan bagian produksi. Perhitungan luas lantai ini didasarkan pada bahan baku yang akan disiapkan, mesin atau peralatan yang digunakan, dan barang jadi yang dihasilkan. Berdasarkan hal tersebut,  maka akan didapat luas lantai receiving model tumpukan dan rak, luas lantai fabrikasi dan assembling, serta luas lantai shipping.

Di dalam menghitung kebutuhan luas lantai ini, dilibatkan pula masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan lainnya yang akan mempengaruhi terhadap lahan atau luas lantai tersebut, yaitu:

  1. Alat angkut
  2. Cara pengangkutan
  3. Cara penyimpanan bahan baku (ditumpuk/dirak)
  4. Aliran bahan

Yang kesemuanya harus diperhitungkan dalam penentuan luas lantai dengan menambah allowance.

Tujuan menghitung luas lantai adalah untuk memperkirakan kebutuhan luas lantai bagian produksi yang meliputi:

  • Receiving (gudang bahan baku model tumpukan dan rak)
  • Fabrikasi dan Assembling (mesin dan peralatan)
  • Shipping (gudang barang jadi)

Kegunaan luas lantai adalah: digunakan dalam perhitungan ongkos material handling (OMH) antar departemen, sesuai dengan luas lantai hasil perhitungan.

Receiving

Luas lantai gudang bahan baku ini terdiri dari model tumpukan dan rak. Untuk memberi gambaran dari cara penyimpanan bahan baku di gudang, maka perlu digambarkan bagaimana cara penyimpanan material tersebut (baik model tumpukan maupun model rak), sehingga luas lantai yang dipakai sesuai dengan hasil perhitungan. Gambaran yang dibuat harus memberi penjelasan mengenai:

  • Tinggi memuat berapa tumpuk
  • Lebar memuat berapa tumpuk
  • Panjang memuat berapa tumpuk

Sehingga jika dijumlahkan, material yang tergambar sesuai dengan material per satu periode yang akan disimpan. Demikian juga untuk model rak, luas lantai yang dibutuhkan adalah lahan yang diperlukan berdasarkan kebutuhan hasil perhitungan setelah disimpan dalam rak sesuai dengan tinggi dan lebar maksimum dari rak serta cara penyimpanan di dalam rak.

Fabrikasi dan Assembling

Luas lantai mesin (fabrikasi dan assembling) juga perlu diperhitungkan dalam perencanaan tata letak pabrik dan pemindahan bahan. Data yang diperlukan dalam perhitungan luas lantai ini antara lain adalah: nama mesin, jumlah mesin, dan ukuran mesin. Data ini dapat diperoleh dari MPPC

Shipping

Data yang diperlukan dalam perhitungan luas lantai gudang barang jadi antara lain adalah: nomor komponen, nama komponen, dan tipe barang jadi

Luas Lantai Perkantoran

Dalam perhitungan luas lantai, terlebih dahulu harus diketahui bagian-bagian dari perkantoran dan pelayanan pabrik yaitu:

    1. Bagian umum, merupakan fungsi yang melayani seluruh pabrik, misalnya Tool Room (tempat penyimpanan peralatan), Tool Crib (tempat menyimpan atau memperbaiki peralatan yang rusak), ruang rapat, ruang tunggu, dan sebagainya.
    2. Bagian produksi, merupakan bagian yang melayani organisasi produksi, misalnya Teknik Industri (standar kerja, metoda, material handling, process quality control (receiving, in process, finished good), plan engineering.
    3. Bagian personil, merupakan fungsi yang melayani atau menangani kebutuhan orang, misalnya fasilitas kesehatan, kantin, WC/kamar mandi, daerah rekreasi atau taman, lapangan parkir, telepon umum, dan lain-lain.
    4. Bangunan fisik, merupakan bagian yang berhubungan dengan kebutuhan fasilitas fisik bangunan, peralatan, utilitas, dan sebagainya, misalnya fasilitas pemasaran, pembangkit tenaga, garasi, pemadam kebakarn, bengkel peralatan, dan sebagainya.

Yang harus diperhatikan dalam menyusun perkantoran

  1. Departemen yang berhubungan ditempatkan berdekatan satu sama lain
  2. Lebar lorong minimal 0,9 meter
  3. Jenis-jenis pekerjaan yang dilakukan merupakan dasar departementasi
  4. Tiap pekerja membutuhkan kira-kira 4,5 sd 25 m2
  5. cahaya yang dating dari kiri dan atau dari belakang lebih baik
  6. Bila pekerja harus duduk saling membelakangi maka harus dipisahkan minimal melebar 1 meter diantara kursi.

Persyaratan umum perkantoran

  1. Satu kantor yang luas merupakan unit kerja yang lebih efisien daripada sejumlah ruangan-ruangan kecil dengan luas yang sama, karena memudahkan pengawasan, komunikasi bisa lebih lancar, cahaya dan ventilasi bisa lebih baik.
  2. Lebar lorong untuk sirkulasi utama 1,5 sd 2,5 m, jika tidak seberapa penting cukup 1 sd 1,5 meter saja
  3. Jarak meja dengan kursi minimal 45 cm
  4. Jarak antara meja dengan meja atau dengan tembok berkisar antara 60 sd 90 cm
  5. Untuk menghindari kebisingan, maka peralatan seperti mesin tik dan mesin stensil sebaiknya diletakkan terpisah.

Ketentuan dalam pemilihan fasilitas pelayanan

Dalam memilih fasilitas pelayanan harus disesuaikan dengan kondisi manajemen perusahaan yang direncanakan. Dalam arti bahwa dalam perusahaan besar jelas memiliki jenis dan ukuran fasilitas yang berbeda dengan perusahaan kecil.

Sebagai gambaran berikut ini disajikan jenis fasilitas pelayanan berikut luasnya:

  1. Ruang rapat / Gedung serbaguna
  2. Ruang tamu
  3. Musholla
  4. Kantin
  5. Balai pengobatan
  6. Lapangan parkir umum perusahaan
  7. Lapangan parkir pabrik
  8. Pos keamanan
8 x 10 m

5 x 6 m

10 x 15 m

10 x 10 m

6 x 5 m

20 x 20 m

20 x 20 m

3 x 3 m

Ketentuan khusus dalam luas lantai kantor

Kondisi ideal untuk perbandingan tenaga kerja tak langsung dengan tenaga kerja langsung berkisar antara 1 : 6 sampai 1 : 10. Untuk ukuran luas lantai pada level organisasi pertama 5 x 5 m, level organisasi kedua 4 x 4 m, level organisasi ketiga 3 x 3 m, level organisasi keempat dibuat dalam satu ruangan dengan luas per orang 2 x 2 m

 

PERAMALAN, OPC, ROUTING SHEET, MPPC

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 7:16 pm

Peramalan

Peramalan merupakan aspek yang sangat penting bagi kelanjutan usaha suatu industri karena pemasaran adalah tujuan akhir dari industri dan keberhasilannya akan mempengaruhi keberadaan industri tersebut.

Peramalan adalah upaya untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan dating. Tujuan dari peramalan itu sendiri adalah melihat atau memperkirakan prospek ekonomi atau kegiatan usaha serta pengaruh lingkungan terhadap prospek tersebut. Jadi peramalan bertujuan untuk melihat pola dari urutan kejadian ekonomi atau kegiatan usaha, lingkungan, dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berlaku sehingga diperoleh informasi mengenai:

  • Kebutuhan suatu kegiatan usaha di masa yang akan dating
  • Waktu untuk mengambil keputusan yang berkaitan dg skala produksi, pemasaran, serta target usaha
  • Perencanaan skala produksi, pemasaran, anggaran, biaya produksi, dan cash flow

Setelah dilakukan peramalan maka selanjutnya dilakukan perhitungan Market Potensial dan Market Share untuk produk yang akan dibuat.

Market Potensial adalah peluang pasar yang tersedia dan potensial untuk dikuasai sebagai tempat untuk memasarkan produk.

RUMUS = 100 % – ((Jumlah Produk Pesaing/Jumlah Permintaan Pasar) x 100 %)

Sedangkan Market Share adalah kondisi pasar yang menunjukkan seberapa besar pasar yang mungkin digunakan untuk memasarkan produk kita, dengan:

RUMUS = (Jumlah Produk Perusahaan Kita / (Jumlah Produk Kita + Jumlah Produk

Pesaing)) x 100%

Jadi dengan demikian Market Share merupakan bagian dari Market Potensial. Setelah menetapkan besarnya pasar yang dapat kita penuhi, selanjutnya kita harus merencanakan besarnya kapasitas pabrik yang akan kita dirikan agar dapat memenuhi kebutuhan pasar.

OPERATION PROCESS CHART (OPC)

OPC adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang dialami oleh bahan baku yang meliputi urutan proses operasi dan pemeriksaan.

Pembuatan OPC merupakan langkah awal dalam urutan langkah untuk merencanakan tata letak fasilitas dan pemindahan bahan.

Manfaat dari OPC:

  1. sebagai sarana untuk menguraikan secara singkat, jelas dan sistematis, tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh masing-masing komponen benda kerja secara grafis simbolis.
  2. sebagai alat analisis peramalan kebutuhan mesin/peralatan kerja dan kebutuhan bahan baku
  3. dapat digunakan sebagai alat perhitungan efisiensi bagi masing-masing symbol aktivitas.

Informasi yang diperlukan untuk dapat menyusun OPC antara lain adalah:

  1. Menyusun benda kerja yang akan dibuat atau gambar teknik yang dibuat desainer
  2. Menguraikan menjadi elemen-elemen penyusunnya
  3. Analisis tahapan-tahapan pengerjaan
  4. Bahan baku yang digunakan berikut dimensinya
  5. Peralatan atau mesin yang digunakan
  6. Waktu penyelesaian masing-masing aktivitas
  7. Persentase scrap yang terbuang
  8. Analisis ulang
  9. Ringkasan aktivitas

Sedangkan informasi yang dapat diperoleh dari OPC ini antara lain adalah:

  1. Deskripsi proses bagi setiap kegiatan/aktivitas
  2. Waktu penyelesaian masing-masing kegiatan
  3. Peralatan/mesin yang digunakan
  4. Persentase scrap selama berlangsungnya aktivitas

ROUTING SHEET

Langkah selanjutnya dalam merencanakan tata letak fasilitas dan pemindahan adalah pembuatan Routing Sheet. Routing Sheet berguna untuk menghitung jumlah mesin yang dibutuhkan dan untuk menghitung jumlah part yang harus dipersiapkan dalam usaha memperoleh sejumlah produk jadi yang diinginkan. Data yang diperlukan dalam pembuatan routing sheet adalah:

  1. Kapasitas mesin (waktu standar dalam operasi)
  2. Persentase scrapt
  3. Efisiensi mesin

Contoh tabel Routing Sheet

No. Operasi Deskripsi Mesin/

Alat

Produksi Mesin/jam % Scrapt Bahan diminta Bahan disiapkan Effisiensi

Mesin

(%)

Kebutuhan

Mesin

teoritis

Kebutuhan

Mesin

aktual

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Cara pengisian Routing Sheet

  1. Untuk mengisi kolom 1 sampai 5 gunakan data yang ada dalam OPC yang telah dibuat
  2. Untuk mengisi kolom 6 terlebih dahulu isikan jumlah produk akhir yang diinginkan pada setiap akhir aktivitas.
  3. Kolom 7 diisi dengan jumlah produk yang harus disiapkan pada awal aktivitas (input) dengan memperhitungkan % scrapt yang terbuang pada aktivitas yang bersangkutan. Karena bahan yang diproses akan mengalami pengurangan material maka perlu diperhitungkan scrapt yang terbuang selama proses berlangsung (misalnya scrapt berupa geram pada proses pembubutan, bahan yang terbuang sebagai sisa dari proses pemotongan, dan sebagainya)

MULTI PRODUCT PROCESS CHART (MPPC)

MPPC adalah suatu diagram yang menunjukkan urutan-urutan proses untuk masing-masing komponen yang akan diproduksi. Informasi yang dapat diperoleh dari MPPC ini adalah jumlah mesin actual yang dibutuhkan.

Contoh tabel MPPC

Deskripsi

Peralatan

Nomor Komponen Jumlah Mesin Teoritis Jumlah Mesin Aktual
100 200 300
Receiving

Meja Fabrikasi

Mesin Penghalus

Shipping

 

Review_eLemen marketing (MK paling saya suka :) :)

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 7:07 pm
Tags: ,

Judul               : Hermawan Kartajaya on Segmentation Seri 9 Elemen Marketing

Tahun              : 2006

Author :  Hermawan Kartajaya

Penerbit          : Mizan Bandung

Kebesaran Nama Bimoli

RESUME

Pada bab ini membahas persaingan Bimoli dan Tropical serta Filma dalam merebut perhatian konsumen minyak goreng dimana Bimoli tetap lebih laris karena mereknya lebih dulu dikenal, sehingga bernilai lebih di mata konsumen meskipun harganya lebih mahal.

Tanggapan survey mengenai Customer Satisfaction Index 2000

Ada beberapa hal menarik mengenai survey ini yaitu :

  1. Survey ini membandingkan beberapa merk dalam kemampuan memenuhi need, want, dan expectation pelanggan yang tampaknya akan dilakukan setiap tahun sehingga dapat dijadikan sebagai panduan dalam memilih bidang.
  2. Survey ini sebagai panduan bagi perusahaan-perusaan Indonesia untuk mengetahui point-point yang dapat membuat pelanggan bias lebih puas terhadap suatu merk.

Hasil Survey

Hasil survey ini mengenai perkembangan industri minyak goreng nasional yaitu menempatkan Bimoli pada posisi pertama kemudian diikuti dengan Filma dan Tropical. Ini merupakan fenomena menarik mengingat sebenarnya bisnis minyak.goreng bermerek atau dalam botol kurang begitu menguntungan. Menurut perhitungan, sebetulnya perusahaan akan lebih untung jika  mengekspor palm oil dibandingkan menjual minyak dalam botol.

Tropical dapat masuk ke dalam tiga besar padahal merupakan produk baru disebabkan beberapa faktor antara lain  :

  1. Tropical mengklaim dirinya sebagai minyak goreng rendah kolesterol sehingga mudah menarik perhatian meskipun tidak semua kalangan memperhatikan kesehatan.
  2. Harganya relatif murah, mengingat krisis yang saat itu belum sepenuhnya usai.
  3. Tropical menang dalam kepuasan terhadap nilai disbanding Bimoli.

Menurut riset ini, keunggulan Bimoli yaitu :

  1. Bimoli mempunyai ekuitas merek ngetop akan tetap lebih laris meskipun harganya lebih mahal dibanding Tropical.
  2. Bimoli mempunyai nilai importance dan perceived better yang jauh lebih tinggi dibanding Tropical. Jadi meskipun harga lebih sedikit mahal tetap dianggap jauh lebih baik sehingga blebih banyak dipilih orang di masa krisis.
  3. Bimoli dan Tropical mempunyai nilai fungsional yang sama sehingga total give-nya sama. Namun Bimoli memberikan total get yang lebih besar dibanding Tropical karena memberi manfaat emosional lebih besar. Manfaat emosional yaitu kepercayaan masyarakat yang telah lama mengenal Bimoli sebagai provend brand yang tidak beresiko.

Contoh Lain Fenomena Tropical

Fenomena Tropical hampir mirip lipstik two-in-one Sariayu. Produk ini didesain sesuai tren warna tahun 1998 (kuning emas dan merah) dan terkait dengan khazanah kecantikan nusantara. Pada tahun 1998, Indonesia mengalami krisis namun kemunculan produk ini tetap mendapat respons yang tinggi karena harganya terjangkau dan dapat dipakai dalam berbagai macam kombinasi.

Kasus lipstik ini berbada dari kartu prabayar Simpati. Sejak awal, produk ini sudah muncul sebagai produk untuk value oriented customer : harga terjangkau tapi bisa memberikan manfaat emosional dan fungsional yang dibutuhkan orang pada masa krisis.

Jadi produk baru dapat mendapat respons tinggi karena ”tidak sengaja” membangun persepsi sebagai produk berkualitas tinggi dan pada saat yang sama didukung dengan realitas bahwa harganya memang terjangkau. Bimoli dengan kekuatan merek, teknologi, modal, dan penguasaan pemasoknya, sangatlah berpotensi untuk mendapat perhatian pasar dan mengalahkan pesaing-pesaingnya.

 

Arsitektur Basis Data

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 7:01 pm


Basis data merupakan sumber informasi yang dapat dipakai bersama. Setiap pemakai membutuhkan pandangan yang berbeda terhadap data yang disimpan di dalam basis data. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, terdapat arsitektur komersial DBMS yang didasarkan pada perluasan arsitektur yang disebut sebagai arsitektur ANSI-SPARC. Basis data adalah tempat kumpulan data. Menurut C.J. Date (1990), terdapat tujuh keuntungan dengan menggunakan pendekatan basis data, yaitu

  • Redundansi dapat dikurangkan (redundancy can be reduced).
  • Ketidakkonsistenan dapat dihindari (inconsistency can be avoided (to some extent)).
  • Data dapat dibagikan (the data can be shared).
  • Standar-standar dapat diselenggarakan (standards can be enforced).
  • Pembatasan keamanan dapat diterapkan (security restrictions can be applied).
  • Integritas dapat dipertahankan (integrity can be maintained).
  • Keperluan yang bertentangan dapat diseimbangkan (conflicting requirements can be balanced).

Basis data memiliki arsitektur

  • Arsitektur:

Struktur, artinya komponen-komponen apa yang ada dalam suatu sistem dan fungsi masing-masing komponen tersebut, serta bagaimana inter-relasi dan interaksi antar komponen dalam sistem tersebut.

  • Arsitektur Sistem Software:

Spesifikasi dari arsitektur sistem software, menyebutkan bermacam-macam modul beserta interface dan inter-relasi antar data dan alur kontrol dalam suatu sistem:

  • Programming-in-the-small:

Pengembangan individual modul

  • Programming-in-the-large: Pengintegrasian modul-modul menjadi suatu sistem yang komplit.
  • Secara garis besar, basis data memiliki susunan atau arsitektur sebagai berikut:

–        DBMS (Data Base Management System): bagian dari perangkat lunak yang bertanggungjawab dalam create, read, update, delete record atau mengelola basis data

–        DDL (Data Definition Language): yang dipakai oleh DBMS untuk secara fisik menetapkan jenis record, field dan struktur hubungannya

–        DML (Data Manipulation Language): dipakai untuk membuat, membaca dan meng-update record dalam basis data, dan melakukan navigasi antara record-record yang berbeda

–        Metadata: the data about the data –such as record and field definitions, synonyms, data relationships, validation rules, help messages, and so forth

  • Jadi, Distributed DBMS adalah Large Scale Software System.
  • Struktur “Ideal” (Standard): Segala bentuk sistem mengacu atau merupakan turunan dari Reference Architecture ini.
  • Untuk menciptakan Reference Architecture ini diperlukan standardisasi.
  • Contoh: ISO/OSI Model yang merupakan reference architecture dari Wide Area Computer Networks
  • Reference Model (Arsitektur Sistem) dapat dinyatakan berdasarkan 3 pendekatan yang berbeda:

¨      Berdasarkan Komponen:

n       Inter-relasi antar komponen yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

¨      Berdasarkan Fungsi:

n       Penyediaan fungsi-fungsi/fasilitas-fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan user yang berbeda-beda. Strukturnya kebanyakan berbentuk hirarkhi, sesuai klasifikasi user, contohnya ISO/OSI model.

¨      Berdasarkan Data:

n       Karena data merupakan sumber daya utama yang di-manage oleh DBMS, maka pendekatan ini menjadi pilihan yang tepat untuk melangkah lebih jauh ke proses standardisasi. Penyediaan beberapa tipe data dan arsitektur sistem ditekankan pada penyediaan fungsi  berdasarkan klasifikasinya yang dapat menggunakan tipe-tipe data pada masing-masing klasifikasi.

n       Arsitektur sistem yang berbasis organisasi data. Menurut ANSI/SPARC, arsitektur basis data terbagi atas tiga level yaitu :

1. Tingkat eksternal (external level)

Tingkat eksternal merupakan cara pandang pemakai terhadap basis data. Pada tingkat ini menggambarkan bagian basis data yang relevan bagi seorang pemakai tertentu. Tingkat eksternal terdiri dari sejumlah cara pandang yang berbeda dari sebuah basis data. Masing-masing pemakai merepresentasikan dalam bentuk yang sudah dikenalnya. Cara pandang secara eksternal hanya terbatas pada entitas, atribut, dan hubungan antar entitas (relationship) yang diperlukan saja.

2. Tingkat konseptual (conceptual level)

Tingkat konseptual merupakan kumpulan cara pandang terhadap basis data. Pada tingkat ini menggambarkan data yang disimpan dalam basis data dan hubungan antara datanya. Hal-hal yang digambarkan dalam tingkat konseptual adalah:
- semua entitas beerta atribut dan hubungannya

-  batasan data

- informasi semantic tentang data

- keamanan dan integritas informasi
semua cara pandang pada tingkat eksternal berupa data yang dibutuhakan oleh pemakai harus sudah tercakup didalam tingkat konseptual atau dapat diturunkan dari data yang ada. Deskripsi data dari entitas pada tingkat ini hanya terdiri dari jenis data dan besarnya atribut tanpa memperhatiakn besarnya penyimpana dalam ukuran byte.

3. Tingkat Internal (Internal level)

Tingkat internal merupakan perwujudan basis data dalam computer. Pada tingakat ini menggambarkan bagaimana basis data disimpan secara fisik didalam peralatan strorage yang berkaitan erat dengan tempat penyimpanan/physical storage.
Tingkat internal memperhatikan hal-hal berikut ini:
- Alokasi ruang penyimpana data dan indeks

- Deskripsi record untuk penyimpanan (dengan ukuran penyimpanan untuk data elemen)
- Penempatan record

- Penempatan data dan teknik enscryption.

¨      Three Views of Data:

n       External View

¨      tingkat pemakai individu

¨      Struktur data yang terlihat oleh user.

n       Internal View

¨      representasi tingkat bawah keseluruhan basis data.

¨      Struktur data dalam sistem atau mesin.

¨      Berhubungan erat dengan organisasi data secara fisik.

¨      Lokasi dan mekanisme akses ke data

n       Conceptual View :

¨      representasi keseluruhan isi informasi basis data.

¨      Yang menjembatani, definisi abstrak dari database. Representasi data dan   relasi antar data tanpa memperhatikan   kebutuhan setiap aplikasi atau keterbatasan media penyimpanan.

Arsitektur DBMS

Arsitektur data menjadi sebuah sumber bisnis pada sebuah lingkungan basis data. Sistem informasi dibangun disekitar sumber ini untuk membuat programmer komputer atau pengguna akhir dapat mengakses data secara fleksibel. Arsitektur data bisnis mendefinisikan bagaimana bisnis tersebut akan berkembang dan menggunakan file maupun database untuk menyimpan semua data dalam organisasi, teknologi file dan database untuk digunakan, dan setup struktur administrasi untuk mengelola sumber data.

Database arsitektur mengacu pada teknologi database yang menckup database engine, database utility, alat CASE database untuk analisa dan desain, dan alat pengembangan aplikasi database.
Arsitektur Basis Data dibangun menggunakan format paket bahasa yaitu DDL, dan DML.– DDL (Data Definition Language), yang merupakan satu paket bahasa DBMS yang berguna untuk melakukan spesifikasi terhadap skema basis data. Contoh perintah
DDL misalnya, Create Table, Create Index, Alter table, drop view, Drop index. – DML (Data Manipulation Language), yang merupakan satu paket DBMS yang memperbolehkan pemakai untuk mengakses atau memanipulasi data sebagaimana yang telah diorganisasikan sebelumnya dalam model data yang tepat. Dengan DML kita akan dapat :

o Mengambil informasi yang tersimpan dalam basis data.

o Menyisipkan informasi baru dalam basis data.

o Menghapus informasi dari tabel.

Tipe File

Tipe-tipe file yang digunakan dalam DBMS dibedakan menjadi :

• File Induk (master File)

– file induk acuan (reference master file) : file induk yang recordnya relatif statis,
jarang berubah nilainya. Misalnya file daftar gaji, file mata pelajaran.
– file induk dinamik (dynamic master file): file induk yang nilai dari record-recordnya
sering berubah atau sering dimutakhirkan (update) sebagai hasil dari suatu
transaksi. Misalnya file induk data barang, yang setiap saat harus di up-date bila
terjadi transaksi.

• File Transaksi (transaction file)

File ini bisa disebut file input; digunakan untuk merekam data hasil dari
transaksi yang terjadi. Misalnya file penjualan yang berisi data hasil transaksi
penjualan.
• File Laporan (Report file)

File ini bisa disebut output file, yaitu file yang berisi informasi yang akan
ditampilkan.
• File Sejarah (history file)

File ini bisa disebut file arsip (archival file), merupakan file yang berisi data
masa lalu yang sudah tidak aktif lagi, tetapi masih disimpan sebagai arsip.
• File Pelindung (backup file)

File ini merupakan salinan dari file-file yang masih aktif di dalam database pada
suatu saat tertentu. File ini digunakan sebagai pelindung atau cadangan bila
file database yang aktif mengalami kerusakan atau hilang.

Teknik Merancang Model Basis Data

Dalam DBMS terdapat beberapa model basis data yang digunakan yang
menyatakan hubungan antara record-record yang ada dalam basisdata
yaitu :

–        Flat file (Tabular) : data terletak didalam tabel tunggal

–        Hirarchical : mengunakan pola Induk-anak (parent-child)

–        Network : disebut juga DBTG (database task group) or CODASYL (converence on data system language)

–        Relational : terdiri dari tabel-tabel termonalisasi dengan field-field kunci
sebagai penghubung relational antar table

Sebetulnya terdapat teknik yang lebih baru dari model relasional yaitu:
–    DBMS Deduktif

–        DBMS Pakar

–        DBMS Semantik

–        DBMS berorientasi objek

–        DBMS relasional universal.

Namun teknik tersebut masih relatif jarang digunakan saat ini. Sedangkan teknik
relasional telah didukung dan merupakan standart dari bahasa SQL.
Pendekatan paling umum dan banyak digunakan dalam melakukan
perancangan model konseptual adalah dengan menggunakan model data
relational, yang memiliki dua buah teknik, yaitu :

–        Teknik Normalisasi

–   Teknik Entity Relationship Diagram (ERD)

PERBEDAAN ARSITEKTUR BASIS DATA DAN SISTEM BASIS DATA

Arsitektur basis data lebih ke fokus ke bagaimana data itu disimpan dalam media penyimpanan( misal hardisk), masalah indexing, kecepatan akses, sequential atau tersebar. pokonya yang berhubungan dengan bagaimana data disimpan dalam media fisik. Sedangkan sistem basis data lebih cenderung bagaimana menggabungkan hal-hal yang berhubungan dengan manajemen data tersebut. misalnya aja bahasa interfacingnya apa aja( sql, pl/sql), gimana caranya multiple query, aksesnya apa aja( stand alone, jaringan) jadi

basis data –> gimana caranya simpan datanya

sistem basis data-> terdiri dari basis data, sql, user interfacenya gimana, hak akses

Arsitektur DBMS Multi User

Teleprocessing

Arsitektur tradisional untuk sistem multi user adalah teleprocessing, dimana satu komputer dengan sebuah CPU dan sejumlah terminal seperti pada gambar di bawah ini.

Semua pemrosesan dikerjakan dalam batasan fisik komputer yang sama. Terminal untuk pemakai berjenis ‘dumb’, yang tidak dapat berfungsi sendiri dan masing-masing dihubungkan ke komputer pusat. Terminal-terminal tersebut mengirimkan pesan melalui subsistem pengontrol komunikasi pada sistem operasi ke program aplikasi, yang bergantian menggunakan layanan DBMS.

Dengan cara yang sama, pesan dikembalikan ke terminal pemakai. Arsitektur ini menempatkan beban yang besar pada komputer pusat yang tidak hanya menjalankan program aplikasi tetapi juga harus menyelesaikan sejumlah pekerjaan pada terminal seperti format data untuk tampilan di monitor.

File-Server

Proses didistribusikan ke dalam jaringan sejenis LAN (Local Area Network). File server mengendalikan file yang diperlukan oleh aplikasi dan DBMS. Meskipun aplikasi dan DBMS dijalankan pada masing-masing workstation tetapi tetap meminta file dari file server jika diperlukan

Dengan cara ini, file server berfungsi sebagai sebuah hard disk yang digunakan secara bersamaan.

Kerugian arsitektur file-server adalah :

- Terdapat lalulintas jaringan yang besar

- Masing-masing workstation membutuhkan copy DBMS

- Kontrol terhadap concurrency, recovery dan integrity menjadi lebih kompleks

Client Server

Untuk mengatasi kelemahan arsitektur-arsitektur di atas maka dikembangkan arsitektur client-server. Client-server menunjukkan cara komponen software berinteraksi dalam bentuk sistem.

Sesuai dengan namanya, ada sebuah pemroses client yang membutuhkan sumber dan sebuah server yang menyediakan sumbernya. Tidak ada kebutuhan client dan server yang harus diletakkan pada mesin yang sama. Secara ringkas, umumnya server diletakkan pada satu sisi dalam LAN dan client pada sisi yang lain.

Dalam konteks basis data, client mengatur interface berfungsi sebagai workstation tempat menjalankan aplikasi basis data. Client menerima permintaan pemakai, memeriksa sintaks dan generate kebutuhan basis data dalam SQL atau bahasa yang lain. Kemudian meneruskan pesan ke server, menunggu response dan bentuk response untuk pemakai akhir. Server menerima dan memproses permintaan basis data kemudian mengembalikan hasil ke client.

Ada beberapa keuntungan jenis arsitektur ini adalah :

• Memungkinkan akses basis data yang besar

• Menaikkan kinerja

• Jika client dan server diletakkan pada komputer yang berbeda kemudian CPU yang berbeda dapat memproses aplikasi secara paralel. Hal ini mempermudah merubah mesin server jika hanya memproses basis data.

• Biaya untuk hardware dapat dikurangi

• Hanya server yang membutuhkan storage dan kekuatan proses yang cukup untuk menyimpan dan mengatur basis data

• Biaya komunikasi berkurang

• Aplikasi menyelesaikan bagian operasi pada client dan mengirimkan hanya bagian yang dibutuhkan untuk akses basis data melewati jaringan, menghasilkan data yang sedikit yang akan dikirim melewati jaringan

• Meningkatkan kekonsistenan

• Server dapat menangani pemeriksaan integrity sehingga batasan perlu didefinisikan dan validasi hanya di satu tempat, aplikasi program mengerjakan pemeriksaan sendiri

• Map ke arsitektur open-system dengan sangat alami

Berikut ini adalah ringkasan fungsi client-server

Client Server
Mengatur user interface Menerima dan memproses basis data yang diminta dari client
Menerima dan memeriksa sintaks input dari pemakai Memeriksa autorisasi
Memproses aplikasi Menjamin tidak terjadi pelanggaran terhadap integrity constraint
Generate permintaan basis data dan memindahkannya ke server Melakukan query/pemrosesan update dan memindahkan response ke client
Memberikan response balik kepada pemakai Memelihara data dictionary
Menyediakan akses basis data secara bersamaan
Menyediakan kontrol recovery

Data Dictionary

Data dictionary adalah tempat penyimpanan informasi yang menggambarkan data dalam basis data. Data dictionary biasa disebut juga dengan metadata atau data mengenai data. Modul pengontrol otorisasi menggunakan data dictionary untuk memeriksa apakah seorang pemakai perlu mempunyai wewenang.

Untuk mengerjakan pemeriksaan tersebut data dictionary menyimpan :

• nama-nama pemakai yang mempunyai wewenang untuk menggunakan DBMS

• nama-nama data item yang ada dalam basis data

• data item yang dapat diakses oleh pemakai dan jenis akses yang diijinkan, misalnya: insert, update, delete atau read

Sedangkan untuk memeriksa integritas data, data dictionary menyimpan :

• nama-nama data item dalam basis data

• jenis dan ukuran data item

• batasan untuk masing-masing data item

Sistem data dictionary dapat dibedakan atas sistem aktif dan pasif. Sistem aktif selalu konsisten dengan struktur basis data karena secara otomatis dikerjakan oleh sistem. Sebaliknya, sistem pasif tidak konsisten terhadap perubahan basis data yang dilakukan oleh pemakai.

 

Milling Fixture

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 6:49 pm

Milling Fixture, salah satu elemen dalam mata kuLiah alat bantu alat ukur. Saya ingin sedikit mengenang mata kuliah semester 6 yang satu ini karena merupakan salah sekian mata kuliah yang berbau mesin-mesin, elektro dan sejenisnya yang saya ga mudeng (setelah menggambar mesin, elemen mesin, robotik) plus mengenang orang-orang di dalamnya (anit, tiw, tia, phino +zulpe, pak dok n esha) yang dengan semangat ’45 mengerjakannya sesungguh hati (semakin cepat selesai, semakin cepat pula bisa jalan-jalan, eh engga ding, mengerjakan tugas lain maksudnya) huhu

lalala

Milling Fixture merupakan peralatan kerja untuk pegangan yang mempunyai klem yang kuat pada meja di mesin milling. Bagian pekerjaan yang paling sulit dari penggilingan adalah mengatur workpiece. Hal ini karena memerlukan konfigurasi yang baik

Gambar 1 Milling Fixture

Milling fixtures biasanya merupakan cetakan padat yang baik. Karena cetakan besi mempunyai karakter yang penting yaitu menyerap dan membasahi hasil vibrasi dari proses pemotongan pada pemotong milling. Fixture yang penting dari milling yaitu komponen pondasi padat, lokasi dan elemen penjepit serta block setting.

  1. Pondasi

Pondasi padat merupakan elemen terpenting dari milling fixture. Itu merupakan piringan dimana lapisan bagian bawahnya halus dan padat. Fixture yang lengkap dibangun dari lempengan ini. Keys disediakan di lapisan bawah lempengan yang digunakan untuk mempermudah dan mengakurasi kelurusan pada fixture di meja mesin penggilingan dengan memasukkannya ke salah satu slot T di meja. Keys ini biasanya diatur di jalur key pada lapisan bawah lempengan dan dicekam oleh bagian sekrup soket untuk setiap key. Fixture ini dipercepat oleh mesin dengan bantuan dua T baut.

  1. Lokasi dan elemen penjepit

Prinsip desain yang sama dengan penjepitan pada milling fixture.

  1. Pengaturan Blok

Setelah fixture telah aman dijepit di meja, workpiece yang benar diletakkan di fixture, kemudian diatur pada penempatan yang benar dengan pemotong.. Jadi inilah kegunaan pengaturan block dan penyelidikan ukuran/ jarak. Pengaturan block ditetapkan pada fixture. Pengukuran jarak ditempatkan di antara pemotong dan reference planes di pengaturan block sehingga mempunyai kedalaman pemotongan yang tepat pengaturan lateral yang tepat pula. Block terbuat dari baja keras, dengan reference planes (feeler surfaces) di permukaan atas. Pada pengaturan yang benar, pemotong harus memotong feeler surfaces sedikitnya 0.08 cm untuk menghindari kerusakan pada block ketika meja mesin berpindah ke belakang untuk unload fixture. Ketebalan feeler gauge harus dijepit di dasar fixturedekat pengaturan block.

Jika setup tidak direncanakan dengan baik dan keakuratan tidak diasuransikan di setup, bagian mungkin akan berakhir sebagai memo. Untuk memastikan setup yang baik, harus menjadi operator menyadari jenis dan benar menggunakan kerja memegang perangkat yang terkait dengan mesin penggilingan.

Sifat – sifat dasar Milling Fixtures

  1. Kuat menahan beban berat
  2. Struktur milling fixtures kuat sehingga bisa menahan dorongan mesin milling.
  3. Pengaturan pemotong harus lebih ditingkatkan.
  4. milling fixtures harus diluruskan dengan locating tennons.
  5. penjepit tetap/keras sehingga kuat menahan getaran mesin.
  6. Terdapat lubang pembuangan tatal agar fixture bersih.
  7. menghemat gerakan, penjepit dapat menahan benda kerja lebih banyak.

MILLING MACHINE VICE

Untuk banyak kebutuhan pekerjaan, mesin vice standar dapat digunakan untuk menjepit bagian kerja di bawah pemotong. Penjepit yang dapat diubah-ubah dapat dioperasikan baik oleh cam maupun oleh skrup.Untuk menyesuaikan bentuk dari berbagai macam kerja, penjepit khusus dapat diletakkan pada penjepit plain pada vice standar.

Pada proses yang pendek, penjepit khusus biasanya dibuat dari logam campuran alumunium atau baja yang lembut dan ringan. Pada proses yang panjang, penggunaan permukaan pada penjepit khusus harus diperkeras dan dapat diperbaharui. Penjepit dari cetakan besi juga sering digunakan. Bagaimanapun pengaturan block yang nyaman dan memungkinkan cukup penting untuk disajikan.

Mesin penggilingan yang visa yang paling umum adalah jenis pekerjaan yang memegang merancang digunakan pada mesin penggilingan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2 Plain penggilingan Machine Vise

Gambar 3 Swivel Base

Gambar 4 Swivel Base dan Vise

JENIS-JENIS PERKAKAS BANTU PROSES MILLING

1. Facing fixture vise

Mesin milling digunakan untuk penghalusan datar permukaan dan dudukan permukaan. Milling sering sebagai operasi awal yang dilakukan pada benda kerja. Kebanyakan klem menggunakan pada bidang milling horizontal dengan beberapa tekanan ke bawah pada benda kerja untuk mencegah dari pemakanan berlebih selama pemakanan milling konvensional.

Fixture disediakan dengan peletakan 2 tenon atau pencekam pada bidang dasar pengerjaan dengan meja T. 4 netuk u tempat pengekleman memfasilitasi pengekleman yang kuat dengan ketelitian tinggi diantara 3  pemotong. Sebagian besar industri milling terdiri dari milling tunggal dan referensi  muka benda kerja. Benda baru yang siap untuk permesinan sebelum pengolahan benda selesai dikerjakan. Hal ini dapat dijelaskan dengan tiga metode yaitu index milling, rotary milling, reciprocal millling.

Index milling menggunakan multi stasiun meja index pada sejumlah fixture yang diangkut. Pada rotary milling, sejumlah benda kerja diangkut pada bagian rotary yang dirotasi untuk memberi makan alur benda kerja pada pemotong milling. Pada reciprocal atau pendulum milling, 2 fixture diangkut pada dua dari meja mesin. Benda kerja permesinan pada satu digantikan oleh benda baru yang mana benda kerja pada yang lain sedang dikerjakan.

Facing fixture vise digunakan untuk mencekam benda kerja yang terpasang kuat pada meja. Jenis fixturenya antara lain adalah plain vise, meja rotari (swivel), indexing head (untuk pembuatan roda gigi). Fixture atau vise ini digunakan untuk pengerjaan presisi dengan berbagai ukuran.

Gambar 5 Facing fixture vise d-series anglock

Gambar 6 Facing fixture vise Double-lock

Gambar 7 Type of Facing fixture vise

2. Slotting fixtures

Pada proses pelubangan, benda kerja seharusnya diklem dekat pada porsi yang sedang dikerjakan semungkinnya. Penempatan yang lebih besar sebaiknya sudut plat dilubangi pada jangkauan pasak dari pahat pelubangan. Lubang dapat digunakan untuk pengaturan pemotong. Benda kerja diklem terhadap sudut plat dengan memutar klem pengunci. Pada bagian dasar dilubangi untuk meletakkan penjepit yang menandai fixture dengan mesin pemutar.

Alat yang digunakan untuk mengubah gerakan rotary dari spindle ke gerakan bolak-balik, biasanya untuk pembuatan keyways dan splines.

Gambar 8 Slotting fixtures

3. Arbor

Berfungsi untuk mencekam mata potong yang terpasang pada spindle utama.

Gambar 9 Arbor

4. Collets

Berfungsi mencekam mata potong khususnya proses pembuatan lubang dan taper.

Gambar 10 Collets

RAHANG RAGUM UNTUK FUNGSI-FUNGSI KHUSUS

Berdasarkan kapasitasnya untuk mencekam dengan kuat atau memberikan tekanan tetap, ragum dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam produksi di bengkel-bengkel kecil dimana umumnya memerlukan penyesuaian peralatan dan teknik/metode untuk pekerjaan-pekerjaan secara manual dengan tangan. Operasi-operasi di bengkel besar akan memerlukan jig atau alat tekan yang dapat digabung dengan ragum tertentu atau alat lain dari ragum biasa.

Satu masalah yang timbul adalah bagaimana mencekam benda kerja dengan kuat tanpa meninggalkan bekas kasar dari ragum; masalah lain yaitu bagaimana memegang part kecil dengan ragum yang relatif besar. Ada solusi mudah untuk masalah-masalah tersebut.

Terlepas dari alas penyelip atau jepitan lunak yang dapat digunakan untuk melindungi benda kerja, seringkali hal ini cukup untuk memegang benda kerja dengan kardus seperti pada kardus rokok. Karena ketipisannya dan disokong dengan jepitan logam, hal ini akan memberikan cekaman yang lebih kuat pada benda kerja daripada jepitan fiber yang tebal. Lembaran logam seperti alumunium dan kuningan, serta semua material logam lunak juga dapat digunakan. Jika bagian utama dari benda kerja mengalami permesinan atau akan mengalami kerusakan akibat dari jepitan ragum standar, sepasang permukaan halus dari baja lunak akan mengubah bangku ragum, untuk fungsi ini, menjadi sebuah nesin ragum tetap.

Saat ini, memegang sebuah mesin ragum lebih nyaman dilakukan pada bagian dasar/kaki bangku ragum, dengan menggunakan mesin ragum untuk memasang benda kerja, dan berdasar prinsipnya, ragum kecil tertentu, atau penjepit ragum, dan bahkan kempa pembuat perkakas dapat dipasang untuk benda kerja kecil.

Alas baja lunak, seperti pada gambar a, disesuaikan dengan features dari komponen, memungkinkan komponen tersebut dapat dicekam dengan aman dan kuat bahkan saat rahang lunak tidak efektif. Komponen tersebut mungkin merupakan  kesatuan atau penyumbat dengan ulir eksternal atau hanya berupa sekrup standar, dimana bagian alas akan dibor dan diikat pada bagian tengahnya dan kemudian digerakan pelan-pelan pada permukaannya untuk dicekam. Pipa dengan diameter kecil atau berdinding tipis dapat dipegang dalam lubang datar; dan dengan meng-countersinking bagian atas lubang, keling countersunk dapat dibuat dari batang.

Jenis operasi yang menggunakan alas-alas tersebut adalah seperti pada gambar b. Suatu kepala kancing dari keling (1) dapat dibuat dari batang, mencekamnya dalam alas dengan tingkat keamanan yang sesuai dan membentuknya dengan suatu pukulan/hantaman. Ini dibuat dengan cara yang biasa dari batang baja silver,  mencekungkan pada bagian tengahnya dengan bor dan membulatkan rongganya dengan sebuah bola baja dan pukulan sebuah martil. Pengerasan dan pemanasan harus disertakan jika hantaman dilakukan berkali-kali. Suatu keling countersunk (2) dibuat dengan memukul bagian ujung batang menjadi countersink dan mengisinya hingga tumpah. Pipa (3)-setelah pendinginan logam dengan memanaskannya hingga memerah dan menyumbatnya dalam air jika logam adalah tembaga atau kuningan, -dimuaikan dengan suatu hantaman taper. Penyesuaian menjadi suatu kesatuan kerucut  seperti ujung suar menyebabkan sebuah pipa pendek sesuai/pas.

Suatu operasi penekanan sederhana dapat dilakukan dengan rahang berpancang seperti pada gambar c. Alat  ini berguna untuk menekan potongan yang mengunci sebuah selang fleksibel tetap pada kesatuannya. Awalnya, potongan tersebut adalah sebuah cincin dari kuningan yang didinginkan yang terselip pada selang. Kemudian  perpaduan tersebut didorong masuk ke dalam tangki yang mempunyai pintu/mulut di ujungnya; dan prosesnya diselesaikan dengan suatu tekanan pada rahang penjepit. Biasanya radii-nya dapat langsung ditetapkan.

Sebuah separuh potongan, seperti pada gambar d, dapat diselesaikan dengan rahang penjepit seperti pada diagram sebelumnya. Pengeboran dengan dua garis pusat dibuat untuk memproduksi radii pada satu rahang penjepit untuk radius batang, yang lainnya untuk radius luar dari potongan dan bagian permukaan dari rahang penjepit ini dipotong disesuaikan dengan ketebalan potongan. Jika diperlukan, pembentukan awal dapat dilakukan pada rahang penjepit seperti pada diagram di bawah.

Pinggiran roda dapat diproduksi diatas lembaran disk logam, penekanan antara sebuah cincin keras atau cincin penutup dan sebuah pusat penymbat dengan ukuran yang sesuai, sementara pinggiran roda pada ujung lurus dapat dibentuk dengan menghantam sebuah material flat/datar atau material persegi. Dengan menggunakan lempengan material, sudut pencayahaan dapat dibuat pada jalur ini-dan hal ini mengubah saluran pada saat pemukulan/hantaman kedua seperti pada gambar e. Untuk operasi pemotongan (lebih dipilih menggunakan sebuah ragum bekas) rahang penjepit dapat dibuat seperti pada gambar f, dengan pahat cetakan baja dan lanasan sempit.

Gambar 11 Special Vice Jaws

Untuk benda kerja yang sederhana dan dalam batch yang kecil mesin vice sangat tepat untuk digunakan. Beberapa mesin vice jaws mempunyai  alur/lekuk V vertikal dan horizontal. Yang memfasilitasi untuk memegang benda kerja dalam posisi vertikal ataupun horisontal. Beberapa bentuk yang  khusus (tidak umum) dapat di pegang/ dicengkeram  pada vice dengan menggunakan jaws khusus yang sesuai. Kapasitas dari vice dapat di tingkatkan dengan menambah extention jaws (gambar a). Vice jaws dapat di tambahkan locator. Gambar b menunjukkan  sebuah fix jaw dengan angular slot dan pin sandaran untuk meningkatkanpengumpulan lokasi dan penyetopan vertikal benda kerja. Dan jaw yang dapat di gerakkan yang lain adalh permukaan sederhana yang digunakan untuk clamping. Beberapa benda kerja membutuhkan  locator diantara kedua jaws seperti pada gambar c. Pada beberapa kasus kedua jaws harus lurus dengan yang lain. Ini dapat diakali dengan menambahkan pin dan bushing. Beberapa mesin vice mempunyai lokasi slot untok kepresisian posisi jaws. Jaws ini ditmbahkan dengan tenons seperti gambar d.

Operasi milling dapat di klasifikasikan sebagai:

  1. Facing
  2. Slotting

 

Perancangan Eksperimen

Desain eksperimen merupakan langkah-langkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar supaya data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa kepada analisis objektif dan kesimpulan yang berlaku untuk persoalan yang sedang dibahas. (Sudjana, 1997).

An experiment is a test of tests in wihch purposeful changes are made to the input variables of a process or system so that we may observe and identify the reasons for changes that may be observed in the output response. (Montgomery, 1997).

Beberapa istilah atau pengertian yang perlu diketahui dalam desain eksperimen (Sudjana, 1997;  Montgomery, 1997):

  1. Experimental unit (unit eksperimen)

Objek eksperimen dimana nilai-nilai variabel respon diukur.

  1. Variabel respon (effect)

Disebut juga dependent variable atau ukuran performansi, yaitu output yang ingin diukur dalam eksperimen.

  1. Faktor

Disebut juga independent variable atau variabel bebas, yaitu input yang nilainya akan diubah-ubah dalam eksperimen.

  1. Level (taraf)

Merupakan nilai-nilai atau klasifikasi-klasifikasi dari sebuah faktor. Taraf (levels) faktor dinyatakan dengan bilangan 1, 2, 3 dan seterusnya. Misalkan dalam sebuah penelitian terdapat faktor-faktor :

a    =  jenis kelamin

b    =  cara mengajar

Selanjutnya taraf untuk faktor a adalah 1 menyatakan laki-laki, 2 menyatakan perempuan (a1, a2). Bila cara mengajar ada tiga, maka dituliskan dengan b1, b2, dan b3.

  1. Treatment (perlakuan)

Sekumpulan kondisi eksperimen yang akan digunakan terhadap unit eksperimen dalam ruang lingkup desain yang dipilih. Perlakuan merupakan kombinasi level-level dari seluruh faktor yang ingin diuji dalam eksperimen.

  1. Replikasi

Pengulangan eksperimen dasar yang bertujuan untuk menghasilkan taksiran yang lebih akurat terhadap efek rata-rata suatu faktor ataupun terhadap kekeliruan eksperimen.

  1. Faktor Pembatas/ Blok (Restrictions)

Sering disebut juga sebagai variabel kontrol (dalam Statistik Multivariat). Yaitu faktor-faktor yang mungkin ikut mempengaruhi variabel respon tetapi tidak ingin diuji pengaruhnya oleh eksperimenter karena tidak termasuk ke dalam tujuan studi.

  1. Randomisasi

Yaitu cara mengacak unit-unit eksperimen untuk dialokasikan pada eksperimen. Metode randomisasi yang dipakai dan cara mengkombinasikan level-level dari fakor yan berbeda menentukan jenis disain eksperimen yang akan terbentuk.

  1. Kekeliruan eksperimen

Merupakan kegagalan daripada dua unit eksperimen identik yang dikenai perlakuan untuk memberi hasil yang sama.

Langkah-langkah dalam setiap proyek eksperimen secara garis besar terdiri atas tiga tahapan, yaitu planning phase, design phase dan analysis phase. (Hicks, 1993).

  1. Planning Phase

Tahapan dalam planning phase adalah :

  1. Membuat problem statement sejelas-jelasnya.
  2. Menentukan variabel bebas (dependent variables), yaitu efek yang ingin diukur, sering disebut sebagai kriteria atau ukuran performansi.
  3. Menentukan independent variables.
  4. Menentukan level-level yang akan diuji, tentukan sifatnya, yaitu :
  • Kualitatif atau kuantitatif
  • Fixed atau random
  1. Tentukan cara bagaimana level-level dari beberapa faktor akan dikombinasikan (khusus untuk eksperimen dua faktor atau lebih).
  2. Design Phase

Tahapan dalam design phase adalah :

  1. Menentukan jumlah observasi yang diambil.
  2. Menentukan urutan eksperimen (urutan pengambilan data).
  3. Menentukan metode randomisasi.
  4. Menentukan model matematik yang menjelaskan variabel respon.
  5. Menentukan hipotesis yang akan diuji.
  6. Analysis Phase

Tahapan dalam analysis phase adalah :

  1. Pengumpulan dan pemrosesan data.
  2. Menghitung nilai statistik-statistik uji yang dipakai.
  3. Menginterpretasikan hasil eksperimen.
 

Material akustik

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 5:20 pm
Tags: , , , ,

Telinga normal tanggap terhadap bunyi di antara jangkauan frekuensi audio sekitar 20 sampai 20.000 Hz. Kebanyakan bunyi (pembicaraan, musik, dan bising) terdiri dari banyak frekuensi, yaitu komponen-komponen frekuensi rendah, tengah, medium. Karena itu amatlah penting untuk memeriksa masalah-masalah akustik meliputi spektrum frekuensi yang dapat didengar. Frekuensi standar yang dapat dipilih secara bebas sebagai wakil yang penting dalam akustik lingkungan adalah 125, 250, 500, 1000, 2000, dan 4000 Hz atau 128, 256, 512, 1024, 2048, dan 4096 Hz (Doelle,1986).

Penyerapan bunyi

Doelle (1986) menyatakan efisiensi penyerapan suatu bunyi suatu bahan pada suatu frekuensi tertentu dinyatakan oleh koefisien penyerapan bunyi. Koefisien penyerapan bunyi suatu permukaan adalah bagian energi bunyi dating yang diserap, atau tidak dipantulkan oleh permukaan. Permukaan interior yang keras, yang tak dapat ditembus (kedap), seperti bata, bahan bangunan batu, dan beton, biasanya menyerap energi gelombang bunyi  datang kurang dari 5% (0,05). Di lain pihak, isolasi tebal menyerap energi gelombang bunyi yang datang lebih dari 80% (koefisien penyerapan di atas 0,8).

Dalam kepustakaan akustik arsitektur dan pada lembaran informasi yang diterbitkan oleh pabrik-pabrik dan penyalur, bahan akustik komersial kadang-kadang dicirikan oleh koefisien reduksi bising, yang merupakan rata-rata dari koefisien penyerapan bunyi pada frekuensi 250, 500, 1000, dan 2000 Hz yang dinyatakan dalam kelipatan terdekat dari 0,05. Nilai ini berguna dalam membandingkan penyerapan bunyi bahan-bahan akustik komersial secara menyeluruh bila digunakan untuk tujuan reduksi bising (Doelle, 1986).

Bila bunyi menumbuk suatu permukaan, maka ia dipantulkan atau diserap. Energi  bunyi yang diserap oleh oleh lapisan penyerap sebagian diubah menjadi panas, tetapi sebagian besar ditransmisikan ke sisi lain lapisan tersebut, kecuali bila transmisi tadi dihalangi oleh penghalang yang berat dan kedap. Dengan perkataan lain penyerap bunyi yang baik adalah pentransmisi bunyi yang efisien dan arena itu adalah insulator bunyi yang tidak baik. Sebaliknya dinding insulasi bunyi yang efektif akan menghalangi transmisi bunyi dari satu sisi ke sisi lain. Bahan-bahan dan kontruksi penyerap bunyi dapat dipasang pada dinding ruang ataupun digantung di udara (Doelle, 1986). Bahan-bahan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

  1. Bahan berpori, seperti papan serat (fiber board),  plesteran lembut, mineral wools, dan selimut isolasi, memiliki karakteristik dasar suatu jaringan seluler dengan pori-pori yang saling berhubungan. Energi bunyi datang di ubah menjadi energi panas dalam pori-pori ini. Bahan-bahan selular, dengan sel yang tertutup dan tidak saling berhubungan seperti damar busa, karet selular, dan gelas busa, adalah penyerap bunyi yang buruk. Penyerap berpori mempunyai karakteristik penyerapan bunyinya lebih efisien pada frekuensi tinggi dibandingkan pada frekuensi rendah dan efisiensi akustiknya membaik pada jangkauan frekuensi rendah dengan bertambahnya tebal lapisan penahan yang padat dan dengan bertambahnya jarak dari lapisan penahan ini. Bahan berpori ini antara lain ubin selulosa, serat mineral, serat-serat karang (rock wool), serat-serat gelas (glass wool), serat-serat kayu, lakan (felt), rambut, karpet, kain dan sebagainya.
  2. Penyerap panel atau selaput merupakan penyerap frekuensi rendah yang efisien. Bila dipilih dengan benar, penyerap panel mengimbangi penyerapan frekuensi sedang dan tinggi yang agak berlebihan oleh penyerap-penyerap berpori dan isi ruang. Jadi penyerap ruang menyebabkan karakteristik dengung yang serba sama pada seluruh jangkauan frekuensi audio. Penyerap-penyerap panel yang berperan pada penyerapan frekuensi rendah antara lain panel kayu dan hardboard, gypsum boards, langit-langit plesteran yang digantung, plesteran berbulu, jendela, kaca, dan pintu. Bahan-bahan yang berpori yang diberi jarak dari lapisan penunjangnya yang padat juga berfungsi sebagai penyerap panel yang bergetar dan menunjang penyerapan pada frekuensi rendah.
  3. Resonator rongga (Helmholtz) merupakan penyerap bunyi yang terdiri dari sejumlah udara tertutup yang dibatasi dinding-dinding tegar dan dihubungkan oleh celah sempit ke ruang sekitarnya, di mana gelombang bunyi merapat.


Pemasangan dan Distribusi Bahan-Bahan Penyerap

Karakteristik penyerapan bunyi tidak boleh dianggap seperti sifat intrinsik bahan-bahan akustik, tetapi sebagai suatu segi yang sangat tergantung pada sifat-sifat fisik, detail pemasangan dan kondisi lokal. Tidak ada tipe cara pemasangan tertentu yang dapat dikatakan sebagai pemasngan optimum untuk setiap pemasangan. Bermacam-macam perincian yang harus diperhatikan secara serentak yaitu tentang sifat-sifat bahan akustik, kekuatan, susunan (texture) permukaan, dan lokasi dinding-dinding ruang di mana bahan akustik akan dipasang, ruang yang tersedia untuk lapisan permukaan tersebut, waktu yang dibutuhkan untuk pekerjaan itu, kemungkinan penggantian di waktu yang akan datang, biaya dan lain-lain (Doelle,1986).

Pemilihan Bahan Penyerap Bunyi

Bahan-bahan akustik dimaksudkan untuk mengkombinasikan fungsi penyerapan bunyi dan penyelesaian interior, maka dalam pemilihan lapisan akustik sejumlah pertimbangan di luar segi akustik juga harus diperhatikan. Perincian berikut ini harus diperiksa dalam pemilihan lapisan-lapisan penyerap bunyi yaitu mengenai koefisien penyerapan bunyi pada frekuensi-frekuensi wakil jangkauan frekuensi audio, penampilan (ukuran, tepi, sambungan, warna, jaringan), daya tahan terhadap kebakaran dan hambatan terhadap penyebaran api, biaya instalasi, kemudahan instalasi, keawetan (daya tahan terhadap tumbukan, luka-luka mekanis, dan goresan), pemantulan cahaya, ketebalan dan berat, nilai insulasi termis, daya tarik terhadap kutu, kutu busuk, jamur, kemungkinan penggantiannya dan kebutuhan serentak akan insulasi bunyi yang cukup (Doelle,1986).

Jenis bahan peredam suara yang sudah ada yaitu bahan berpori, resonator dan panel (Lee, 2003). Dari ketiga jenis bahan tersebut, bahan berporilah yang sering digunakan. Khususnya untuk mengurangi kebisingan pada ruang-ruang yang sempit seperti perumahan dan perkantoran. Hal ini karena bahan berpori retaif lebih murah dan ringan dibanding jenis peredam lain (Lee, 2003). Material yang telah lama digunakan pada peredam suara jenis ini adalah glasswool dan rockwool.

Pengaruh bising dan Pengukuran Bising

Bising yang cukup keras, di atas sekitar 75 dB, dapat menyebabkan kegelisahan, kurang enak badan, kejenuhan mendengar, sakit lambung dan masalah peredaran darah. Bising yang sangat keras, di atas 85 dB, dapat menyebabkan kemunduran yang serius pada kesehatan seseorang pada umumnya, dan bila berlangsung lama, kehilangan pendengaran sementara atau permanen dapat terjadi. Bising yang berlebihan dan berkepanjangan terlihat dalam masalah-masalah kelainan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan luka perut.

Tabel Singkap bising yang diijinkan seperti yang dinyatakan dalam Walsh-Healay Public Contracts Act (United States)

Durasi, per hari jam

Tingkat bunyi Db-a
8 90
6 92
4 95
3

97

2 100
102
1 105
½ 110
¼ atau kurang

115

Sumber : Doelle, 1986

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 261/MENKES/SK/II/1998 Tingkat pajanan kebisingan maksimal selama 1 hari pada ruang proses produksi adalah sebagai berikut :

Tabel Tingkat kebisingan yang diijinkan

No Tingkat Kebisingan (Dba) Pemaparan Harian
1 85 8 jam
2 93 6 jam
3 88 4 jam
4 97 3 jam
5 91 2 jam
6 94 1 jam
7 97 30 menit
8 100 15 menit

Sumber : Keputusan Menteri Kesehatan, 1998

Desain Akustik

Desain akustik ruangan tertutup pada intinya adalah mengendalikan komponen suara langsung dan pantul ini, dengan cara menentukan karakteristik akustik permukaan dalam ruangan (lantai, dinding dan langit-langit) sesuai dengan fungsi ruangannya. Ada ruangan yang karena fungsinya memerlukan lebih banyak karakteristik serap (studio, home theater, dll) dan ada yang memerlukan gabungan antara serap dan pantul yang berimbang (auditorium, ruang kelas, dsb). Dengan mengkombinasikan beberapa karakter permukaan ruangan, seorang desainer akustik dapat menciptakan berbagai macam kondisi mendengar sesuai dengan fungsi ruangannya, yang diwujudkan dalam bentuk parameter akustik ruangan (Sarwono, 2008).

Karakteristik akustik permukaan ruangan pada umumnya dibedakan atas (Sarwono, 2008):

  • Bahan Penyerap Suara (absorber) yaitu permukaan yang terbuat dari material yang menyerap sebagian atau sebagian besar energi suara yang datang padanya. Misalnya glasswool, mineral wool, foam. Bisa berwujud sebagai material yang berdiri sendiri atau digabungkan menjadi sistem absorber (fabric covered absorber, panel absorber, grid absorber, resonator absorber, perforated panel absorber, acoustic tiles, dsb).
  • Bahan Pemantul Suara (reflektor) yaitu permukaan yang terbuat dari material yang bersifat memantulkan sebagian besar energi suara yang datang kepadanya. Pantulan yang dihasilkan bersifat spekular (mengikuti kaidah Snelius yaitu sudut datang = sudut pantul). Contoh bahan ini misalnya keramik, marmer, logam, aluminium, gypsum board, beton, dsb.
  • Bahan pendifuse/penyebar suara (diffusor) yaitu permukaan yang dibuat tidak merata secara akustik yang menyebarkan energi suara yang datang kepadanya. Misalnya QRD diffuser, BAD panel, diffsorber dsb.

Koefisien Serapan Bunyi

Koefisien serapan bunyi (α) menyatakan besarnya serapan energi bunyi pada suatu material pada frekuensi tertentu. Karakteristik dari serapan bunyi bervariasi terhadap frekuensi. Efisiensi dari serapan bunyi dinyatakan dalam bilangan antara 0 dan 1. Nilai koefisien serapan 0 menyatakan tidak ada energi bunyi yang diserap dan nilai koefisien serapan 1 menyatakan serapan yang sempurna (Hassal, 1988)

Menurut Lewis (1994) koefisien serapan bunyi tergantung secara dinamis pada frekuensi bunyi dan sudut yang dibentuk oleh gelombang bunyi yang datang dengan garis normal permukaan medium. Nilai serapan akan berbeda untuk sudut datang yang berbeda karena tergantung pada sudut datang.

Untuk sudut datang 00, koefisien serapan dapat dicari dengan menggunakan metode tabung impedansi maka nilai koefisien serapan normal dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan berikut :

αn = 1- R2

 

si ajaib Komposit

Filed under: kuLiah teknik industri . — askar @ 5:11 pm
Tags: , ,

Kenapa dibilang ajaib?

well, komposit dapat meningkatkan nilai ekonomis, karena pada dasarnya serat dengan spesifikasi standar dapat dibuat komposit (so limbah pun dapat dimanfaatkan sbagai komposit) dan tentunya dengan kekuatan mekanik yang tak kalah pula. Resume ini dapat dikatakan sangat sedikit, akan masih banyak jika kita menggali komposit lebih dalam.

Kata komposit (composite) merupakan kata sifat yang berarti susunan atau gabungan. Komposit berasal dari kata “to compose” yang berarti menyusun atau menggabungkan. Jadi secara sederhana bahan komposit berarti bahan gabungan dari dua atau lebih bahan yang berlainan. Dalam hal ini gabungan bahan ada dua macam yaitu (Jones, 1999):

  1. Gabungan secara makro, 1) dapat dibedakan secara visual, 2) penggabungan lebih secara fisis dan mekanis, 3) dapat dipisahkan secara fisis dan mekanis;
  2. Gabungan secara mikro, 1) tidak bisa dibedakan secara visual, 2) penggabungan ini lebih secara kimia, 3) sulit dipisahkan, tetapi dapat dilakukan secara kimia

Bahan komposit merupakan bahan gabungan secara makro sehingga bahan komposit dapat didefinisikan sebagai suatu sistem material yang tersusun dari campuran atau kombinasi dua atau lebih unsur-unsurnya yang secara makro berbeda di dalam bentuk dan atau komposisi material pada dasarnya tidak dapat dipisahkan. Komposit dibentuk dari dua komponen penyusun yang berbeda yaitu penguat (reinforcement) yang mempunyai sifat sulit dibentuk tetapi lebih kaku serta lebih kuat dan matrik yang umumnya mudah dibentuk tetapi mempunyai kekuatan dan kekakuan yang lebih rendah (Schwartz, 1984).

Perbedaaan dan penggabungan dari unsur-unsur yang berbeda tersebut menyebabkan daerah-daerah yang berbatasan. Daerah tersebut disebut dengan interface. Sedangkan daerah ikatan antara material penyusun komposit disebut interphase. Berdasarkan uraian tersebut, maka aspek penting yang menunjukkan sifat-sifat mekanis dari komposit tersebut adalah optimasi dari ikatan antara fiber dan polimer (matrik) yang digunakan (Schwartz,1984). Ikatan antara fiber dengan matrik dipengaruhi langsung oleh reaksi yang terjadi antara matrik dengan fiber. Dengan kata lain transfer beban atau tegangan diantara dua fase yang berbeda ditentukan oleh derajat adhesi.

Berdasarkan cara penguatannya komposit dibedakan menjadi tiga (Jones, 1975) yaitu :

  1. Fibrous Composite (komposit serat) merupakan jenis komposit yang hanya terdiri dari satu lamina atau satu lapisan yang menggunakan penguat berupa serta atau fiber. Fiber yang digunakan bisa berupa glass fibers, carbon fibers, aramid fibers (poly aramide) dan sebagainya. Fiber ini bisa disusun secara acak maupun dengan orientasi tertentu bahkan bisa juga dalam bentuk yang lebih kompleks seperti anyaman.
  2. Laminated Composite (komposit lapisan) merupakan jenis komposit yang terdiri dari dua lapis atau lebih yang digabung menjadi satu dan setiap lapisnya memiliki karakteristik sifat sendiri.
  3. Particulate Composite (komposit partikel) merupakan komposit yang menggunakan partikel atau serbuk sebagai penguatnya dan terdistribusi secara merata dalam matriksnya.

Sedangkan berdasarkan bentuk material pembentuknya, komposit dapat dibedakan menjadi lima macam yaitu komposit serat (fiber composite), komposit serpihan (flake composite), komposit butir (particulate composite), komposit isian (filled composite), dan komposit lapisan (laminated composite). Komposit dengan penguatan serat adalah jenis komposit yang paling sering dipakai dalam aplikasi. Hal ini karena komposit jenis ini memiliki sifat kekuatan tarik dan kekakuan yang bagus. Namun kelemahannya adalah struktur serat tersebut memiliki kekuatan tekan dan kekuatan tarik arah melintang serat yang kurang bagus. Hasil dari komposit yang berlapis-lapis (laminated composite) memiliki kekerasan (hardness) dari unsur pokoknya tetapi kekuatan merupakan efek sinergi dari gabungan sifat material. Material komposit akan bersinergi bila memiliki sebuah sistem yang mempersatukan material-material penunjang untuk mencapai sebuah sifat material yang baru. Komposit serat dapat dibedakan berdasarkan jenis dan orientasi seratnya, yaitu komposit serat searah (continous fiber composite), serat anyaman (woven fiber composite), serat acak (chopped fiber composite), dan gabungan beberapa jenis serat (hybrid fiber composite) (Schwartz, 1984).

Secara umum komposit dengan penguatan serat tersusun dari dua material utama yaitu matrik dan serat. Antar kedua unsur material tersebut tidak terjadi reaksi kimia dan tidak larut satu sama lain, melainkan hanya ikatan antar muka diantara keduanya. Serat yang memiliki kekuatan lebih tinggi berperan sebagai komponen penguat, sedangkan matrik yang bersifat lemah dan liat bekerja sebagai pengikat dan memberi bentuk pada struktur komposit (Schwartz, 1984).

Komposit sandwich merupakan komposit yang tersusun dari tiga lapisan yang terdiri dari flat composite dan atau metal sheet sebagai skin serta core di bagian tengahnya. Komposit sandwich dibuat dengan tujuan untuk efisiensi berat yang optimal, namun mempunyai kekakuan dan kekuatan yang tinggi. Sehinggga untuk mendapatkan karakteristik tersebut, pada bagian tengah diantara kedua skin dipasang core (Schawrtz, 1984).

Komposit sandwich merupakan jenis komposit yang sangat cocok untuk menahan beban lentur, impak, meredam getaran dan suara. Komposit sandwich dibuat untuk mendapatkan struktur yang ringan tetapi mempunyai kekakuan dan kekuatan yang tinggi. Biasanya pemilihan bahan untuk komposit sandwich, syaratnya adalah ringan, tahan panas dan korosi, serta harga juga dipertimbangkan (Schawrtz, 1984).

Bentuk komposit sandwich

1. Matrik

Matrik, sebagai pengisi ruang komposit, memegang peranan penting dalam mentransfer tegangan, melindungi serat dari lingkungan dan menjaga permukaan serat dari pengikisan. Matrik harus memiliki kompatibilitas yang baik dengan serat. Beberapa jenis matrik polimer termoset yang sering digunakan ialah polyester, epoxy, phenolics, dan polyamids, sedangkan yang termasuk jenis matrik polimer termoplast adalah polyethylene, polypropylene, nilon, polycarbonate, dan polyether-ether keton (Moncrieff, 1975).

Mazumdar (2002) menjelaskan fungsi penting matriks dalam komposit yaitu :

  1. Mengikat serat menjadi satu dan mentransfer beban ke serat. Hal ini akan menghasilkan kekakuan dan membentuk struktur komposit.
  2. Mengisolasi serat sehingga serat tunggal dapat berlaku terpisah. Hal ini dapat menghentikan atau memperlambat penyebaran retakan.
  3. Memberikan suatu permukaan yang baik pada kualitas akhir komposit dan menyokong produksi bagian yang berbentuk benang-benang.
  4. Memberikan perlindungan untuk memperkuat serat terhadap serangan kimia dan kerusakan mekanik karena pemakaian.
  5. Berdasarkan matrik yang digunakan, karakteristik perfomansi meliputi kelenturan, kekuatan impak, dan sebagainya, juga turut dipengaruhi. Sebuah matrik yang ulet akan meningkatkan ketangguhan struktur komposit.

2. Serat

Serat secara umum terdiri dari dua jenis yaitu serat alam dan serat sintetis. Serat alam adalah serat yang dapat langsung diperoleh dari alam. Biasanya berupa serat yang dapat langsung diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Serat ini telah banyak digunakan oleh manusia diantaranya adalah kapas, wol, sutera, pelepah pisang, sabut kelapa, ijuk, bambu, nanas dan knaf atau goni. Serat alam memiliki kelemahan yaitu ukuran serat yang tidak seragam, kekuatan serat sangat dipengaruhi oleh usia. Serat sintetis adalah serat yang dibuat dari bahan-bahan anorganik dengan komposisi kimia tertentu. Serat sintetis mempunyai beberapa kelebihan yaitu sifat dan ukurannya yang relatif seragam, kekuatan serat dapat diupayakan sama sepanjang serat. Serat sintetis yang telah banyak digunakan antara lain serat gelas, serat karbon, kevlar, nylon, dan lain-lain (Schwartz, 1984).

Beberapa serat alam dan sifat mekaniknya

Serat Diameter (µm) Ultimate tensil stress, ∂ (Mpa) Modulus E (GPa) Berat Jenis
Wood 15-20 160 23 1,5
Bamboo 15-30 550 36 0,8
Jute 10-50 580 22 1,5
Cotton 15-40 540 28 1,5
Wool 75 170 5,9 1,32
Coir 10-20 250 5,5 1,5
Bagasse 25 180 9 1,25
Rice 5-15 100 6 1,24
Natural silk 15 400 13 1,35
Spider silk 4 1750 12,7 -
Linen - 270 - -
Sisal - 560 - -
Asbestos 0.2 1700 160 2,5

Sumber : Vasiliev & Morozov (2001)

Stark dan Rowlands (2002) mengungkapkan bahwa komposit yang diperkuat serat tanaman, sifat-sifat mekanisnya akan meningkat secara linear seiring dengan pertambahan persen berat serat, karakteristik mekanik yang meningkat adalah kekuatan mekanik yang meningkat adalah kekuatan tarik, kekuatan bending, serta kekuatan impak.

Menurut Biswas, et al. (2001), beberapa karakteristik yang juga merupakan kelebihan dari komposit yang diperkuat serat alam yaitu, 1) dapat dicat, dipoles, maupun dilaminasi, 2) tahan terhadap penyerapan air, 3) murah karena bahan baku seratnya banyak tersedia di alam dan proses pembuatannya relatif muda dan sederhana, 4) kuat dan kaku, 5) ramah lingkungan, karena materialnya merupakan bahan organik dan bisa didaur ulang secara alami oleh lingkungan, 6) memiliki kemampuan dan diproses dengan baik.

Disamping kelebihan-kelebihan di atas, komposit serat alam juga memiliki beberapa kelemahan, Rowell (1997) menyebutkan beberapa kelemahan komposit serat alam yaitu, 1) penurunan karena faktor biologi, yaitu adanya organisme yang mungkin tumbuh dan memakan karbohidrat yang terkandung dalam serat, sehingga menimbulkan enzim khusus yang akan merusak struktur serat, dan melepaskan ikatan antara serat dan matrik, 2) penurunan kualitas karena panas atau thermal, 3) penurunan panas karena radiasi ultraviolet, hal ini terjadi karena penyinaran ultraviolet akan menyebabkan meningkatnya karbohidrat dan berkurangnya lignin. Serat yang banyak mengandung karbohidrat akan memiliki kemampuan ikatan dengan matrik yang rendah, sehingga kekuatan matrik akan turun, 4) kekuatannya masih lebih rendah jika dibanding serat buatan.

Serat berperan sebagai penyangga kekuatan dari struktur komposit, beban yang awalnya diterima oleh matrik kemudian diteruskan ke serat oleh karena itu serat harus mempunyai kekuatan tarik dan elastisitas yang lebih tinggi daripada matrik. Schwartz (1984) menjelaskan bahwa serat sebagai penguat dalam struktur komposit harus memenuhi persyaratan 1) modulus elastisitas yang tinggi, 2) kekuatan patah yang tinggi, 3) kekuatan yang seragam di antara serat, 4) stabil selama penanganan proses produksi, 5) diameter serat yang seragam.

Secara teoritis komposit serat yang menggunakan serat panjang akan memberikan nilai penguatan yang lebih efisien dan seragam dibanding serat pendek karena beban yang terjadi disalurkan secara merata sepanjang serat. Namun dalam prakteknya hal tersebut sulit dicapai karena sulit didapatkan nilai kekuatan optimum sepanjang serat serta tegangan yang terjadi tidak terbagi merata ke semua serat (Schwartz, 1984).

Serat tanaman, seperti kenaf, flax dan hamp, sangat berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai penguat komposit untuk menggantikan serat gelas karena serat tanaman memiliki beberapa kelebihan, seperti dapat diperbaharui, jumlahnya berlimpah, murah, ringan, dapat didegradasi, tidak kasar untuk pembuatan peralatan, ketika dibakar menetralkan CO2 dapat dibakar dengan menghasilkan energi, tidak menyebabkan iritasi kulit, sifat mekanis yang baik, sifat akustik dan isolasi panas yang baik. Massa jenis serat tanaman adalah 40% dibawah massa jenis serat gelas (Peijs, 2002).

Menurut Building Material and Technology Promotion Council, komposisi unsur kimia serat alam yang ditunjukkan pada tabel berikut dan sifat mekanis dan dimensi dari beberapa serat alam ditunjukkan oleh tabel  di bawah ini

Komposisi unsur kimia serat alam

Serat Selulosa (%) Hemiselulosa (%) Lignin (%) Kadar air(%)
Pisang 60-65 6-8 5-10 10-15
Sabut 43 <1 45 10-12
Flax 70-72 14 4-5 7
Jute 61-63 13 5-13 12,5
Rami 80-85 3-4 0,5 5-6
Sisal 60-67 10-15 8-12 10-12
Sun hemp 70-78 18-19 4-5 10-11
Cotton 90 6 - 7

Sumber: Building Material and Technology Promotion Council

Sifat Mekanis Beberapa Serat Alam

Serat Panjang (mm) Diameter (mm) Massa jenis (Kg/m3) Modulus Youg (GPa) Kekuatan Tarik (MPa) Regangan (%)
Bambu - 0,1-0,4 1500 27 575 3
Pisang - 0,8-2,5 1350 1,4 95 5,9
Sabut 50-350 0,1-0,4 1440 0,9 200 29
Flax 500 NA 1540 100 1000 2
Jute 1800-3000 0,1-0,2 1500 32 350 1,7
Kenaf 30-750 0,04-0,09 - 22 295 -
Sisal - 0,5-2 1450 100 1100 -

Sumber: Building Material and Technology Promotion Council

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,242 other followers